RSS

Berita Pendidikan

Kemendikbud Latih 350 Ribu Master Teacher untuk Kurikulum Baru 2013

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan menerapkan kurikulum baru pada Juni 2013. Persiapannya, Kemendikbud akan melatih 350 ribu master teacher selama 6 bulan.
“Mulai dipakai kan Juni 2013, ada 6 bulan ini dipakai untuk pelatihan-pelatihan. Kita membuat master teacher, kita pilih beberapa orang berkualifikasi memadai untuk dijadikan masternya itu. Kalau kitaa memang niat, Juni harus jalan, maka seluruh sumber daya harus kita kerahkan. Man jadda wajada,” kata Mendikbud M Nuh.
Hal itu disampaikan M Nuh di sela-sela ‘Peringatan Hari Guru Nasional 2012 dan HUT ke-67 PGRI’ di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat. Acara ini dihadiri Presiden SBY dan Ibu Negara Ani Yudhoyono serta Ketua Umum PGRI Sulistyo.
Kurikulum baru ini, imbuhnya, masih uji publik sampai Desember 2012. Tahap pertama, akan didahulukan guru-guru SD, kelas 1 dan kelas 4, guru sekolah menengah kelas 7 dan kelas 10.
“Yang penting substansinya setuju nggak ini. Kalau sudah oke, tinggal urusan implementasi. Ini akan dilakukan secara bertahap. Skenario awal (kelas) 1, 4, 7, 10 untuk seluruh skolah. Dahulukan dulu guru-guru yang mengajar kelas 1 dan kelas 4. Maka platihannnya paling banter sekitar 350.000-an. Kalau urusan kesiapan guru, harus disiapkan,” imbuhnya.
Sebelumnya M Nuh mengatakan kurikulum baru ini menggunakan scientific approach, mengutamakan kemampuan bertanya dan nalar menjadi proses penting, obyek pengamatannya adalah fenomena alam dan fenomena sosial. Nilai yang ditanamkan dalam kurikulum ini adalah nilai jujur, disiplin, bersih, kecintaan terhadap lingkungan, dan nilai keindonesiaan.
Dalam Kurikulum 2013, papar M Nuh, pola pembelajaran untuk SD dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) adalah pola tematik interaktif, memberikan ruang tumbuhnya kepenasaran intelektual atau intellectual curiousity.
“Ini modal yang sangat penting dalam membangun bangsa kita. Ini akan kita lakukan bertahap. Juga, kami harapkan guru bisa sejahtera juga memiliki profesionalitas tinggi. Anak-anak didik harus membeli masa depan dengan harga sekarang, sehingga tidak perlu membayar mahal dengan harga masa datang. Kompetensi yang kita berikan adalah kompetensi yang sesuai dengan zamannya, harus ada link and match,” kata M Nuh.
==============================================================================================================
Jangan Jadikan Guru Swasta Kelinci Percobaan

Bersamaan dengan peringatan Hari Guru Sedunia pada 5 Oktober, Komunitas Guru Jawa Barat menilai masih ada diskriminasi pada guru swasta dengan guru PNS. Pemerintah seharusnya memberikan kesempatan pada guru swasta untuk memperoleh status sebagai guru PNS.
“Oleh karena itu, kami mendesak pemerintah untuk tidak menjadikan guru swasta sebagai kelinci percobaan dalam pengambilan kebijakan pendidikan khususnya tentang guru, kami menilai kebijakan pemberian tunjangan profesi bagi guru swasta masih diskriminatif,” kata Koordinator Komunitas Guru Jabar, Hartono pada acara peringatan Hari Guru Sedunia di Gedung Indonesia Menggugat (GIM) Jalan Perintis Kemerdekaan, Jumat (5/10/2012).
Selain itu, juga tidak ada kepastian pembayaran tunjangan profesi setiap bulannya serta lambannya sistem penyesuaian pangkat dan golongan bagi guru swasta (inspassing) tindakan pemerintah sudah melenceng dari Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen yang disusun dengan semangat untuk memberikan perlindungan kepada profesi guru, menghapus diskriminasi serta meningkatkan kesejahteraan dan kualitas guru.
“Pemerintah wajib memberikan kesempatan yang seluas-luasnya kepada guru sekolah swasta untuk memperoleh status sebagai guru PNS dengan tanpa meninggalkan tugasnya di sekolah swasta. Atau mungkin setidak-tidaknya memberikan hak-hak kepada guru swasta untuk memperoleh kesejahteraan yang sama dengan guru PNS,” katanya.
Pemerintah juga harus memberikan kuota yang sama bagi guru swasta untuk mengikuti program sertifikasi, pemberian tunjangan profesi dan tunjangan fungsional. Dalam hal ini tidak boleh ada diskriminasi, tidak ada perbedaan perlakuan atau pun hak-hak yang diterima oleh guru.

========================================================================================================
Kuota Sertifikasi Guru 2013 Ditambah

JAKARTA, KOMPAS.com – Kuota sertifikasi guru pada tahun 2013 bertambah 100.000 guru, menjadi 350.000 guru, dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh di Jakarta, Jumat (24/8), penambahan kuota sertifikasi guru ini untuk mengejar target penyelesaian sertifikasi guru pada tahun 2015 sesuai dengan amanat Undang-Undang Guru dan Dosen.

Peserta sertifikasi untuk tahun depan harus lolos uji kompetensi awal yang dimulai pada 2012 ini. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga akan mencari solusi pembayaran tunjangan profesi guru yang sering terlambat dan dipotong.

========================================================================================================
Guru Golongan IV/A Terancam Diberhentikan

Lhokseumawe | Harian Aceh – Guru golongan IV/a di Aceh terancam diberhentikan dari jabatan guru kalau sampai tahun 2012 tidak menyelesaikan karya ilmiah penelitian tindakan kelas (PTK). Karena itu, Kobar-GB Aceh menggelar pelatihan penulisan karya ilmiah guna menghindari kemungkinan terburuk yang akan dialami kalangan guru.

Sekretaris Koalisi Barisan Guru Bersatu (Kobar-GB) Aceh Husniati Bantasyam kepada wartawan di Lhokseumawe, Sabtu (1/10), menyebutkan, penulisan karya ilmiah PTK merupakan syarat utama pengusulan kenaikan pangkat guru. Ini diatur dalam Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 tahun 2009 tentang jabatan fungsional guru dan angka kreditnya.

Hasil penelusuran Kobar-GB Aceh, kata Husniati, banyak guru golongan IV/a di sejumlah kabupaten/kota di Aceh yang terhambat pangkat karena belum mampu menulis karya ilmiah PTK. “Ada guru yang sudah 10 tahun tertunda pangkatnya akibat kendala tersebut,” kata Husniati di sela-sela workshop penulisan karya ilmiah PTK untuk guru Aceh Utara.

Workshop tersebut juga akan digelar Kobar-GB Aceh di Aceh Timur, Pidie Jaya, Lhokseumawe, Nagan Raya, Banda Aceh dan daerah lain.

Kalau sudah diberhentikan dari jabatan guru, kata Husniati, maka yang bersangkutan tidak boleh lagi jadi tenaga pengajar sehingga hanya berstatus pegawai negeri sipil biasa. Mulai tahun 2013, dia melanjutkan, Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 tahun 2009 juga akan diberlakukan terhadap guru mulai dari golongan atau pangkat III/a.

Ketua Kobar-GB Aceh Sayuti Aulia saat dihubungi ke telpon genggamnya menambahkan selama ini pemerintah sudah memberi tunjangan kepada para guru sebesar satu kali gaji pokok. Artinya, kata dia, kalau gaji guru Rp3 juta per bulan maka ditambah dengan tunjangan Rp3 juta.

Karena itu, lanjut Sayuti Aulia, semua guru harus profesional atau memiliki kemampuan yang handal. Untuk meningkatkan profesionalitas tersebut, kata dia, pihaknya menggelar pelatihan penulisan karya ilmiah PTK dengan menghadirkan narasumber dari Dinas Pendidikan Aceh. “Dari dua hari pelatihan kita harapkan para guru di Aceh Utara dari golongan IV/a itu minimal mampu menulis dua atau tiga BAB laporan karya ilmiah PTK, kemudian bisa terus berkomunikasi dengan narasumber guna menyelesaikan penulisan laporan,” kata Sayuti Aulia
________________________________________________________________________________________________________
Bantuan Pemerintah untuk Perguruan Tinggi Swasta Diatur Proporsional

JAKARTA, (PRLM).-Bantuan pemerintah kepada Perguruan Tinggi Swasta (PTS) diatur secara proporsional. Hal ini sebagaimana diatur dalam UU Pendidikan Tinggi yang telah disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat.

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dirjen Dikti Kemdikbud) Djoko Santoso di Jakarta, Selasa (24/7) menuturkan, bantuan itu di antaranya tentang pembayaran dosen profesional, yang artinya sudah mempunyai sertifikasi dosen.

Itu dibayar oleh pemerintah. Kemudian, tunjangan guru besar tidak memilah lagi antara swasta dan negeri. “Artinya secara proporsional pemerintah membantu perguruan tinggi swasta,” katanya pada sebuah dialog interaktif, sebagaimana siaran pers yang diterima “PRLM” di Jakarta, Selasa (24/7).

Djoko mengatakan, kedudukan dosen negeri dan dosen swasta juga sama untuk mengembangkan kemampuan dan menempuh ke jenjang pasca sarjana.

Pada sisi lain, pemerintah juga masih memberikan bantuan berupa hibah-hibah untuk pengembangan ke perguruan tinggi. “Undang-Undang ini pun mengatur tentang penelitian. Tidak hanya ditujukan kepada PTN, tetapi juga PTS,” katanya.

Terkait dengan bantuan penelitian , Djoko menjelaskan,alokasi yang diberikan sedikitnya sebanyak 30 persen dari bantuan operasional PTN digunakan untuk dana penelitian di PTN dan PTS.

Di sisi lain, kata dia, ada alokasi dana yang digunakan untuk penelitian yang menjadi fokus pemerintah untuk tujuan tertentu.
“Misalnya mobil listrik, (pemerintah) bisa mengalokasikan untuk penelitian dan pengembangannya,” katanya.

Adapun alokasi dana bagi perguruan tinggi yang tidak di bawah Kemdikbud, seperti perguruan tinggi agama misalnya, akan diatur melalui peraturan pemerintah tersendiri melalui Kementerian Agama.

Sementara dana bagi perguruan tinggi yang dikelola oleh kementerian dan lembaga lain dipisahkan melalui rapat di Komite Pendidikan
_________________________________________________________________________________________________________
Tahun 2013, Kuliah di PTN Jadi Murah

JAKARTA, (PRLM).- Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Djoko Santoso mengatakan, mulai tahun 2013 mendatang, para mahasiswa di perguruan tinggi negeri (PTN) hanya akan dibebankan biaya SPP. Biaya lainnya telah ditutupi oleh dana Bantuan Operasional (BO) PTN.

“Kami sedang merancang, menghitung semuanya. Kami optimis bisa terealisasi mulai 2013,” kata Djoko di gedung Kemdikbud Jakarta, Senin (16/7/12) malam.

Selama ini kata Djoko, negara selalu menerima sekitar Rp12 triliun setiap tahunnya dari hampir semua PTN. Dana tersebut masuk dalam kategori Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Setengah dari jumlah tersebut berasal dari tujuh Perguruan Tinggi Badan Hukum Milik Negara (PT BHMN). Dan sisanya, sekitar Rp6 triliun merupakan akumulasi dana yang diperoleh dari mahasiswa, mencakup biaya pendaftaran, SPP, sumbangan pembangunan gedung, hibah penelitian, dan lain-lain, yang berasal dari puluhan PTN.

“Perhitungan kami soal PNBP itu sekitar Rp12 triliun. Setengah dari jumlah itu telah ditutup oleh mahasiswa di puluhan PTN,” ujarnya.

Djoko menjelaskan, pemerintah sendiri, tahun ini telah menggelontorkan dana BO PTN hampir mencapai Rp1,5 triliun. Tahun depan, pemerintah akan meningkatkan jumlahnya sekitar Rp3,5 triliun melalui APBN 2013.

“Saya pikir sudah cukup menutupi, maka tahun depan semua mahasiswa hanya bayar biaya SPP saja,” ujarnya.

Sama halnya dengan dana bantuan operasional di jenjang pendidikan dasar dan menengah, BO PTN juga digunakan untuk menutupi biaya operasional pendidikan tinggi. Biaya-biaya itu di antaranya, pengembangan dan pemeliharaan sarana serta prasarana, gaji tenaga honorer, dan hal lainnya yang berkaitan dengan perkuliahan.

Kebijakan mengenai BO PTN telah diatur Undang-Undang Pendidikan Tinggi (UU Dikti) yang baru disahkan akhir pekan lalu dalam sidang paripurna DPR. UU ini awalnya bernama UU Perguruan Tinggi, tetapi dengan alasan untuk mencakup sasaran yang lebih luas, maka UU tersebut kemudian berubah nama menjadi UU Dikti
_________________________________________________________________________________________________________
Pembentukan Karakter Masuk Materi Kuliah

BANDUNG, (PRLM).- STMIK AMIK Bandung Jln. Jakarta, Kota Bandung, menggelar pelatihan pembentukan karakter, Rabu (18/7). Materi pembentukan karakter juga masuk dalam mata kuliah sebagai upaya melengkapi “soft skill” mahasiswa.

“Saat ini hal yang dibutuhkan mahasiswa bukan hanya hard skill atau nilai akademik, namun juga soft skill seperti kemampuan berkomunikasi, sosialisasi, menyampaikan pendapat, dan lain-lain,” kata Wakil Ketua STMIK AMIK Bandung, Solikin, di ruan kerjanya, Rabu (18/7).

Pelatihan diikuti para mahasiswa STMIK AMIK Bandung maupun masyarakat luar dengan pemateri Mas Nonot. “Kami membuka diri apabila ada komunitas yang ingin mendapatkan pelatihan pembentukan karakter ini. Seminggu lalu kami bekerja sama dengan Pemkot Cimahi juga menggelar pelatihan untuk seniman dan budayawan Kota Cimahi,” katanya.
__________________________________________________________________________________________________________
Pemberitahuan Uji Kompetensi Guru Sertifikasi 2012

Guru sebagai ujung tombak pelaksanaan pendidikan menjadikan peran yang sangat penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Tuntutan peran guru tersebut menjadi semakin besar dengan telah dicanangkannya guru sebagai profesi oleh Presiden pada tanggal 4 Desember 2004. Sehingga pada tahun 2005 terbitlah Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Sehubungan dengan hal tersebut, kebijakan Pemerintah dalam pembinaan dan pengembangan profesi guru telah dilakukan melalui berbagai upaya.

Profesionalisme guru diselenggarakan melalui pengembangan diri yang dilakukan secara demokratis, berkeadilan, tidak diskriminatif, dan berkelanjutan dengan menjunjung tinggi hak asasi manusia dan kode etik profesi. Pengembangan keprofesian berkelanjutan melalui upaya peningkatan kompetensi guru yang dilaksanakan dan diperuntukan bagi semua guru baik yang sudah bersertifikat maupun belum bersertifikat. Sehubungan dengan itu, uji kompetensi guru (UKG) dilakukan untuk pemetaan kompetensi, pengembangan keprofesian berkelanjutan (PKB) dan sebagai entry point penilaian kinerja guru (PKG). Dengan demikian UKG bukan merupakan resertifikasi atau uji kompetensi ulang maupun untuk memutus tunjangan profesi

Bagi peserta UKG (uji Kompetensi Guru) yang sudah tersertifikasi peserta sertifikasi Tahun 2006 s/d 2011 dapat melihat di WEB:

http://ukg.kemdikbud.go.id

http://bpsdmpk.kemdikbud.go.id/ukguru

__________________________________________________________________________________________________________
Anjab dan ABK Starting Point Penataan PNS
Kamis, 12 April 2012 09:44

Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (MenPAN & RB), Azwar Abubakar mengungkapkan bahwa workshop analisis jabatan (Anjab) bagi sekitar 4.000 tenaga analis kepegawaian ditargetkan rampung pada April 2012. “Para tenaga analis jabatan tersebut diharapkan mampu melaksanakan tugas dalam bidang evaluasi jabatan untuk menghasilkan pemeringkatan jabatan (grading) sebagai tahapan untuk memberikan tunjangan secara adil (equal pay equal work),” ungkap Azwar Abubakar di hadapan 240 orang tenaga Analis Kepegawaian dari 80 Instansi Pemerintah Pusat saat membuka Workshop Analisis Jabatan di Aula Lembaga Administrasi Negara (LAN) Jalan Veteran-Jakarta awal April 2012 ini.

Azwar Abubakar menegaskan bahwa untuk melaksanakan program penataan PNS harus dilakukan melalui analisis jabatan (Anjab) dan analisis/perhitungan beban kerja (ABK). “Hal ini sangat penting dan mendasar serta merupakan starting point,” jelas Azwar Abubakar. Analisis jabatan dan perhitungan beban kerja, menurut Azwar Abubakar merupakan titik awal dalam perencanaan pegawai, promosi, penyusunan sasaran kinerja pegawai, pendidikan dan pelatihan (Diklat), remunerasi dan penataan organisasi.

31 Desember 2012 moratorium PNS akan berakhir, namun hingga saat ini belum banyak instansi yang belum malaporkan hasil analisis jabatan dan analisis beban kerja, maka KemenPAN & RB dan BKN yang dimotori oleh Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kepegawaian (Pusdiklat BKN) membantu menyiapkan sekurang-kurangnya 4.125 orang tenaga analis jabatan. Jumlah tersebut dilatih secara bertahap terhadap 5 sampai dengan 7 PNS dari masing-masing instansi mulai dari Desember 2011 hingga April 2012.

Dalam pembukaan Workshop Analisis Jabatan di LAN Jakarta tersebut Azwar Abubakar kembali menegaskan bahwa Tenaga Analis Jabatan ini peranannya sangat penting dalam upaya melakukan reformasi birokrasi di bidang SDM Aparatur. “Hasil pekerjaan dari tenaga analis jabatan ini berupa job describtion dan peta jabatan serta hasil perhitungan beban kerja,” tegas Azwar Abubakar.

Secara terpisah Wakil Kepala BKN Eko Sutrisno mengharapkan para peserta Workshop untuk dapat menyediakan informasi jabatan sebagai fondasi/dasar bagi program manajemen kepegawaian, kelembagaan, ketatalaksanaan dan pengawasan. Selanjutnya para peserta harus mampu melakukan penghitungan dan proyeksi kebutuhan pegawai pada instansi masing-masing dan juga dapat menganalisis kesenjangan antara profil PNS dengan syarat jabatan.

Eko Sutrisno menambahkan bahwa perlunya penentuan kategori jumlah pegawai pada instansi masing–masing dengan membandingkan antara hasil penghitungan kebutuhan pegawai setiap jabatan dengan jumlah pegawai yang ada, berupa kategori jumlah pegawai kurang (K), sesuai (S) dan lebih (L). “Pemetaan dan penataan PNS membutuhkan keseriusan dan keuletan dalam melaksanakannya serta melakukan transfer pengetahuan dan keterampilan yang telah diperoleh dalam workshop ini,” tandas Eko Sutrisno, “Sehingga pada akhir bulan Juni 2012, telah tersusun proyeksi kebutuhan pegawai hingga 5 tahun ke depan,” imbuhnya.(bal/kiss)
___________________________________________________________________________________________________________
Verifikasi & Validasi Ulang, Mungkinkah…???
Selasa, 17 April 2012 09:11

Jakarta-Humas, Pasca diterbitkannya SE Menpan No.03 Tahun 2012, BKN dibanjiri permintaan audiensi dari berbagai daerah di Indonesia. Pada Kamis, 12 April 2012 BKN berkesempatan bertatap muka dengan rombongan dari Kabupaten Lahat dan Ogan Komering Ilir (OKI). Rombongan yang berjumlah hampir 60 orang tersebut diterima oleh Direktur Pengendalian Kepagawaian II, Sujarwo dan Kepala Biro Humas dan Protokol, Aris Windiyanto. Agenda kunjungan kedua daerah ini tidaklah berbeda dengan kunjungan yang dilakukan DPRD lainnya yakni mempertanyakan seputar kelanjutan nasib para tenaga honorer yang TMK. Kabupaten Lahat mendapati 136 orang TH yang seharusnya MK tetapi TMK padahal semua berkas yang dilampirkan sama dan dapat dipertanggungjawabkan.

Permasalahan tersebut tak pelak menimbulkan gejolak sosial di Lahat, demikian yang dijelaskan oleh Bupati Kab Lahat Syarfudin Aswari. Kondisi nyaris serupa juga dialami Kab. OKI yang disampaikan perwakilan Komisi I DPRD OKI, Taskiah menjelaskan bahwa dari 284 orang yang diajukan hanya 274 orang yang MK, sedangkan 10 orang lainnya TMK. Ketika hal ini dipertanyakan kepada BKD, instansi tersebut tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan. Tidak hanya mengenai status TMK, Sunardi, perwakilan dari BKD Lahat juga meminta penjelasan mengenai guru bantu yang dapat mengikuti pendataan, mengingat guru bantu ini mengajar di sekolah swasta.

Menanggapi keluh kesah para wakil rakyat tersebut, Sujarwo menjelaskan bahwa data K1 nasional sebanyak 152.310 orang sedangkan K2 melebihi 600.000 orang. Mengingat angka yang demikian besar dijelaskan bahwa pemerintah tidak sanggup mengakomodir semua harapan TH untuk menjadi PNS. Untuk itu lah dilakukan verifikasi dan validasi, khusus untuk K2 ada wacana untuk dilakukan tes. Menyinggung tentang guru bantu yang masih banyak salah tafsir, dipaparkan oleh Deputi Pengendalian Kepegawaian II ini bahwa guru bantu yang dimaksud dalam K1 adalah guru bantu nasional, memiliki SK pengangkatan dari Menteri Pendidikan Nasional serta mempunyai nomor induk guru bantu (NIGB).

Audiensi yang bertempat di ruang rapat Gedung I lantai 2 BKN Pusat ini berlangsung selama lebih dari 2 jam. Beberapa yang menjadi catatan penting antara lain bahwa DPRD Kab Lahat mendesak untuk dilakukannya verifikasi dan validasi ulang terhadap ke-136 orang TH mereka. Selain itu mereka juga berkeinginan untuk melakukan audiensi dengan Wakil Kepala BKN atau Deputi Pengendalian Kepegawaian. Atas desakan tersebut, Kepala Biro Humas dan Protokol selaku fasilitator audiensi mempersilakan mereka untuk mengajukannya secara tertulis. Berkenaan dengan keinginan untuk dilakukan verifikasi dan validasi ulang (review) Aris Windiyanto menjelaskan bahwa hal itu untuk saat ini belum bisa diputuskan tapi akan menjadi rekomendasi untuk dilaporkan kepada Wakil Kepala BKN.(din)
_____________________________________________________________________________________________________________
Honorer K1 dan K2 Perlu Waspadai Penipuan
Selasa, 17 April 2012 11:23

Jakarta-Humas BKN, “Jika ada orang yang mengaku-ngaku sebagai pegawai Badan Kepegawaian Negara (BKN) dan bilang bisa bantu proses pengangkatan CPNS dari pegawai honorer, itu bohong besar. Laporkan Polisi. Tangkap!“ tegas Direktur Perencanaan PerUndang-Undangan BKN English Naenggolan saat menemui kunjungan kerja Komisi A DPRD Tapanuli Utara (Taput), Jumat (13/4) di Kantor Pusat BKN Jakarta.

Ketua DPRD Taput Fernando Simanjuntak (kiri) dan Direktur Perencanaan PerUndang-Undangan BKN English Naenggolan dalam audiensi kunjungan kerja Komisi A DPRD Taput.

Ketua Komisi A DPRD Taput Jasa Sitompul mengugkapkan bahwa terdapat beberapa tenaga honorer di Taput ada yang sudah meninggal dan ada yang mengaku bisa meengganti data tersebut dengan orang laini. Bahkan terkait K1 dan K2, Jasa Sitompul memaparkan adanya orang yang mengaku sebagai pegawai BKN (oknum-red) mengatakan bisa membantu pengangkatan tenaga honorer menjadi CPNS. “BKN diharapkan lebih jernih dalam mengambil pertimbangan kebijakan, sehingga tidak merugikan yang berhak,” jelas Jasa Sitompul.

Menanggapi permasalahan tersebut, English Naenggolan menyampaikan bahwa data hasil verifikasi dan validasi (Verval) yang diumumkan saat ini bukan semata-mata data dari BKN akan tetapi merupakan data usulan dari unit pengelola kepegawaian baik pusat maupun daerah. English Naenggolan menambahkan bahwa data hasil Verval merupakan hasil kerja BKN dan BPKP dan kebenaran materiil ada pada instansi. Sehingga menurut E. Naenggolan permasalahan tenaga honorer diharapkan diselesaikan di daerah. “BKD bertanggung jawab penuh atas data tenaga honorer di daerahnya,” ungkap E. Naenggolan. “Agar berhati-hati, saat ini sudah lebih banyak Penipu daripada yang ditipu!” tegas E. Naenggolan, “Termasuk pembuat kelengkapan administrasi asli tapi palsu (aspal) tentang K1 dan K2 merupakan kejahatan administrasi, Usut! Tangkap! Periksa!” tegasnya.

Untuk diketahui bahwa salah satu alasan terbitnya SE MenPAN & RB Nomor: 03 Tahun 2012 yakni adanya pengaduan beberapa elemen masyarakat atau pejabat tertentu terkait masih adanya dugaan pemalsuan dokumen pengangkatan sebagai tenaga honorer K1 yang MK.

SE 03 tersebut mengamanatkan apabila dikemudian hari diketemukan data tenaga honorer yang palsu, maka dokumennya tidak dapat diproses sebagai dasar pengangkatan menjadi CPNS atau pengangkatanya dibatalkan. Sementara bagi pejabat yang menandatangani dokumen pengangkatan tenaga honorer yang terbukti telah memalsukan dikenakan tindakan administratif dan tindak pidana sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Dengan terbitnya SE 03 tersebut maka diminta kepada pimpinan instansi untuk mengambil langkah-langkah diantaranya mengumumkan tenaga honorer yang MK melalui papan pengumuman, media cetak lokal dan media on line selama 14 hari kepada publik. (bal)
____________________________________________________________________________________________________________
Sertifikasi Guru Wahana Pertobatan Guru

Data Ditjen PMPTK Depdiknas, lebih sepertiga dari 2,6 juta guru di Indonesia tidak layak mengajar karena mismatch, ialah kualifikasi dan kompetensinya tidak mencukupi untuk mengajar.

Mismatch dari sisi kualifikasi akademik dapat dirujuk pada UUGuru dan Dosen. Pasal 9 menyebutkan, kualifikasi akademik guru diperoleh melalui pendidikan program sarjana atau diploma empat. Dengan kata lain, guru dikatakan memenuhi kualifikasi akademik apabila berpendidikan serendah-rendahnya S-1 atau D-IV. Ketentuan UU ini tidak memandang apakah ia guru TK, SD, SMP ataupun SMA/K.

Fakta di lapangan menunjukkan, rata-rata guru TK dan SD berpendidikan SPG, D-I atau D-II. Bahkan dapat ditemukan guru TK dan SD lulusan SMA atau SMK. Tidak sedikit guru SMP dan SMA/K yang berpendidikan D-I, D-II, PGSLP, PGSLA, sarjana muda dan D-III.

Terlebih jika ketidaksesuaian mengampu matapelajaran dijadikan indikator mismatch. Banyak guru yang mengampu matapelajaran tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Guru matematika dengan latar belakang pendidikan fisika, atau guru sosiologi berasal dari latar belakang pendidikan geografi masih banyak ditemukan di sekolah. Guru bimbingan dan konseling yang tidak berpendidikan bimbingan dan konseling hampir dapat ditemui di setiap sekolah.

Seringnya kurikulum dirubah diperkirakan menjadi salah satu sebab guru mengajar tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan. Perubahan kurikulum selalu diikuti oleh hilangnya matapelajaran tertentu dan munculnya matapelajaran baru. Ketika matapelajaran baru muncul dan LPTK belum menyiapkan guru untuk matapelajaran dimaksud, maka dengan terpaksa sekolah memanfaatkan guru yang ada, termasuk di dalamnya untuk maksud memberi tugas kepada guru yang matapelajarannya hilang.

PLPG
Mengingat guru yang tidak memenuhi kualifikasi dan kompetensi jumlahnya sangat besar, perlu diupayakan terobosan. Sertifikasi guru dalam jabatan merupakan salah satu bentuk terobosan dimaksud. Pendidikan dan Latihan Profesional Guru (PLPG) yang merupakan bagian proses sertifikasi guru ternyata berdampak positif meningkatkan kualitas dan kompetensi guru.

PLPG meruapakan jawaban atas berbagai kritik tajam sertifikasi guru yang selama ini ditimpakan. Sertifikasi yang semula dapat meloloskan guru profesional hanya dengan penilaian portofolio tanpa memperhatikan secara seksama kualifikasi akademik dan latar belakang matapelajaran, akhirnya dapat ditemukan formula yang lebih baik. Setinggi apapun skor penilaian portofolionya, jika aspek-aspek kualifikasi kompetensi akademik, pedagogik, kepribadian, dan sosial, tidak memenuhi standar yang ditetapkan maka tidak dapat dinyatakan lulus.

PLPG adalah gerbang selanjutnya yang harus dilewati bagi yang dinyatakan tidak lulus penilaian portofolio. Pengamatan penulis, peserta PLPG pada awal kegiatan diklat tidak sedikit yang menunjukkan sikap apatis, jengkel, geram, bahkan marah. Penyebabnya mereka harus ikut PLPG karena tidak lulus penilaian portofolio. Namun setelah dijalani, tidak sedikit diantara mereka seperti terbelalak mata. Ternyata kinerja mereka selama ini masih benar-benar sangat jauh dari sosok ideal guru dan/atau konselor profesional. Dalam PLPG itulah mereka mendapat pencerahan atas pembaharuan teori, konsep, dan praktik melaksanakan tugas profesional.

Tidak kurang diantara peserta PLPG menyarankan tidak perlu sertifikasi guru dengan penilaian portofolio. Semua proses sertifikasi guru dalam jabatan sebaiknya melalui PLPG. Dalam PLPG benar-benar penguasaan teori dan konsep serta keterampilan pembelajaran dan konseling terbarukan. Melalui proses penilaian yang obyektif dan transparan dapat diukur kompetensi seorang guru. Jika kemudian ternyata banyak yang tidak lulus, itulah bukti bahwa pelaksanaan PLPG bukan sekadar formalitas.

PLPG sebagai salah satu cara menetapkan profesionalitas guru oleh LPTK setidaknya telah mampu membangkitkan motivasi guru untuk melaksanakan tugas lebih baik. Dapat dikatakan sertifikasi guru melalui PLPG telah mampu mengantarkan pertobatan para gurumismach. Mereka telah kembali ke jalan yang benar, atau setidaknya mereka telah mengetahui jalan yang benar itu
———————————————————————————————————————–
Sarjana Palsu dengan Mental Tempe

Tempo ini sejumlah media massa mengangkat isu pemalsuan tugas akademik, terutama skripsi dan tesis, sebagai syarat kelulusan pendidikan di universitas. Tentu saja, maraknya kecurangan itu wajib dipermasalahkan. Tapi, di saat yang sama, saya juga gatal untuk bertanya kepada perusahaan media massa yang mengangkat isu itu: apakah mereka mensyaratkan pendidikan S1 untuk calon pegawai mereka? Jika ya, maka keprihatinan mereka adalah keprihatinan yang percuma.

Kenapa ?

Karena, syarat pendidikan minimal S1 yang disyaratkan banyak perusahaan, adalah penyebab utama dari pemalsuan tugas-tugas akademik itu. Oke, tentu saja ada pos-pos pekerjaan yang hanya mensyaratkan pendidikan D3 atau bahkan SMA. Tapi semua orang tahu, itu adalah pos-pos terendah. Untuk mendapatkan gaji yang layak, Anda harus lulus universitas. Ini syarat umum yang diterapkan oleh hampir seluruh perusahaan di Indonesia. Bahkan sejumlah perusahaan mensyaratkan IP tertentu. Konyol!

Hal ini membuat penilaian kualitas seseorang ditentukan oleh selembar ijazah, bukan oleh kompetensinya. Ijazah menjadi seperti tiket nonton pertandingan sepakbola. Tak penting Anda suka bola atau tidak, bukan masalah Anda mau bikin kerusuhan di dalam, tak penting Anda copet yang datang hanya untuk menguras kantong penonton lain, tak penting Anda membeli tiket dari calo… selama Anda memegang tiket itu, Anda boleh masuk stadion. Sementara yang benar-benar ingin memberi dukungan, yang tahu benar akan sepakbola, atau anak kecil yang punya obsesi menjadi pemain besar… selama mereka tak punya tiket, ke laut aja.

Dalam hal menonton sepakbola, hal itu tak bisa dihindari. Tapi, dalam penyaringan calon pegawai, itu bisa dihindari. Menghapus persyaratan S1 tak akan menurunkan kualitas pegawai yang Anda terima, percayalah. Toh para calon pegawai harus melewati serangkaian tes, perusahaan bisa membuat tes yang benar-benar mampu memfilter mereka yang kompeten. Kalau pun ada kesalahan dalam tes yang begitu banyak itu, ada masa magang selama 9 bulan. Ada kesempatan untuk menilai mereka lebih dalam.

Dan, yang terpenting, ijazah S1 sama sekali tak menggambarkan kualitas seseorang. Anda mungkin berkata, “Loh, ijazah S1 adalah salah satu cara untuk menentukan kompetensi seseorang. Jika sarjana saja banyak yang tak berkualitas, apalah lagi mereka yang hanya tamat SMA.” Untuk mereka yang berkata seperti ini, saya akan sodorkan kepada mereka sejumlah orang yang amat berkualitas meski mereka bukan sarjana. Serius, kualitas mereka (secara teknik dan etos kerja) jauh lebih baik dari rekan-rekan mereka yang lulus S1 atau bahkan pascasarjana. Tentu saja, ada pengecualian. Pekerjaan di bidang akademis (dosen atau peneliti) tetap harus diisi oleh para sarjana.

Selama perusahaan-perusahaan masih mensyaratkan pendidikan S1 dalam iklan lowongan kerja mereka, selama itu pulalah gelar sarjana menjadi tuhan. Apapun dilakukan agar mendapatkan gelar itu. Tak penting caranya. Mau tugas skripsinya dibuatkan orang lain, mau otak mereka sekosong bola kempis, sebodo amat. Toh nantinya yang dilihat oleh SDM di perusahaan-perusahaan itu adalah ijazan dan IP mereka. SDM tidak bertanya, “Kamu lulus dengan memakai skripsi buatan sendiri atau buatan tukang ketik di Jalan Pramuka?” Kalau pun hal itu ditanyakan, kita bisa menjawab: “Ya buat sendirilah.”

Jadi, daripada menerima para sarjana palsu dengan mental tempe yang bikin skripsi saja harus bayar orang lain, lebih baik membuka diri seluas-luasnya. Beri kesempatan kepada lulusan SMA/SMK yang cerdas dan berdedikasi tapi tak mampu masuk universitas karena uang pangkalnya mahal selangit.

———————————————————————————————————————–
Menulis Artikel IPTEK di Media

Hampir setiap suratkabar harian dan mingguan memuat berita-berita dan artikel populer ilmu pengetahuan dan teknologi. Berbeda dengan dekade sebelumnya, berita dan tulisan iptek tidak lagi dipandang sebagai suatu yang eksklusif, tetapi sudah menjadi bacaan bagi masyarakat luas. Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang didorong oleh teknologi informasi seperti Internet, berhasil menggugah keingintahuan masyarakat terhadap sains.

Belum lagi peristiwa-peristiwa alam, mulai dari banjir, gempa bumi, wabah penyakit, hingga kecelakaan pesawat terbang, yang semuanya itu bisa dijelaskan melalui pendekatan sains, membuat masyarakat mulai akrab misalnya dengan istilah daya dukung lingkungan (carrying capacity), daerah tangkapan air (DTA), retakan bawah di permukaan bumi, evolusi virus, hingga istilah-istilah teknis dalam penerbangan (aviation). Masyarakat ingin tahu lebih banyak soal itu dengan tujuan bisa melakukan antisipasi jika suatu saat hal itu dialaminya sendiri.

Maka tidaklah mengherankan, media massa terus mencoba memenuhi kebutuhan pembacanya akan sajian-sajian Iptek. Dengan intensitas dan visi redaksional yang berbeda-beda, setiap media akan mencoba menyajikan tulisan-tulisan Iptek sesuai selera dan segmen pembacanya. Namun, dalam fungsinya sebagai media massa – dan bukan sebagai jurnal ilmiah untuk komunitas ilmuwan tertentu saja – tulisan-tulisan tersebut tentulah ditampilkan dengan bahasa dan gaya penulisan yang populer.

Jika berita-berita Iptek – yang bisa berupa laporan peristiwa, wawancara maupun hasil penelitian para ilmuwan dan peneliti – disiapkan oleh redaksi media massa itu sendiri, sebaliknya artikel iptek berasal dari luar media, yakni dari para penulis, peneliti, ilmuwan, dan pencinta iptek.

Berbeda dengan umumnya staf redaksi media yang lebih berbekal pengalaman riset, wawancara dan reportase di lapangan, kalangan penulis luar ini berasal dari disiplin ilmu dan latar pendidikan yang memadai. Mereka ini adalah ilmuwan itu sendiri. Karenanya, para penulis ini dituntut menulis lebih mendalam, tajam, akurat, dan tentu saja dengan gaya penulis yang populer sehingga lebih mudah dimengerti masyarakat luas.

Media massa nasional misalnya, pada umumnya menyediakan tempat yang luas untuk pemuatan artikel-artikel iptek populer ini. Namun masalahnya, mereka kesulitan mendapatkan artikel iptek yang menarik dari segi topik, baru dari segi sudut pandang (angle) dan aktual dari segi peristiwanya. Tidak sedikit artikel-artikel yang bagus dari sisi kajiannya, tapi tak bisa dimuat karena sama sekali tidak relevan dengan peristiwa yang sedang terjadi di tengah masyarakat.

Bagi para peneliti dan ilmuwan yang ingin tulisannya dimuat di media massa, kecermatan memperhatikan kriteria artikel yang layak muat sangat diperlukan. Sebetulnya hal itu bisa dipelajari sendiri dengan cara mencermati artikel-artikel yang sudah dimuat. Coba perhatikan, kira-kira apa yang menarik dari artikel yang sedang Anda baca itu sehingga dimuat di suratkabar?

Berikut beberapa kriteria utama bagi artikel-artikel iptek yang bisa dipertimbangkan untuk dimuat:

Aktual
Hal pertama yang diperhatikan redaktur media ketika menerima kiriman artikel adalah aktualitasnya. Adakah newspeg-nya? Adakah cantolan aktualitasnya pada peristiwa atau kegiatan yang sudah dan sedang berlangsung? Newspeg ini bisa berupa peristiwa itu sendiri, misalnya wabah demam berdarah, banjir, pendaratan wahana robotik di Mars atau bisa juga berupa aktivitas ilmiah seperti adanya kongres ilmuwan nasional maupun dunia mengenai suatu topik ilmu. Peristiwa penganugerahan Hadiah Nobel juga bisa dijadikan peg, bisa ke peristiwanya sendiri, atau terkait pada temuan ataupun biografi para pemenang Nobel itu sendiri. Jadi, jika “tidak ada angin, tidak ada ribut” tiba-tiba Anda menulis tentang bioteknologi misalnya, tulisan Anda tidak akan berada pada daftar prioritas yang akan dimuat. Jika tulisan Anda tentang bioteknologi ini benar-benar bagus, tapi tidak aktual, ada kalanya redaktur menyimpannya dulu sambil menunggu peg-nya, baru kemudian dimuat. Tapi ini jarang sekali terjadi, sebab begitu tulisan Anda dinilai tidak aktual, biasanya segera diputuskan untuk tidak dimuat atau dikembalikan kepada Anda

Mengandung unsur baru
Jika tulisan Anda sudah aktual, hal lain yang akan diperhatikan redaktur adalah adakah unsur baru dalam tulisan tersebut. Unsur baru ini bisa dilihat dari angle (sudut pandang) tulisan – dalam penulisan karya ilmiah angle ini mungkin mirip dengan perumusan masalah – maupun data-data dan informasi baru yang disajikan. Apakah angle tulisan Anda menarik atau tidak? Sekarang kita ambil contoh. Taruhlah Anda ingin menulis soal wabah flu burung. Jika Anda mengambil angle soal karakteristik flu burung ini, angle serupa pasti banyak dipilih oleh penulis lain. Akibatnya, tulisan Anda harus bersaing dengan para penulis lain, syukur-syukur bisa lolos.

Namun, jika Anda memilih angle yang lain, yang menurut Anda pasti tidak banyak diperhatikan oleh penulis lain, berarti Anda sudah selangkah lebih maju dan kemungkinan tulisan Anda untuk dimuat tentu lebih besar lagi. Lalu, seperti apa misalnya angle yang tampil beda itu? Banyak sekali. Anda misalnya, bisa memilih angle evolusi yang sedang berlangsung. Jika dulu, virus tertentu hanya bisa berpindah antara sesama hewan, kini sudah terjadi perpindahan antara hewan dan manusia dengna merujuk ada kasus mad cow, SARS dan flu burung (jadi wabah SARS atau flu burung sebagai peg saja). Jika Anda berhasil mengungkapkan argumen yang meyakinkan soal evolusi virus, akan sulit bagi redaktur untuk tidak memuat tulisan Anda.

Kerangka atau sistematika tulisan
Secara substansial, tidak ada perbedaan antara kerangka penulisan artikel iptek populer dengan artikel ilmiah; setidaknya mengandung tiga komponen utama, yakni pendahuluan, bagian isi dan bagian akhir yang berisi kesimpulan dan saran. Namun untuk artikel iptek populer, pemisahan itu sengaja dibuat tidak begitu nyata. Artinya, Anda tidak perlu menulis sub-judul dalam tulisan dengan Pendahuluan, Isi dan Penutup, tetapi bisa Anda ganti sub-judul lain yang lebih menarik, tapi tetap mengandung ketiga komponen di atas. Makin rajin Anda menulis artikel populer, pasti Anda akan terbiasa dengan dengan struktur penulisan yang sesungguhnya tidaklah asing bagi Anda.

Gaya penulisan
Jika tulisan Anda sudah aktual dan mengandung unsur baru, langkah berikutnya yang harus diperhatikan adalah gaya penulisan. Sering kali tulisan yang menarik tapi harus ditolak hanya karena gaya penulisannya sangat “academic-heavy” dan dipenuhi dengan istilah-istilah yang tak disertai padanannya dalam bahasa Indonesia. Anda harus membayangkan, redaktur tidak punya banyak waktu untuk mengedit kembali tulisan Anda, jadi dia cenderung akan memuat tulisan yang sudah jadi dan siap muat saja. Karenanya, cobalah tulis gagasan dan pemikiran Anda dalam bahasa yang sederhana, populer dan hidup. Tempatkan diri Anda sebagai pembaca awam ketika Anda sedang memeriksa hasil akhir tulisan Anda. Kalau Anda merasa istilah yang digunakan masih terlalu “berat”, carilah padanan lain yang yang lebih pas – tentunya dengan tidak mengurangi makna ilmiah yang sebenarnya.

Bahan pendukung
Jangan lupa melengkapi tulisan Anda dengan dengan bahan, foto, gambar, grafik, ilustrasi dan tabel pendukung. Ingat, sebagai artikel iptek, Anda tentu berurusan dengan data, skema, angka, rumus dan referensi tertentu, yang dapat mendukung argumen Anda dalam tulisan tersebut dan Anda merasa hal itu penting untuk diketahui masyarakat.

Untuk menyiasati hal di atas, memang harus dimulai dari diri Anda sendiri. Tidak mungkin Anda bisa mendapatkan topik tulisan yang aktual jika Anda tidak mengikuti perkembangan yang terjadi. Jadi cobalah untuk mengkliping berita maupun tulisan yang menarik dan cocok dengan minat Anda. Semakin kaya referensi yang Anda gunakan, akan semakin hidup dan menatik tulisan yang Anda sajikan.

Selain itu, hal-hal nonteknis juga berperan dalam mendorong bermunculannya penulis-penulis iptek andal. Anda harus punya motivasi yang kuat untuk menulis di media massa, karena ini merupakan salah satu cermin tanggungjawab moral Anda sebagai ilmuwan dan peneliti. Sampaikanlah ilmu yang Anda miliki kepada masyarakat yang membutuhkan. Jangan disimpan di dalam laci saja.

Setelah memiliki motivasi, hal lain yang harus Anda miliki adalah ambisi dan militansi. Ambisi dan militansi akan membuat motivasi Anda menjadi efektif dan bisa digerakkan. Ketika Anda ingin menulis sesuatu karena topik tersebut memang sangat hangat, lakukanlah segera, dan jangan menunda-nundanya. Bagaimana pun, proses penerimaan naskah, pemeriksaan dan pemuatan oleh redaksi, setidaknya membutuh waktu paling cepat dua-tiga hari. Jadi Anda harus berburu waktu untuk menghindari tulisan Anda tidak jadi basi.

Dengan militansi yang tinggi, kendala-kendala seperti kesibukan mengajar, meneliti atau mengurusi jurusan, sama sekali tidak akan menghalangi langkah Anda untuk menjadi penulis iptek yang andal. Dengan militansi yang tinggi, Anda juga tidak perlu merasa kecewa jika tulisan Anda ditolak, tapi mestinya akan terus memacu Anda untuk menulis lebih baik lagi. Anda tentu pernah membaca, tidak sedikit penulis-penulis yang terkenal saat ini, ketika memulai aktivitas menulisnya, menemukan kenyataan tidak sedikit tulisan-tulisannya yang dikirim ke media yang ditolak redaksi.

Ketika tulisan-tulisan Anda dimuat di media massa, sesungguhnya banyak sekali keuntungan yang bisa diperoleh. Selain masyarakat mendapatkan manfaat setelah membacanya, Anda juga akan dikenal luas, bisa pula menambah credit point (Kum) bagi dosen untuk naik pangkat, dan Anda juga dapat sejumlah uang karena memang ada honornya.

Jadi? Tidak ada resep ampuh apapun agar dapat menjadi penulis iptek terkenal, selain dengan memulainya dari sekarang!
———————————————————————————————————————–
Alangkah Lucunya Pendidikan di Negeri Ini ; Ketika Guru Tidak Lagi Ditiru

Beberapa hari ini terasa ada teguran mengusik. Tentang perilaku guru. Ada saja dan macam – macam tingkahnya. Dari keluhan kecilnya gaji, perlilaku amoral guru sampai kekerasan guru.

Tulisan ini tentu bukan bermaksud menghakimi, hanya berusaha menjelaskan sebuah fakta. Semoga menjadi renungan dan bahan perbaikan untuk memfungsikan guru sebagaimana mestinya. Bagaimanapun ini fakta dari sisi lain dunia pendidikan Indonesia. Tidak juga bermaksud menggeneralisir, sebab bisa jadi bersifat kasuistik. Semua dikembalikan kepada masing–masing individu. Justru harus terpikirkan bagaimana mencari solusinya.

Peristiwa pertama
Joni seorang guru olahraga SMA, dia dikenal sebagai guru “killer” bagi muridnya. Suatu hari Joni menghukum muridnya karena dianggap lalai. Sang murid tidak mengikuti gerakan tangan sang guru ketika pelajaran olahraga. “Roni, kenapa kamu banyak diam. Bapak lihat kamu tidak ikuti gerakan tangan bapak. Sini kamu!” bentaknya. Tiba – tiba “Plak”. Sebuah tamparan keras mendarat di wajah Roni. Tak cukup itu, cacian tak pantas keluar dari mulutnya.

Perisitiwa kedua
Sekelompok guru berkumpul. Pak Dedi mengeluarkan sebuah hp. Dia memanggil kawan – kawannya untuk melihat isi hpnya. Sebuah tayangan video porno berdurasi 15 menit. Pak Rendi terangsang melihatnya, “Pak Dedi saya minta donk. Kirim ke hp saya video bagus itu”. Dua – tiga guru melakukan permintaan serupa. Kejadian itu terjadi bukan sekali dua kali, melainkan berulang kali. Mereka melakukan secara sembunyi, sehingga terlepas dari teguran.

Peristiwa ketiga
Ujian Nasional hari pertama sebuah sekolah di Jakarta. Bel berbunyi tanda pelajaran masuk dimulai. Sang guru pengawas masuk ruang ujian. Usai berbaris, murid duduk di bangku masing – masing. Prosesi berdoa dimulai, berlanjut guru membagikan soal ujian dan lembar jawaban computer (LJK). Murid sibuk mengerjakan soal. Sekitar lima belas menit, kepala sekolah masuk. Sembari salam, dia berbasa – basi sedikit dengan guru pengawas. Kemudian beliau maju ke depan papan tulis membawa spidol. Tanpa malu, menulis jawaban UN buat murid – murid. “Denger semua murid, catat jawaban UN ini. Saya kasih waktu sepuluh menit” ujar kepala sekolah.
Murid segera sibuk mencatat jawaban. Guru pengawas terdiam bisu. Rupanya, ketika briefing UN mereka sudah diberitahu secara halus. “Tolong bantu anak kami. Insya Allah kami nanti bantu bapak ibu guru perihal insentif”.
Setelah sepuluh menit, kepala sekolah mengambil penghapus. Dia keluar ruangan. Tersenyum simpul sembari berterimakasih kepada bapak/ibu guru pengawas.

Peristiwa keempat
Kejadian ini terjadi pada sebuah kampus pendidikan. Sekelompok mahasiswa (calon guru) sibuk sore itu. Mereka berkumpul depan pintu masuk sebuah sekretariat BEM. “Hey, ayo kumpul. Nih dah gw beli gaple”ujar seorang mahasiswa. Sejumlah mahasiswa berkumpul. Permainan gaple dimulai dan itu rutinitas mereka setiap sore.

Ah benar pula perkataan “Alangkah lucunya (Pendidikan) negeri ini”

Mendengar fakta itu, anda mungkin pernah mendengar dan merasakan. Berita Koran juga banyak mengungkap kondisi itu. Fakta yang memprihatinkan bagi dunia pendidikan Indonesia. Gelar guru “ternodai” oknum guru yang melakukan perbuatan tersebut.

Belakangan pendidikan Indonesia mengalami kemuraman. Wajah guru sering mendapat sorotan. Kekerasan guru terhadap murid, pemerkosaan guru terhadap murid dan banyak kasus lain berkembang.

Memang tak dipungkiri, kondisi guru mengalami distorsi. Sikap amoral melanda guru dan calon guru. Kebiasaan menghukum seenaknya masih banyak terjadi. Dalam sebuah kegiatan, pernah ditanyakan kepada murid SMP. “ Coba tulis nama guru yang kalian senangi dan benci. Tuliskan alasannya.”. Apa jawaban murid?. Sebagian besar menulis, ada beberapa guru yang dibenci. Dominan alasannya adalah karena guru tersebut “mudah main tangan” alias sekali salah tamparan hadiah bagi muridnya.

Dalam ilmu pendidikan, hukuman dan penghargaan jelas diperlukan. Tapi hukuman diusahakan bersifat mendidik. Teori humanistik mengatakan, pendidikan bersifat memanusiakan manusia. Artinya, hukuman fisik diusahakan sebagai pilihan terakhir. Selama kemungkinan hukuman mendidik bisa diberikan, jalankan sebagai dampak kenakalan murid. Jika gampang main tangan, dampak hukuman akan terus membekas.

Tak terkecuali masalah adanya UN yang selayaknya dipertimbangkan. Kasus kebocoran soal baik bantuan oknum guru, kepala sekolah dan sesama siswa sudah mendekati kritis. Keluhan paling terasa, sikap menyontek terbiasakan dan diwajarkan. Jika guru mencontohkan memberikan jawaban UN, penyimpangan moral sudah terjadi. Jelas keteladanan dan wibawa guru sudah mulai berkurang.

Menyoroti kasus video porno juga serupa. Sebab pornografi sudah demikian meresahkan. Media massa sering mencitrakan “buruk “ seorang guru madrasah memperkosa muridnya.Terdapat sebuah kenyataan oknum guru yang gagal memberikan teladan. Depan murid melarang, ketika ada kesempatan justru dia menyebarkan video porno via ponsel. Bagaimanapun fungsi guru bukan hanya mengajar di kelas, melainkan mendidik dan menciptakan keteladanan kepada muridnya. Kita tentu tak bermaksud menyalahkan. Kejadian itu seringkali bersifat kasuistik. Lagipula banyak faktor yang mepengaruhi terciptanya kondisi itu.

Pertama kemajuan zaman, globalisasi misalnya. Selain menghasilkan dampak positif menyiratkan kekhwatiran dampak negatif. Perkembangan internet dan ponsel berteknologi tinggi mampu membuat penggunanya kadang lupa diri.

Kedua, memudarnya kualitas keimanan. Sekuatnya iman seseorang, kadang mengalami naik turun. Ketika iman menurun, potensi kesalahan terbuka. Jika dibiarkan, tentu membuat kesalahan semakin kronis dan merusak citra individu dan institusi.

Ketiga pengaruh lingkungan. Tak semua guru buruk dan sebaliknya. Terkadang seorang guru melakukan kesalahan karena ada pengaruh buruk sekitarnya. Kondisi lingkungan rumah dan pengaruh “kurang baik” guru lain misalnya. Mampu mendorong seorang guru menjadi ” pembebek”.

Setidaknya, sebagai manusia kita tak pantas putus harapan. Peran lembaga masyarakat, lembaga keagamaan dan media bisa dimanfaatkan. Mereka bisa menjadi pengontrol keadaan buruk ini. Selain itu, sektor LPTK sepantasnya berbenah diri. Tak cukup melahirkan guru berkualitas “intelektual” namun miskin iman. Adanya training keagamaan di sekolah mendukung terciptanya peningkatan iman.

Guru itu digugu dan ditiru
Teguran sesama guru juga diperlukan baik secara halus atau tegas. Peran strategis bisa dimainkan stakeholder sekolah. Pendekatan persuasif melalui kegiatan keagamaan, pelatihan dan penataran guru mampu membantu pencegahan kasus amoral. Sehingga di masa mendatang, kasus kekerasan dan amoral dapat diminimalisir dan ditekan sekecil mungkin.

Kasus kecurangan UN memerlukan penyadaran di kalangan guru. Perlu ditekankan guru teladan murid sehingga tak pantas “membantu “ ketika UN berlangsung. Jika ada itikad membantu, pergunakan waktu sebelum pelaksanaan UN. Bantuan UN hanya membentuk anak malas belajar dan dependensi terhadap guru.

Sebagai penutup, buat calon guru pada peristiwa keempat. Kampus pendidikan perlu menyadarkan kepada mahasiswa tugas seorang guru pasca kampus. Mereka dijadikan orang yang disegani dan berpengaruh di kalangan murid. Apa jadinya bangsa ini, jika calon pendidik terjebak budaya “tak pantas diteladani” seperti itu.

Selamanya guru adalah teladan indah dunia pendidikan. Kita bisa baca tulis tak terlepas dari sosok bernama guru. Guru berjasa mengantarkan anda menduduki jabatan tertentu. Penghargaan terhadap guru dapat diungkapkan ketika ajarannya dapat diteladani dan diterapkan dalam kehidupan sehari – hari. Jika mentalitas guru “ternodai”, masa depan Indonesia terancam. Tetapi ketika guru bersikap “baik”, kejayaan dan kecerdasan anak bangsa terjamin. Ah benar pula perkataan “Alangkah lucunya (Pendidikan) negeri ini”.
———————————————————————————————————————–
Ribuan Lulusan SD Tak Lanjutkan Sekolah

BANYUMAS, (PRLM).- Belasan ribu lulusan SD/MI dan lulusan SMP/MTS di Kabupaten Banyumas dan Purbalingga Jawa Tengah tidak melanjutkan ke pendidikan jenjang berikutnya.
Pemkab Purbalingga menginstruksikan Camat kepala desa dan pihak sekolah untuk menelusur alasan siswa yang tidak melanjutkan pendidikan. Mereka direncanakan akan dijaring melalui pendidikan di pondok pesantren.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Purbalingga Heny Ruslanto mengatakan, jumlah lulusan SD pada 2011 sebanyak 15.549 siswa. Yang melanjutkan ke jenjang SMP/MTS tercatat 14.531 siswa.
“Sekitar 1.031 lulusan SD/MI atau 6,55 persen yang tidak melanjutkan ke jenjang berikutnya,”jelasnya Kamis (14/7).
Sedangkan lulusan SLTP pada tahun yang sama tercatat hanya sekitar 57,5 persen yang melanjutkan ke jenjang SLTA. Hanya 13.443 siswa yang melanjutkan ke SMA/MA atau SMK. Itu artinya sebanyak 42,5 persen lulusan SMP/MTs yang tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya. Kemana mereka, pihaknya belum mengetahui.
Kasus yang sama terjadi di Kabupaten Banyumas..Kepala Bidang Pendidikan Menengah Dinas Pendidikan Kabupaten Banyumas, Apenk Sunarta mengatakan, Di Banyumas terdapat 24.000 lulusan SMP/MTs.
Jumlah siswa yang tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan selanjutnya cukup tinggi mencapai 42 persen atau sebanyak 9.000 siswa.
“Atau lulusan SMP/MTs yang melanjutkan pendidikan ke SMA, SMK atau MA, sekitar 58 persen,” jelasnya.
Terkait dengan banyaknya siswa SD/MA dan SMP/MTS menutu Heny Ruslanto, dinas pendidikan sudah menginstrusikan para kepala sekolah dan Kepala UPT Dinas Pendidikan di tingkat kecamatan, untuk menelusuri apa alasan mereka tidak melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi.
Bupati Purbalingga Heru Sudjatmoko, mengaku prihatin. “Kita tidak ingin target program wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun di wilayahnya tidak tercapai,”jelasnya.
———————————————————————————————————————–
Peran Kepala Sekolah Menentukan

CIAMIS, (PRLM).- Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Ciamis, Akasah mengatakan upaya peningkatan mutu pendidikan tidak hanya tergantung pada kemampuan guru dan siswa, akan tetapi juga peran kepala sekolah.
Kepala sekolah dituntut mampu menjadi pendorong semangat bagi kalangan guru maupun siswa di sekolah tersebut.
“Tidak hanya guru dan murid, kepala sekolah juga punya peranan sangat penting dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Untuk menghasilkan kepala sekolah yang baik serta memiliki motivasi tinggi mengembangkan pendidikan, harus dihasilkan dari seleksi yang dilaksanakan secara profesional,” tutur Akasah disela pelaksanaan tes seleksi calon kepala sekolah SMA/SMK, di SMKN 2 Ciamis, Kamis (14/7).
Dia mengungkapkan tahun ajaran 2011 dan 2012 terdapat tujuh lowongan kepala sekolah, teridri lima kepala SMA dan dua SMK. Figur yang bakal mengisi kekosongan tersebut, lanjutnya harus melewati sejumlah seleksi.
Hasil seleksi awal hanya menghasilkan sebanyak 21 guru calon kepala sekolah, teridi 18 orang seleksi kepala sekolah SMA dan tiga untuk memerebutkan dua posisi.
Didampingi Ketua Panitia Penyelenggara tes calon kepala sekolah tingkat SMA/SMK, Nana Ruhena, dia menambahakan smateri yang diujikan di antara menyangkut tes akademik kepemimpinan, kepribadian, hubungan sosial serta kecerdasan emosional.
“Tes yang dijalani lengkap, tidak hanya kemampauan atau ilmu, tetapi yang tidak kalah pentingnya menyangkut kepribadian,” katanya.
Sementara Ruhena menambahkan bvahwa materi tes dibuat hasil kerjasama dengan Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Jawa Barat serta Disdik Ciamis. Tes tersebut juga mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikana Nasional nomor 28 tahun 2010 yang di antaranya mengatur tentang guru yang diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah.
———————————————————————————————————————–
Kompetisi Matematika Indonesia Internasional Diikuti 28 Negara

JAKARTA, (PRLM).-Sebanyak 28 negera dipastikan bakal berpartisipasi pada Kompetisi Matematika Indonesia Internasional atau “International Indonesia Mathematics Competitions (IIMC)” 2011 yang akan berlangsung di Bali, 18-23 Juli 2011. Peserta kompetisi adalah siswa sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP).
Kepala Sub Direktorat Program dan Evaluasi Direktorat Pembinaan Sekolah Dasar Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) Samino menuturkan, program IIMC ini sangat mendukung program-program untuk meningkatkan daya saing internasional.
Menurut dia, penguasaan dalam ilmu-ilmu dasar, seperti Matematika, merupakan salah satu modal utama dalam kemajuan bangsa. “Tingkat penguasaan ilmu-ilmu dasar menjadi salah satu indikator seberapa jauh suatu bangsa dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologinya,” katanya dalam keterangan pers di Gerai Informasi dan Media (GIM) Kemdiknas Senayan Jakarta, Jumat (15/7).
Dijelaskan dia, kompetisi meliputi dua kategori, yaitu individu dan tim. Setiap negara mengirimkan 1-4 tim per jenjang. Satu tim terdiri atas enam orang, yakni satu orang team leader, satu orang deputy team leader, dan empat orang siswa.
Kegiatan ini melibatkan enam juri internasional berasal dari Kanada, Filipina, Taiwan, Cina dan empat orang juri nasional.
Koordinator Asisten Tim Juri Rieske Hadianti mengatakan, soal-soal yang diberikan adalah level internasional. Dengan itu, kata dia, dapat dibandingkan dengan prestasi siswa Indonesia dengan siswa negara lain, seperti Amerika, Australia, dan Bulgaria.
Penghargaan yang diberikan meliputi penghargaan grup, tim, dan “overall prizes”. Penghargaan grup adalah penghargaan bagi tim dengan jumlah tiga nilai terbaik dari anggota timnya. Sedangkan, penghargaan tim adalah penghargaan bagi tim yang memiliki nilai terbaik pada jenis kompetisi tim.
Adapun “overall prizes” adalah penghargaan bagi tim yang menjumlahkan nilai empat anggota tim hasil kompetisi individu dengan nilai tim.
Negara-negara peserta yaitu Australia, Bangladesh, Brunei Darussalam, Bulgaria, Kanada, Cina, Siprus, Hongkong, India, Indonesia, Iran, Korea, Makau, Malaysia, Meksiko, Mongolia, Nepal, Belanda, Filipina, Rusia, Singapura, Afrika Selatan, Sri Lanka, Taiwan, Thailand, Amerika Serikat (AS), Vietnam, dan Zimbabwe.
Berdasarkan catatan, pada penyelenggaraan tahun lalu di Korea Selatan yang diikuti oleh 35 negara, Indonesia meraih 4 medali emas, 12 medali perak, dan 15 perunggu, serta 8 “merrit award”.
———————————————————————————————————————–
Layangkan Class Action terhadap Pelanggaran PPDB

BANDUNG, (PRLM).- Masyarakat bisa melayangkan class action kepada pemerintah dan menggugat pemerintah terkait pelanggaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2011. Apalagi selama bertahun-tahun pelanggaran serupa selalu terjadi tanpa ada perbaikan dan telah merugikan orang tua dan siswa.
“Sudah saatnya masyarakat meminta ganti rugi akibat pelanggaran hak atas pendidikan dan hak-hak anak ini melalui class action‎​. Jika cukup bukti, siswa, orang tua, dan keluarga manapun bisa mengajukan class action,” kata Ketua Keluarga Peduli Pendidikan Yanti Sriyulianti dalam diskusi Forum OK di BIP Library Mall, Jumat (15/7).
Menurut Yanti, pelanggaran PPDB terutama mengenai pungutan yang marak terjadi di sekolah harus ditindak melalui sanksi hukum yang tegas. Sebab hal tersebut telah melanggar aturan, bukan hanya melanggar peraturan daerah, peraturan wali kota, dan petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan PPDB melainkan juga melanggar UUD 1945 dan amandemennya.
———————————————————————————————————————–
Mendidik adalah Mengembangkan Potensi

Sepanjang karirnya memimpin SMP Negeri 9 Kota Malang, sejak 2006 lalu, makin meneguhkan prinsip dan visi Dra Tuti Sri Wahyuni sebagai pendidik; bahwa setiap anak didik memiliki tingkat kemampuan berbeda namun setiap anak memiliki potensi dan keunikan tersendiri. Tugas pendidik, bagi Tuti, adalah mengenali sedari dini potensi setiap anak dan memberi ruang bagi potensi itu untuk berkembang lewat pendekatan yang sesuai.
“Ada anak yang secara akademis susah sekali untuk dikembangkan, tapi bakat olahraganya sangat istimewa. Kalau dipaksakan keduanya berkembang malah tidak bisa berhasil maksimal. Karenanya pendidik harus bisa mengenali keunikan setiap anak seperti ini sebab membutuhkan pendekatan yang berbeda dalam belajar,” urai Tuti, sapaan akrabnya.
Prinsip ini dipegang teguh Tuti berdasar dari pengalaman. Ada anak didiknya yang hampir tidak memiliki minat dan kemampuan sedikit pun pada mata pelajaran. Bahkan Tuti menyebut; diusahakan sekeras seperti apa pun, tetap sulit. Namun sang anak piawai betul bermain bola. Kemampuannya mengocek kulit bundar mengantar dirinya sebagai bagian dari tim sepakbola Kota Malang dan telah menyumbangkan banyak prestasi bagi sekolah maupun kota.
“Yang bisa kami lakukan, ya memberi ruang bagi potensinya pada sepakbola itu. Meski tidak punya lapangan, kami sewakan di Lapangan Rampal untuk latihan dua kali dalam seminggu. Untuk akademisnya, saya minta guru dengan sabar memberi latihan insentif dan sebisa anaknya. Apalagi jelang ujian nasional, ya kami hanya bantu dia untuk tahu soal ujian gitu aja. Alhamdulillah bisa lulus,” urai ibu dua anak ini.
Pendekatan yang sama juga dilakukan Tuti pada anak yang memiliki potensi lain, semisal bidang Pramuka. Meski lemah pada nilai mata pelajaran, sang anak mampu menjadi peserta Jambore Nasional di Palembang beberapa waktu lalu. Begitu pula pada bidang seni maupun musik, sekolah memberikan sarana dan fasilitas yang diperlukan. Untuk siswa yang memang mampu secara akademis, sekolah menyediakan kelas khusus untuk kebutuhan olimpiade.
“Memang secara akademis kita belum mampu bersaing dengan sekolah lain namun tetap kami berikan semua fasilitas yang dibutuhkan siswa untuk mengembangkan potensi; baik akademis maupun non akademis. Sebab itulah intinya pendidikan; tidak harus membuat setiap anak memiliki kemampuan yang sama, tapi bagaimana bisa mengembangkan potensi yang sudah dimiliki setiap anak,” tegasnya.
Prinsip seperti ini tidaklah dijalankan Tuti pada anak didiknya saja. Pada anak kandungnya sendiri, prinsip pendidikan Tuti juga sama. Putra bungsunya, yang memang sedari kecil menyintai musik, kini memilih masuk di Sekolah Menengah Musik (SMM) di Yogyakarta. Sebuah pilihan yang tidak wajar alias unik untuk anak seusia SMA dan sebuah wujud sikap orangtua yang tidak memaksakan kehendak.
“Saya tahu persis bahwa sejak kecil punya potensi di bidang musik. Namun saat lulus SMP lalu saya coba tawarkan; mau masuk SMA di mana saja, bisa lah diusahakan. Tapi tetap teguh pilihannya ke SMM itu bahkan sudah merencanakan langkah selanjutnya kalau lulus nanti. Ya, karena itu pilihannya, ya sudah. Meski sebagai orangtua agak kuatir karena di Yogyakarta nanti bakal sendirian,” tutur Tuti mengisahkan.
Selain prinsip ini, Tuti juga menerapkan pentingnya penanaman nilai dan karakter pada anak didik. Terlebih pada satuan pendidikan setingkat SMP yang menjadi masa paling menentukan bagi anak. Pada usia ini, anak baru lulus dari jenjang SD yang masih kekanak-kanakan menuju jenjang SMA yang harus segera berfikir dewasa. Tidak jarang, pada usia ini, anak mengalami perubahan secara psikologis yang cukup penting.
“Karenanya penanaman tata krama, kepribadian, dan karakter itu mutlak ditanamkan. Tapi sekolah tidak bisa sendiri. Orang tua punya andil besar dan lingkungan sekitar juga memberi pengaruh. Makanya kami merangkul masyarakat sekitar untuk bisa turut mengawasi anak didik kami saat berada di luar sekolah. Sehingga bila ada yang dinilai melanggar atau merugikan, kami bisa mencegah dan membenahi,” pungkasnya
———————————————————————————————————————–
Lewat Dongeng dan Badut, Sapta Edy Bentuk Karakter Pribadi

Sejak 1 Juli lalu, Sapta Edy menanggalkan jabatannya sebagai Kepala TK Petra Kediri. Itu berarti, genap sepuluh tahun Pak Sapta –sapaan akrabnya- mengabdi sebagai ‘Pak Lurah’; sebuah sebutan yang jamak disematkan bagi orang yang memimpin lembaga pendidikan bagi anak usia dini tersebut. Meski tidak lagi memimpin, Pak Sapta tidak kemana-mana. Ia masih tetap berada di TK Petra, kembali sebagai pendidik.
Sebagai Kepala TK Petra, Pak Sapta memang tidak begitu populer meski sangat profesional dengan pekerjaannya. Ia memang menjadi satu dari segelintir pria yang bergelut dengan pendidikan anak usia dini. Masih berkiprah dalam dunia pendidikan, Pak Sapta lebih dikenal karena kemampuanya mengadaptasi pendidikan dalam dunia entertainmen. Sapta ’Badut’ TK Petra, demikian ia dikenal karena profesinya di samping dunia pendidikan formal di Kediri.
”Saya melihat ini adalah sebuah potensi. Bahwa saya bisa mengembangkan usaha masih dalam kerangka pendidikan,” terang pendidik kelahiran Boyolali, 44 tahun lalu itu
Jangan salah sangka dulu. Sebutan ’badut’ bukan berarti Pak Sapta melulu bermain sebagai badut di samping sebagai pendidik. Sebutan itu disematkan karena ia menjadi pengelola penyedia jasa badut. Mr Badut, nama resmi usaha yang ia kelola. Mulai dari badut, cerita boneka, sulap, dan sebagainya. Dan tentu saja, lepas sebagai pengelola yang banyak berkutat dengan manajemen, ia cukup mumpuni dengan kemampuan teknis bidang tersebut.
Awal mula berkenalan dengan dunia ini, papar Pak Sapta, masih sangat terikat dengan dunia pendidikan. Saat itu, sebagai tenaga pendidik di TK Petra, ia diminta memimpin sebuah acara perayaan ulang tahun seorang siswa. Pekerjaan harian yang bergumul dengan fantasi anak-anak, membuatnya lugas dengan permintaan ini. Hasilnya ia anggap luar biasa, meski dengan perasaan kagok apakah tips yang diberikan harus diterima atau tidak.
”Luar biasa, bukan karena besaran tipsnya. Namun disitulah saya pertama kali melihat potensi bisnis ini, dan tertantang mengembangkan kemampuan saya,” ulas bapak dua anak ini.
Permintaan kedua datang, masih dengan tema perayaan ulang tahun siswa. Hasil yang sama terulang. Gayung bersambut saat ia berkenalan dengan salah satu orang tua siswa yang memiliki kostum badut. Orang tua siswa tersebut bersedia meminjamkan kostumnya, tepat saat Sapta mendapatkan tawaran mengisi acara pada salah satu ATPM (Agen Tunggal Pemegang Merek) kendaraan bermotor di Kediri.
”Setelah itu ada saran dari salah satu rekan, agar saya mulai membuat baju karakter. Tokoh pertama yang saya buat saat itu adalah karakter Teletubies, karakter yang sedang naik daun dan digemari anak-anak. Sampai hari ini, meskipun tidak menutup kemungkinan acara lain, anak-anak tetap menjadi prioritas saya,” ujarnya.
Anak-anak, lanjut Pak Sapta, bukan saja pasar potensial dalam pandangan bisnis. Sebab dengan acara untuk anak, Sapta tetap merasa dekat dengan dunia pendidikan. Satu dunia yang ia anggap sebagai core eksistensinya selama ini. Itu sebabnya, dalam perkembangan saat ini, mbadut yang ia lakukan lebih ditekankan pada bentuk cerita boneka. Masih dengan aroma entertainmen, cerita boneka dianggapnya paling ampuh untuk menanamkan nilai pada anak.
”Antara guru TK, pendongeng, dan penghibur, memiliki batasan yang tipis. Guru TK dituntut pintar mendongeng, menyanyi, dan mahir bermain. Cerita boneka mengakomodir hal tersebut. Plus, cerita boneka mampu menuntun fantasi seorang anak kearah pembentukan pribadi, karakter,” jelas Pak Sapta.
Pendidikan karakter, yang saat ini juga tengah banyak didengungkan, bisa disampaikan Pak Sapta dengan mendongeng dalam bentuk cerita boneka. Pak Sapta telah memiliki beberapa boneka karakter, satu hal juga bahwa ia berkesempatan menyampaikannya dalam siaran televisi lokal. Dus, sebagai otokritik, ia menilai pentingnya penciptaan karakter lokal disamping bentuk-bentuk jamak yang lebih banyak menjiplak karakter luar negeri yang ditayangkan televisi.
”Awalnya saya menggunakan karakter yang populer seperti doraemon atau Hello Kitty. Namun kemudian saya butuh karakter yang lebih Indonesia, atau bisa jadi lebih Kediri. Jadi cerita-cerita mendidik seperti Limbah di Brantas, atau Sampah Jadi Emas, bisa lebih tersampaikan. Sekarang karakter yang saya jadikan ikon adalah Mr B. Seorang tokoh yang memiliki karakter seorang guru,” pungkasnya
———————————————————————————————————————–
Dorong Pendidik PAUD Berkualifikasi

Kompetensi akademisnya adalah Sarjana Pendidikan Bahasa Indonesia. Namun pengabdiannya, dicurahkan sepenuhnya pada Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD). Karirnya berawal di TK BA Restu 1 Kota Malang. Dua tahun berikutnya, Rohmiati, turut merintis lahirnya TK BA Restu 2 hingga kini menjadi kepalanya. Dan, alumnus IKIP Budi Utomo Malang ini dipercaya menjadi Ketua Himpaudi (Himpunan PAUD Indonesia) Kota Malang.
“Menjadi pendidik TK itu jauh lebih sulit dibanding mengajar anak di jenjang yang lebih tinggi. Mendidik di TK itu unik dan harus melihatnya dari sudut hati. Sebab anak kecil membutuhkan sentuhan hati dan kesabaran untuk menjadi manusia selanjutnya,” urai Rohmiati menjelaskan alasannya fokus mengabdi di PAUD.
Sebagai Ketua Himpaudi Kota Malang yang baru saja terpilih, Rohmiati memiliki angan besar meningkatkan dunia PAUD Kota Malang. Pendidik PAUD, menurutnya, tidak bisa disepelekan. “PAUD adalah pendidikan yang sangat mendasar, dari sinilah awal kalinya generasi dibentuk. Sayangnya, seringkali disepelekan, masih banyak yang beranggapan bahwa anak-anak belum perlu diberi pendidikan akhirnya asal-asalan dalam mengajar,” terangnya.
Padahal, tambahnya, jika ingin menjadi bangsa yang besar 45 tahun lagi, haruslah mempersiapkan generasi unggul sejak saat ini. Karena itulah ia ingin meningkatkan kualitas tenaga pengajar PAUD. ”Belum banyak pendidik PAUD yang berkualifikasi S1, bahkan masih ada beberapa yang lulusan SMP. Karena itu kami sudah mengajukan beasiswa pendidikan S1 ke provinsi, sementara ini kami mengajukan untuk 65 guru,” tegasnya.
Ia berharap dengan beasiswa tersebut maka pengetahuan para pengajar semakin meningkat serta dapat semakin paham dengan perkembangan jiwa anak. Selain itu dengan peningkatan kualifikasi pendidikan maka peluang mendapatkan sertifikasi semakin mudah sehingga berimbas pada peningkatan kesejahteraan guru.
“Peningkatan kesejahteraan ini otomatis juga akan berimbas pada peningkatan profesionalisme guru, guru tidak akan mencari pekerjaan sampingan dan lebih konsentrasi mengajar,” imbuh wanita yang tengah menyelesaikan tesis di jurusan Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini.
Kualifikasi pendidikan S1 tersebut sekaligus untuk mengejar target yang ingin dicapai pemerintah pada tahun 2014 mendatang. Selain itu, keseriusan pemerintah dalam mengelola PAUD pun semakin menuntut kerja keras setiap guru, sebab pemerintah akan memberikan angka kredit terhadap diklat yang diikuti oleh guru.
Saat ini pun ia tengah mempersiapkan program baru di kepengurusan Himpaudi yang baru. Diantaranya memperbaiki manajemen, membuat program pengembangan baru dan menggarap program lama yang sebenarnya bagus namun masih belum tergarap. “Kami bersama teman-teman berkomitmen akan mempertahankan dan semakin meningkatkan prestasi PAUD Kota Malang yang tahun lalu berhasil menjadi yang terbaik tingkat nasional,” pungkasnya
———————————————————————————————————————–
Terapkan Sistem ‘Ekstrim’, Luluskan Siswa Terbaik

Bagi seorang pendidik, tak ada pencapaian yang lebih indah kecuali berhasil membawa putra-putri didiknya meraih keberhasilan. Apalagi bila pencapaian tersebut diraih dengan kesungguhan mengabdi dan perjuangan keras. Setidaknya pencapaian inilah yang tengah dirasakan oleh Kepala SMKN 8, Drs H Adi Priyono sebab ia telah berhasil mengantarkan putrinya meraih nilai ujian nasional (NUN) tertinggi se-Jawa Timur.
Tentu bukan semata-mata karena kemampuan pribadi dari siswa bila akhirnya prestasi tersebut dapat diraih. Kesungguhan pengelolaan sistem pembelajaran juga sedikit banyak mempengaruhinya. Karena itulah, dengan gaya kepemimpinan yang khas, salah satu penggagas berdirinya SMKN 8 ini berani membuat gebrakan dalam manajemen system.
Sistem yang ia terapkan boleh dibilang ‘ekstrim’, sebab jaminan eksistensi guru yang paling dipertaruhkan. Ia menerapkan sebuah ‘evaluasi terpusat’. Dimanasisitem ini bekerja menilai kinerja guru layaknya sebuah rapot.
“Setiap keberhasilan dan kegagalan guru secara otomatis akan terlihat dari rapot ini, bila ternyata rapotnya merah resiko terbesar yang harus siap ditanggung guru adalah pemberhentian atau dipindah sebagai tenaga lain,” ucap mantan instruktur VEDC ini.
Penilaian dalam rapot tersebut meliputi supervise klinis, pemantauan kehadiran guru, keikutsertaan dalam kegiatan sekolah dan persepsi siswa terhadap guru. Supervisi klinis dilakukan oleh tim khusus, , sedangkan pemantauan kehadiran guru diperoleh dari absensi guru. Kedisiplinan yang ia terapkan juga sangat tinggi semisal tentang jam masuk guru tidak boleh terlambat, jika terlambat sedikitpun maka sudah aka nada guru pengganti dan ini berarti akan mempengaruhi presensi guru.
Siswa pun dilibatkan dalam penilaian kinerja guru tersebut, setiap akhir semester para siswa bebas memberikan penilaian tersebut. Sistem semacam ini menurutnya sangat efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Guru pun tak bisa arogan dan memberikan penilaian pada hasil pembelajaran siswa dengan semaunya, agar seakan-akan terlihat kerjanya.
“Semuanya dikendalikan dengan sistem. Di sini data yang berbicara sehingga kepala sekolah tidak menjadi momok dan ketika sekolah ditinggal pun sistem tersebut tetap berjalan,” imbuh pria yang mengawali karir sebagai guru SMKN 1 Singosari tahun 1984 ini. Sejauh ini penerapan tersebut menurutnya telah berjalan lancer, dan memang sudah ada beberapa guru yang sudah menerima konsekuensinya.
Selain menerapkan sistem evaluasi terpusat, ia juga menerapkan sistem pembelajaran fullday bagi siswa, yakni mulai pagi hingga sore. Sistem ini menurutnya juga telah efektif, sebab intensitas pembelajaran lebih tinggi. “Kegiatan siswa pun termonitor, dan tidak mempunyai kesempatan melakukan hal-hal yang kurang bermanfaat, karena sepulang sekolah tinggal capek dan beristirahat di rumah,” tambah peraih penghargaan Man and Woman of the Year 2010 ini.
Meski terlihat ketat, namun ia mengaku tidak mengharuskan input yang masuk ke SMKN 8 harus selalu unggul. Dalam prosesnya, setiap siswa akan teridentifikasi secara sendirinya. Bagi siswa yang tidak mampu mengikuti ‘aturan main’, maka otomatis akan tereliminasi. “Kami selalu mengutamakan proses, setiap siswa berhak mendapatkan kesempatan yang sama,” imbuhnya.
Program prestisius yang ia kembangkan lainnya adalah pembukaan program kelas internasional dengan menggandeng lembaga internasional untuk memberikan serifikasi CISCO dan FESTO. Level dari pendidikan ini sudah setara dengan D3, dengan pembelajarannya yang telah diinkludkan di pelajaran sekolah. “Perusahaan-perusahaan besar sudah mengakui sertifikat SISCO dan FESTO ini sehingga lulusan SMKN 8 semakin mendapat peluang besar masuk ke perusahaan-perusahaan tersebut,” pungkasnya
———————————————————————————————————————–
Tak Surutkan Nyala Pengabdian

Bila saat ini banyak guru tengah menikmati gelimangan uang tunjangan profesi, tidak demikian dengan sebagian guru lain. Sebut misalnya pada tenaga pendidik di SMP Islam Nurul Huda yang berlokasi di Desa Pajaran, Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang. Semua tenaga pendidik pada sekolah milik yayasan ini belum pada menerima gaji. Setidaknya tiga bulan hingga sekarang, mereka belum gajian.
Salah satu faktornya; dana Biaya Operasional Sekolah (BOS) dari pemerintah belum cair. Padahal dari dana BOS inilah, gaji para guru sekaligus karyawan, yang semuanya murni berstatus tenaga yayasan, bisa dialokasikan. Dan satu dari sekian banyak guru itu, adalah Ahmad Khudori, tenaga pendidik yang juga wakil kepala bidang kesiswaaan. Meski tiga bulan tanpa gaji, Khudori dan rekan pendidik lainnya, tak menyurutkan nyala pengabdiannya.
Untuk menutupi kebutuhan hidup, Khudori mengandalkan dari hasil usaha sampingannya yaitu sebagai petani. Hasil tani bisa untuk membantu memenuhi kebutuhan pokok. Sehingga permasalahan seperti keterlambatan dalam menerima gaji dapat disiasati dengan hasil pertanian. “Aktivitas bekerja di ladang dilakukan usai menjalankan tugas utamanya sebagai guru dan rata-rata guru disini memiliki sawah atau lahan pertanian yang dapat ditanami aneka sayuran, padi, jagung, beternak ayam pedaging dan lainya sebagai pekerjaan sampingan maklum orang desa,” jelas Khudori.
Kesadaran pendidikan masyarakat pinggiran khususnya di wilayah desa Pajaran dan sekitarnya di kecamatan Poncokusumo ini mengalami peningkatan yang menggembirakan. Sehingga bagi Ahmad khudori , hal yang demikian ini layak diimbangi dengan panggilan keiklasan dalam pengabdian seorang pendidik/guru untuk mencerdaskan masyarakat pinggiran.
“Dahulu, banyak ditemui warga masyarakat usia sekolah setelah lulus sekolah dasar tidak melanjutkan pendidikan kejenjang selanjutnya atau putus sekolah. Mereka memilih bekerja di ladang, beternak dan merumput sebagai pekerjaan utama mereka dalam menggali penghasilan. Setelah berdirinya SMP Islam Nurul Huda ini dapat membantu program pemerintah turut mensukseskan wajib belajar pendidikan dasar (wajardikdas) Sembilan tahun dan mengurangi jumlah warga putus sekolah,” tandas pria bujang kelahiran 35 tahun lalu.
Ahmad Khudori selain menjadi guru dan wakil kepala bidang kesisiwaan di SMP Islam Nurul Huda Pajaran juga aktif pada pramuka sebagai pembina pramuka dibeberapa lembaga antara lain; pembina pramuka di MINU Sumber pasir Pakis dan di SMK Ahmad Yani kecamatan Jabung. Kualitas penguasaan materi kepramukaan yang disampaikan Khudori turut membangun karakter kepribadian positif siswa serta menumbuhkan kecintaan siswa terhadap kepramukaan. Sebab pramuka menampilkan ragam materi yang amat positif terhadap kedisiplinan, kecerdasan dan kreativitas siswa
———————————————————————————————————————–
Menutup Kekurangan, yang Ada lebih Dikembangkan

Dulu namanya STM Muhammadiyah, lalu kini menjadi SMKM 1 Kota Malang. Dalam tiga tahun terakhir, sekolah di kawasan jalan Galunggung ini menyeruak sebagai lembaga swasta yang kompetitif. Raihan prestasi akademis dan non akademis dari para anak didik, mampu menembus batas regional. Bahkan satu anak didiknya kini tengah bersaing menjadi penerima beasiswa bergengsi, untuk kuliah, dari pemerintah Jepang.

Mengusung nama SMK, sekolah ini tentu harus fokus pada pengembangan skill dan keahlian spesifik pada anak didik. Namun nyatanya, sepanjang kepemimpinan Drs Suwardi, skill yang dilahirkan benar-benar lahir dari potensi yang dimiliki anak. Sebut misalnya karir moncer pesepakbola Dendy Santoso (Arema) atau Joko (Persema), grup band sekolah yang menelurkan lima lagu, hingga perwakilan anggota Paskibraka tingkat kota.

Kelebihan kepemimpinan Suwardi di SMKM 1 adalah visinya. Kepada KORAN PENDIDIKAN, bapak empat anak ini menyebut bila dirinya berpegang teguh pada satu ‘golden ways’ dari motivator Mario Teguh. “Untuk mampu bertahan, pemimpin bisa melakukan pilihan atas dua hal; menutupi kekurangan yang ada, atau mengembangkan potensi. Dan saya lebih memilih untuk mengembangkan apa yang ada,” jelasnya.

Pilihan menutup kekurangan, lanjut Suwardi, bakal tidak ada habisnya. Dan bukan tidak mungkin memerlukan proses yang panjang. Sementara dengan mengembangkan potensi, seluruh elemen akan didorong mengenali kemampuannya dan segera melakukan perbaikan. “Dalam mengembangkan sekolah, salah satu potensi yang dimiliki adalah KTSP. Selain itu prinsip bahwa tidak ada siswa yang bodoh, setiap siswa memiliki potensinya masing-masing,” tegasnya.
———————————————————————————————————————–
Tingkatkan Motivasi Belajar Matematika

Permainan Monopoli memang mengasikkan; serasa diajak untuk keliling ke seantero kota-kota di dunia. Dengan uang Monopoli yang diberikan oleh bank, kita dituntut untuk bisa membaca peluang investasi dan mengembangkannya; dari semula membeli rumah hingga membangun hotel. Makin banyak investasi yang mampu ditanam, besar kemungkinan, untuk memenangkan permainan ini.
Oleh Marsih SPd, Guru SDN Candirenggo 3 Singosari Kabupaten Malang, prinsip-prinsip dari permainan ini, didesain menjadi metode dalam mengajar Matematika. Praktik pembelajarannya kemudian dituangkan dalam sebuah karya ilmiah. Dan pada April lalu, setelah melalui penilaian oleh tim juri, Marsih terpilih sebagai Juara I Guru Berprestasi Kabupaten Malang.
“Prinsipnya, dengan bermain monopoli ini, siswa diajak mengenal sebuah metode pembelajaran dan pemecahan masalah saat menemui kesulitan pada mata pelajaran matematika dengan lebih menyenangkan
———————————————————————————————————————–
Kembangkan Metode yang Mengasah Imajinasi

Kecintaan pada dunia anak-anak yang membuatnya rela mengabdi sebagai guru TK di TK Unggulan AL-YA’LU. Meski sebenarnya pendidikan yang ditempuhnya adalah Pendidikan Guru Sekolah Dasar, namun ia mengaku berat jika harus meninggalkan dunia yang sudah diselaminya sejak 2003 lalu. Bukannya menyudahi tetapi ia justru bertekad terus mengembangkan berbagai inovasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Adalah Marfiah Astuti SPd, guru yang setia mengabdi tersebut. Namun tak sia-sia, sebab kecintaan dan kesetiyaan pada dunia pendidikan anak usia dini itulah yang membuatnya baru saja dianugerahi gelar Guru Berprestasi Kota Malang. Ia telah dinilai oleh dewan juri sebagai guru terbaik yang telah berhasil mengembangkan inovasi dalam proses belajar mengajar.

Senyum ramah langsung mengembang begitu KORAN PENDIDIKAN memberikan ucapan selamat. Ia mengaku cukup surprise dengan prestasi tersebut. Karena sejak awal mengikuti lomba, bukanlah kemenangan semata-mata yang ia kejar. “Saya tak memikirkan menang atau kalah. Yang saya pikirkan, apapun yang terjadi inilah saya, ingin tampil semaksimal mungkin,” ucapnya.

Di setiap penilaian, mulai dari portofolio, tes tulis, wawancara, dan presentasi Karya Tulis Ilmiah (KTI) selalu dihadapinya dengan low profil. Lalu inovasi apa yang berhasil ia kembangkan meskipun low profil namun tetap dipilih oleh dewan juri. Rupanya ia berhasil mengembangkan inovasi pembelajaran menggambar dengan metode kacagares. Judul KTI yang ia sampaikan adalah Meningkatkan Kemampuan Menggambar Anak Didik TK Unggulan AL-YA’LU Kelompok B dengan Metode Kacagares.

Seperti apa metodenya? dengan senyum ia mengaku masih enggan mengungkapkannya sebab tak ingin bocor dulu sebelum tampil di tingkat nasional. Namun yang jelas metode tersebut memiliki keunikan yang beda dari pembelajaran menggambar pada umumnya yang biasanya guru hanya memberi contoh dan murid-murid mengikutinya.

“Pendekatan yang saya lakukan lain, dan rupanya telah terbukti dapat meningkatkan kreativitas dan percaya diri pada anak karena memudahkan anak menggambar dan tak takut lagi menuangkan imajinasinya,” imbuh wanita kelahiran Pacitan, 14 Maret 1983 ini.

Hasilnyapun cukup signifikan. Diantaranya ia telah berhasil membawa para anak didiknya hingga ke tingkat Jawa Timur dalam lomba menggambar Hari Anak Nasional dan Festival Anak Indonesia. “Meskipun belum berhasil di tingkat nasional namun kebanggaan besar saya rasakan, sebab prestasi anak-anak tersebut murni dari pengajaran guru sendiri bukan dari les atau sanggar di luar sekolah seperti yang kebanyakan dilakukan sekolah lain,” imbuhnya.

Bahkan ia juga berhasil membuat sebuah buku yang diterbitkan oleh Dinas Pendidikan. Yakni buku cerita bergambar berjudul Gagak yang Sombong. Buku tersebut telah disebar ke seluruh Indonesia. “Buku ini saya dedikasikan untk seluruh anak Indonesia. Banyak pesan moral yang ingin saya sampaikan terutama tentang sifat rendah hati,” tambah lulusan S1 pGSD Universitas Negeri Malang (UM) ini.

Kelebihan lain yang ia miliki adalah di bidang teater baik dalam penulisan naskah ataupun pementasan. Beberapa naskah cerita hasil karyanya adalah Kartini, Diponegoro, Bung Tomo, dan Bekal Hidup Sepanjang Jaman yang kesemuanya di pentaskan dan dibuat film dokumenter.

Namun ia merasa seluruh kelebihan tersebut bukanlah satu-satunya kunci keberhasilan meraih prestasi. Sebab lebih dari itu, kebersahajaan dan keterbukaan juga turut menentukannya. Keterbukaan yang ia maksud adalah siap menerima masukan dan kritik dari orang lain. “Saya mohon doa restu dari pembaca KORAN PENDIDIKAN semoga bisa tampil maksimal di tingkat nasional nanti sehingga bisa mengharumkan nama Kota Malang” pungkasnya
———————————————————————————————————————–
Numpang di Balai Desa, Minim Sarana Bukan Kendala

Dalam lima tahun terakhir, pendidikan anak usia dini (PAUD) mengalami perkembangan pesat. Pada wilayah perkotaan, PAUD sudah hadir dalam berbagai bentuk mulai yang formal, informal, hingga nonformal. Pada banyak masyarakat di wilayah pinggiran, PAUD juga mulai dirasakan kebutuhannya. Bahkan hingga di desa-desa, masyarakatnya seperti sudah sadar akan pentingnya PAUD.

Seperti di dusun Gondang Barat, Desa Randuagung, Singosari, Malang yang sudah memiliki PAUD bernama Agung Kencana. Lembaga yang berdiri sejak 2005 itu, kini menjadi pilihan masyarakat sekitar untuk mendidik anak-anak usia dininya. Fasilitas yang dimiliki juga lebih lengkap dan didukung oleh semua kalangan perangkat desa. Namun, keberadaan PAUD ini tidak lepas dari perjuangan dan sosok Khusnul Fitriyah.

Ibu satu anak ini, bertekad mendirikan PAUD di desanya, usai mengikuti pelatihan tutor PAUD Se Kabupaten Malang pada Mei 2005 lalu. Namun kala itu, bukan hal mudah untuk merealisasikan tekadnya; mendirikan lembaga PAUD. Untuk menyadarkan tetangga dan warga sekitar, tidak seperti membalikkan telapak tangan. Penyadarannya perlu dilakukan secara langsung, pada setiap warga.

“Mencari murid saja, itu tidak gampang, harus mondar-mandir, dan door to door ke setiap rumah warga. Selain itu juga lewat sosialisasi di Posyandu. Ya, semua pendekatan harus dilakukan. Namanya juga yang pertama,” jelas Khusnul Fitriyah.

Kerja keras itu membuahkan hasil, meski kecil. Pada tahun pertama hadirnya, PAUD Agung Kencana memiliki tujuh anak didik. Sebagai ruang belajar, tiga ruang di Kantor Desa Randuagung pun akhirnya disulap. Dari ruang untuk gudang dan ruang hansip, akhirnya direlakan oleh H Abu Hasan selaku Kepala Desa, sebagai ruang kelas. Sampai hari ini pun, ya tiga ruang itu yang dimiliki PAUD Agung Kencana.

“Di tahun awal itu, dengan tujuh anak didik, kami manfaatkan satu ruang sebagai kelas dan merekrut tiga tutor. Sekarang, tiga ruang yang kami punya, sudah dimanfaatkan sebagai ruang belajar karena siswanya juga meningkat,” urainya.

Setelah berdirinya PAUD Agung Kencana ini, masyarakat sekitar kini lebih mengenal dan merasakan pentingnya pendidikan bagi anak usia dini. Sambutannya juga lebih antusias dengan ditandai dengan jumlah siswa yang terus mengalami peningkatan. “Keberhasilan ini berkat dukungan dari beberapa pihak. Tak kalah penting, dukungan sang suami dan restu dari orang tua,” tutur Khusnul Fitriyah.

Seiring perkembangannya, PAUD Agung Kencana belum diimbangi dengan sarana /fasilitas memadai. Pembelajaran yang sarat dengan permainan ini masih terkendala dengan minimnya alat peraga pembelajaran saat ini masih menggunakan alat peraga seadanya. Khusnul menaruh harapan supaya alat peraga pembelajaran bisa lebih layak menyesuaikan perkembanganya.

“Tampilan pembelajaran di lembaga kami, selain suguhan permainan juga membagi porsi pembelajaran dengan pengenalan baca tulis dan berhitung (calistung). Pembelajaran keagamaan juga kami tempatkan pada sisi keutamaan layaknya lembaga berbasis Agama. Kami mengajarkan pembelajaran menulis huruf hijaiyah, hafalan doa-doa, iqra’dan sebagainya,” ungkapnya

Tak kalah membanggakan, buah pengabdian yang dirasakan Khusnul hingga saat ini adalah mengenai pentingnya pendidikan usia dini telah tertanam kuat di masyarakat dan mempercayakan atau menempatkan PAUD Agung Kencana sebagai lembaga pendidikan anak usia dini pilihan.

“Meski beberapa berdiri lembaga PAUD di sekitar desa Randuagung, tetapi komentar masyarakat PAUD Agung Kencana dianggap paling telaten karena kunci keberhasilan pendidikan PAUD adalah ketelatenan. Sebab kami hadir bukan untuk persaingan namun memberika pelayanan pendidikan terbaik,” pungkas Khusnul Fitriyah
———————————————————————————————————————–
Motivasi Siswa Temukan Pemecahan Masalah

Kuliahnya, pada jurusan pendidikan kewarganegaraan. Namun karir bapak dua anak ini, malah moncer dari kreativitasnya dalam mengembangkan mata pelajaran Matematika. Bahkan saat harus menjadi kepala sekolah, kemonceran itu makin terlihat. Tak pelak, pada April lalu, Mariono SPd dinobatkan sebagai Kepala Sekolah Berprestasi Kabupaten Malang dan harus maju sebagai wakil untuk beradu kreativitas di tingkat provinsi.
Salah satu bekal pria kelahiran Malang 50 tahun lalu itu adalah idenya mengembangkan ‘Metode Balikan’ dalam Matematika. Inti dari metode ini, seperti dituturkan Mariono, merupakan upaya pemberian informasi atau pengetahuan kepada siswa dalam memecahkan soal Matematika. Bahkan juka ternyata jawaban siswa itu salah, metode ini bisa mencarikan jalan pemecahannya.

“Guru Matematika tidak dibenarkan hanya memberikan sebuah jawaban yang benar tanpa memberikan jalan pemecahannya. Siswa juga perlu diajak kreatif dan selalu ingin mencari pemecahan dari soal yang dianggap sulit. Dengan begitu, siswa akan termotivasi mencari jalan pemecahan soal dari jawaban yang paling benar serta memancing siswa kreatif memecahkan permasalahan yang sulit,”terang Mariono.
Melalui metode ini, diakui Mariono, hasilnya menggembirakan. Indikasinya, minat siswa untuk belajar Matematika meningkat dan berimbas pada mata pelajaran yang lain. Siswa yang semula menganggap Matematika sebagai momok dan menakutkan, kini nilainya makin baik. “Metode ini memberikan motivasi siswa dalam belajar Matematika. Mereka menjadi senang mencari jalan pemecahan dari dari soal-soal yang sulit,” tegasnya.
Lewat ‘Metode Balikan’ yang dituangkan dalam karya tulis inilah, Mariono yang menjadi Kepala SDN Pakisjajar 02 ini melaju sebagai yang terbaik di tingkat kecamatan Pakis. Berikutnya, metode ini pula yang menjadikan Mariono unggul dari 33 kecamatan yang ada di Kabupaten Malang. Tentunya, selain karya tulis ini, Mariono juga dinilai dari portofolio nya sekaligus tes-tes yang sifatnya tertulis.
“Pada 2003 lalu saya sebenarnya sudah mengikuti seleksi kepala sekolah berprestasi ini. Namun kala itu hanya mampu di juara tiga. Belajar dari sini, saya terus mengembangkan diri dan Alhamdulillah tahun ini bisa menjadi yang terbaik,” tuturnya.
Setelah berhasil menjadi juara I tingkat Kabupaten Malang, tugas luhur yang bakal diembanya tidaklah ringan dan harus lebih banyak melakukan persiapan sebagai upaya membekali kualitas diri. Bentuk persiapan adalah memperdalam metode balikan yang telah diangkat sebelumnya supaya lebih berkualitas dan lebih dikembangkan yang nantinya akan berguna bagi dunia pendidikan.
Komitmen dalam keikutsertaan pada lomba kepala sekolah berprestasi tingkat Provinsi Jawa Timur ini, mengharapkan mendapatkan berkah keberhasilan. Tidak ada target muluk-muluk, yang jelas amanat yang telah dipercayakan kepada dirinya akan dilaksanakan dengan maksimal dan sungguh-sungguh karena ini adalah sebuah tugas yang harus diemban mewakili daerah Kabupaten Malang dan tentunya keberhasilanya akan membawa harum nama daerah.
“Mohon doa restunya pelaksanaan dalam keikutsertaan pada ajang lomba kepala sekolah berprestasi tingkat Provinsi Jawa Timur nantinya berjalan lancar dan sukses,” harapnya melalui KORAN PENDIDIKAN.
Menurut Mariono, semua keberhasilan selama ini berkat dukungan dari berbagai pihak diantaranya; pengawas TK/SD UPTD pendidikan kecamatan Pakis, pengurus BP4, K3S kecamatan Pakis serta guru /teman kerja sejawat dilingkungan SD Negeri Pakisjajar 02 dan sebagainya yang belum kesebut. Motivasi, dukungan, bimbingan dan arahan terus diharapkan

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: