RSS

PTK SENI MUSIK

LAPORAN PTK
A. JUDUL PENELITIAN
Perbandingan Efektifitas Metode Drill Dengan Metode Demonstrasi Dalam Mengajarkan Alat Musik Rekorder Sopran Di Kelas VIII A SMP Negeri 2 Ciampel.

B. LATAR BELAKANG
Dalam merencanakan proses belajar mengajar dari seorang guru dituntut untuk dapat menentukan langkah-langkah yang sistematis dan efektif. Hal ini dilakukan karena tujuan yang hendak dicapai dalam pendidikan khususnya pendidikan seni musik mencakup tiga aspek yaitu aspek kognitif, aspek afektif, dan aspek psikomotor. Dalam pelaksanaan proses belajar mengajar guru harus mengusahakan metode yang tepat yang sesuai dengan materi yang akan diajarkan.
Pengertian metode disini dalah prosedur atau cara yang ditempuh dalam mencapai suatu tujuan tertentu. Sehubungan dengan ini Jamalus mengatakan bahwa metode penyajian dalam proses belajar mengajar ialah seperangkat upaya yang direncanakan dan disusun dengan tujuan menciptakan suasana belajar mengajar yang menguntungkan. Jadi perlu adanya perencanaan untuk mencapai tujuan yang akan dicapai.
Disamping kompetensi keguruan lainya, dari segi internal siswa, seorang guru perlu mengetahui bahwa kemampuan tiap siswa dalam bidang musik berbeda- beda. Ada siswa yang mampu dalam pelajaran teori musik tetapi lemah dalam pelajaran vocal atau sebaliknya. ada siswa yang lemah dalam teori musik dan vocal, tetapi dalam hal memainkan salah satu alat musik mungkin cukup terampil, hal ini perlu mendapat perhatian dari guru agar dalam memberikan evaluasi kepada siswa tetap objektif.
Didalam kurikulum SMP tahun 1984, tentang Garis – garis Besar Program pengajaran ( GBPP ) bidang studi musik, dinyatakan dalam Tujuan Instruksional Umum (TIU), pengetahuan tentang teknik memainkan alat musik, dan mampu menerapkannya dalam bermain musik, baik secara perorangan maupun bersama-sama. Penulis dalam penelitian tindakan kelas ini memilih alat musik rekorder sopran sebagai sarana pengajaran karena alat musik tersebut dapat terjangkau harganya oleh siswa, praktis untuk dibawa ke sekolah serta cara memeinkannya pun relatif mudah.
Mengajarkan alat musik rekorder sopran berarti mengajarkan penguasaan keterampilan psikomotor, karena melibatkan otot – otot jari tangan. Ada beberapa jenis metode pengajaran seni musik. Alternatif metode yang termasuk kategori pengajaran keterampilan psikomotor ialah metode driil dan metode demonstrasi.
Menurut pengamatan penulis pengajaran alat musik rekorder sopran disekolah – sekolah, guru hanya cukup mendemostrasikan. sehingga dalam interaksi kegiatan belajar mengajar gurulah yang lebih aktif. Situasi demikian cenderung membuat siswa pasif, sehingga keterampilan siswa kurang terbentuk, dan akibatnya hasil pengajaran kurang memuaskan. Padahal dalam mengajarkan alat musik rekorder sopran yang dominan mengandung aspek psikomotor, perlu dengan cukup mengajarkan keterampilan berupa latihan – latihan dari pelajaran yang telah diberikan.
Untuk menciptakan suasana demikian perlu diterapkan metode pengajaran yang dapat mendorong siswa untuk lebih aktif, sehingga dapat dicapai hasil belajar yang optimal. Metode pengajaran yang dimaksud yaitu metode drill, metode yang digunakan guru dalam mengajar dengan melatih keterampilan dan ketangkasan siswa dengan cara mengulang ngulang untuk membiasakan gerakan secara otomatis. Penerapan metode drill boleh dikatakan jarang dilakukan dikelas jika dibandingkan dengan metode demonstrasi dalam mengajarkan alat musik rekorder sopran.
Metode drill lebih menekankan kepada pengulangan dengan tujuan mencapai gerak otot secara otomatis, sedangkan metode demonstrasi lebih menekankan segi peniruan dan penggunaan konsep. Berdasarkan pernyataan di atas, terdapat perbedaan karakter kedua metode tersebut. Agar mendapat gambaran yang lebih jelas, dalam penelitian tndakan kelas ini penulis tertarik untuk meneliti perbandingan kedua metode tersebut terhadap hasil belajar siswa dalam mempelajari alat musik rekorder sopran.
C. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah diatas, rumusan masalah pada penelitian tindakan kelas ini adalah: “ Perbandingan efektifitas metode drill dengan metode demonstrasi dalam mengajarkan alat musik rekorder sopran di kelas VIII A SMP Negeri 2 Ciampel”.
Berdasarkan rumusan masalah tersebut maka dapat dirumuskan pertanyaan-pertanyaan penelitian sebagai berikut:
1. Apakah metode drill lebih efektif dibandingkan dengan metode
demonstrasi dalam mengajarkan alat musik rekorder sopran di kelas VIII A
SMP Negeri 2 Ciampel ? atau
2. Apakah metode demonstrasi lebih efektif dibandingkan dengan metode
drill dalam mengajarkan alat musik rekorder sopran di kelas VIII A SMP
Negeri 2 Ciampel ?

D. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian ini dimaksudkan untuk :
1. Mengumpulkan data tentang nilai hasil belajar rekorder sopran di kelas VIII
A SMP Negeri 2 Campel melalui metode drill.
2. Mengumpulkan data tentang nilai hasil belajar rekorder sopran di kelas VIII
A SMP Negeri 2 Campel melalui metode demonstrasi.
3. Membandingkan keefektifan antara metode driil dengan metode
demonstrasi dalam mengajarkan alat musik rekorder sopran di kelas VIII A
SMP Negeri 2 Campel.

E. MANFAAT PENELITIAN
Hasil penelitian tindakan kelas ini diharapkan dapat berguna untuk:
Meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII A SMPN 2 Ciampel dalam memainkan alat musik rekorder sopran dengan menggunakan metode drill.
Meningkatkan hasil belajar siswa kelas VIII A SMPN 2 Ciampel dalam memainkan alat musik rekorder sopran dengan menggunakan metode demonstrasi.
Meningkatkan motivasi siswa dalam memainkan alat musik rekorder sopran dengan menggunakan metode drill maupun metode demonstrasi.

F. KAJIAN PUSTAKA

a). Hakikat Metode Mengajar
Penggunaan metode pengajaran dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya guru, siswa, dan lingkungan. Hal ini sesuai dengan pendapat B. Suryobroto:
“Metode adalah cara yang dalam fungsinya merupakan alat untuk mencapai tujuan, makin tepat metodenya, diharapkan makin efektif pula pencapaian tujuan tersebut. Tetapi khususnya dalam bidang pengajaran disekolah. ada beberapa faktor lain yang ikut berperan dalam menentukan efektifnya metode pengajaran, antara lain adalah faktor guru itu sendiri, faktor anak, dan faktor situasi ( lingkungan belajar)”.
Metode mengajar yang digunakan dalam pengajaran musik banyak jenisnya, dan tiap jenis metode pengajaran pada umumnya dibicarakan secara terpisah. Namun dalam pelaksanaannya di kelas hampir tidak ada metode yang diterapkan sendiri sendiri secara terpisah. Biasanya yang dilakukan guru adalah gabungan dari beberapa metode. Seperti dikatakan oleh Jamalus bahwa : “ ….tidak ada satu pun metode yang paling ampuh dan sempurna. Tiap tiap metode pengajaran mempunyai kelebihan dan kekurangannya”.
Begitu juga dalam mengajarkan alat musik rekorder sopran, perlu digunakan metode yang tepat yang sesuai dengan tujuan pengajaran tersebut. Aspek psikomotor merupakan salah satu aspek yang dominan dalam mengajarkan rekorder sopran, karena melibatkan gerakan otot otot jari, bibir dan lidah. Sehubungan dengan aspek psikomotor Bloom menyatakan :
Psikomotor adalah kemampuan yang menekankan kepada keterampilan motorik atau gerakan motorik, keterampilan otot, dan beberapa kegiatan yang menghendaki koordinasi syaraf syaraf otot.
Selanjutnya Dave mengklasifikasi aspek psikomotor kedalam 5 kategori, dari tingkatan yang rendah sampai pada tingkat yang paling tinggi yaitu :
1. Imitation ( peniruan ) : suatu keterampilan untuk menirukan sesuatu yang telah dilihat, didengar dan dialaminya.
2. Manipulation ( penggunaan Konsep ) : keterampilan untuk menggunakan konsep dalam melakukan kegiatan.
3. Presition ( ketelitian ) : keterampilan yang berhubungan dengan kegiatan melakukan gerakan secara teliti dan benar.
4. Articulation ( rangkaian ) : keterampilan untuk merangkaiakan bermacam macam gerakan secara berkesinambungan.
5. Naturalisation ( naturalisasi ) : keterampilan untuk melakukan gerakan secara wajar.
Selanjutnya Dave menyatakan bahwa alternatif metode yang termasuk kategori pengajaran keterampilan psikomotor ialah metode demonstrasi dan metode drill. Sehubungan dengan itu Dave mengkategorikan aspek psikomotor yaitu :
Metode Demonstrasi adalah alternatif metode yang termasuk kategori metode pengajaran psikomotor tingkat imitation ( peniruan ) dan tingkat manipulation (penggunaan konsep ).
sedangkan Metode Drill adalah alternatif metode yang termasuk kategori pengajaran keterampilan psikomotor tingkat resition ( ketelitian ), articulation ( rangkaian ) dan naturalisation ( naturalisasi ).

b) Hakikat Metode Demonstrasi
Mengenai metode demonstrasi Iman Szah Alipandie memberikan batasan sebagai berikut :
Metode Demonstrasi ialah suatu metode mengajar yang dilakukan guru atau seseorang lainnya dengan memperlihatkan kepada seluruh kelas tentang suatu proses atau cara melakukan sesuatu.
Guru menjanjikan bahan pelajaran dengan mempertunjukkan secara langsung objeknya atau prosesnya. Selanjutnya Jusuf Djayadisastra berpendapat bahwa dalam metode ini peranan guru sangat menentukan karena kejelasan dari sesuatu yang dipertunjukkan dan dijelaskan tergantung dari cara guru tersebut memperlihatkannya.
Penggunaan metode demonstrasi khususnya, dalam mengajarkan alat musik rekorder sopran, guru terlebih dahulu mendemonstrasikan seluruh lagu yang nantinya akan dimaninkan oleh siswa. Peranan guru sangat besar karena dituntut untuk mampu menguasai alat musik yang nantinya akan dimainkan oleh siswa. Peranan guru sangat besar karena guru dituntut untuk mampu menguasai alat musik yang akan didemonstrasikan kepada siswa, dan guru harus dapat bermain sesempurna mungkin, seperti pendapat dari J.Brian Brocklehurat bahwa standar yang baik pada permainan rekorder dapat dicapai hanya jika guru sendiri dapat bermain dan mendemonstrasikan alat musik tersebut dengan sempurna.
Jika perlu guru dapat mengulang kembali demonstrasi agar siswa memperoleh pengetahuan dan pemahaman yang lebih jelas dan keterampilan yang lebih tinggi dengan berfartisipasi aktif dalam melakukan demonstrasi, setelah guru mendemostrasikan cara memainkan alat musik rekorder sopran, siswa segera dapat melakukannya.
Metode demonstrasi termasuk kedalam metode pengajaran keterampilan psikomotor tingkat peniruan dan penggunaan konsep. Siswa dituntut untuk dapat mendemostrasikan apa yang sedang dipelajarinya.pada awalnya peniruan yang dilakukan siswa masih dalam tahap yang dasar. Setelah itu siswa harus dapat mencoba sendiri, dan diharapkan ia dapat belajar tanpa meniru lagi dan dapat menginterprestasikan lagu yang dimainkannya pada alat musik rekorder sopran dengan benar. Hal ini akan berpengaruh positif bagi siswa yang aktif karena ia terus mencari dan mencoba untuk mendapatkan konsep yang paling benar dari hasil peniruannya. Tapi lain halnya bagi siswa yang pasif, keadaan ini tentu sangat menyulitkan karena siswa masih membutuhkan rangsangan untuk mendapat konsep yang benar.
Demonstrasi kurang epektif bila tidak diikuti dengan aktifitas, dimana siswa dapat bereksperimen dan menjadikan eksperimen itu pengalaman pribadi. Dengan mendapatkan pengalaman praktek bermain instrumen rekorder sopran berarti setiap siswa telah mengalami dan merasakan sendiri pengaruh pengajaran musik yang makin sempurna. kemudian agar diketahui hasilnya baik oleh guru maupun teman sekolah, siswa diberi kesempatan untuk mendemonstrasikan alat musik tersebut dikelas.
Demikian perlunya metode demonstrasi dalam proses belajar mengajar musik, di mana alat bantu pelajaran yang digunakan selalu membantu sekaligus mencegah verbalisme. Bukan kata-kata yang dijelaskan oleh guru akan tetapi peragaan atau demnstrasi melalui tindakan, karena dengan verbalisme akan membosankan siswa dalam belajar. Hal ini sesuai dengan pendapat Madyo Ekosusilo:
Agar suatu lagu yang akan dipelajari dapat menarik perhatian siswa, demonstrasi guru sangat diperlukan. Demikian pula dalam menjelaskan beberapa aspek teori musik, misalnya tentang akor, birama, unsur ritmik, ansambel dan sebagainya. jika hal-hal tersebut hanya dijelaskan tanpa contoh, akan memberikan kesan yang verbalistis.
Adapun kelebihan dan kekurangan daripada metode demonstrasi adalah sebagai berikut :
Kelebih- kelebihan
1. Membentuk pengertian yang baik dan sempurna karena siswa mengamati secara langsung permainan alat musik rekorder sopran.
2. Perhatian siswa dapat terpusat pada hal-hal penting yang didemonstrasikan oleh guru.
3. Siswa dapat menirukan atau melakukan dengan segera dan tepat sesuatu kecakapan yang memerlukan keterampilan motorik.

Kekurangan- kekurangan
1. Metode ini akan merupakan metode yang tidak wajar apabila alat musik yang didemonstrasikan tidak dapat diamati dengan seksama oleh siswa.
2. Setiap siswa dituntut untuk dapat mendemonstrasikan kembali setelah guru mendemonstrasikan alat musik rekorder sopran. Hal ini tentu sangat memberatkan siswa yang baru mempelajari alat musik tersebut.
3. Guru mengira bahwa prinsip yang hendak ditonjolkan itu sudah jelas karena guru telah berkali kali mengulang mendemonstrasikan.
4. Guru tidak dapat mengadakan kontrol penuh terhadap respon siswa.
5. Siswa lebih banyak mengingat lagu yang telah didemonstrasikan oleh guru daripada membaca secara sadar penulisan notasi balok dalam lagu.

C. Hakekat Metode Drill
Terlepas dari metode demonstrasi untuk memperoleh ketangkasan dan keterampilan bermain rekorder sopran diperlukan latihan-latihan. Untuk latihan ini diperlukan metede drill atau metode latihan siap. Imansjah Alipandie memberikan batasan tentang metode drill atau metode latihan siap sebagai berikut:
Metode latihan siap ialah cara mengajar yang dilakukan oleh guru dengan jalan melatih ketangkasan atau katerampilan para murid terhadap bahan pelajaran yang yang telah diterima.
Metode drill sangat tepat digunakan pada pelajaran yang memerlukan respon berupa tingkah laku. Pendapat lain menyatakan , metode drill adalah satu kegiatan melakukan hal yang sama, berulang ulang secara sungguh-sungguh dengan tujuan untuk memperkuat suatu asosiasi atau menyempurnakan suatu keterampilan, agar bersipat permanen. Dengan demikian pengulangan dari tingkah laku yang telah dipelajari disamping akan menguatkan tingkah laku juga menjadikan tingkah laku itu bagian dari siswa, sehingga siswa dapat melakukan permanan alat musik recorder sopran dengan mudah, dengan melakukan lathan-lathan yang sistematik, siswa akan terbiasa melakukan gerakan yang otomatis.
Perlakuan utama pada metode drill dalam mengajarkan alat musik recorder sopran, dengan memberikan latihan yang dilakukan secara berulang-ulang pada bagian lagu yang dianggap penting, umpamanya pada latihan tangga nada dan bagian lagu yang mempunyai pola ritmik dan teknik penjarian yang agak sulit
Teknik penjarian merupakan hal yang sangat penting dalam mengajarkan alat musik recorder sopran. Teknik penjarian ini dapat dilatih secara berulang ulang untuk membiasakan gerakan jari secara otomatis. Sehubungan dengan latihan penjarian Latipah Kodijat menyatakan bahwa “ Penjarian yang baik adalah setengah hasil pekerjaan” pengaruh latihan pertama, kedua, ketiga, dan seterusnya memiliki situasi yang berbeda-beda terhadap peningkatan keterampilan siswa. Selanjutnya guru melakukan koreksi terhadap respon siswa. Jika terjadi kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa maka guru dengan segera melakukan perbaikan-perbaikan.
Metode drill merupakan alternatif metode yang termasuk kategori metode pengajaran keterampilan psikomotor tingkat presition( ketelitian), articulation ( perangkaian), Naturalisation( naturalisasi). Dalam tingkat presition siswa menunjukan permainan alat musik rekorder sopran dengan teliti dan benar, sesuai dengan unsur- unsur musik tersebut misalnya irama, birama, nada, harmoni, dan ekspresi.
Irama adalah jiwa, kehidupan, vitalitas musik. Dan birama adalah kerangka lagu, yang memberikan bentuk kepada lagu. Memainkan lagu dengan irama yang salah akan merubah watak lagu. Nada adalah bahan pokok dari lagu. Deretan nada- nada (melodi) mempertinggi daya ungkap perasaan yang ada dalam kalimat lagu. Unsur- unsur musik tersebut dapat diterapkan secara benar dalam memaikan alat musik rekorder sopran, jika melakukan latihan secara rutin dan kontinu.
Untuk tingkat articulation, siswa dapat menunjukan permainan alat musik rekorder sopran secara berkesinambungan dan lancar. Sedangkan tingkat naturalisation, siswa dapat mengekspresikan lagu yang dibawakannya pada alat musik rekorder sopran dengan wajar. Dalam memberikan latihan-latihan guru pun harus kreatif dalam usahanya mempertahankan minat siswa untuk terus berlatih. Sebab pengulangan yang dilakukan secara terus menerus umumnya akan membosankan siswa. Jadi diperlukan kesabaran, keuletan, dan ketekunan dari guru.
Hal pertama yang dimengerti oleh siswa adalah bahwa berlatih berarti mengulang. Setelah beberapa kali berlatih, gerakan ini akan menjadi suatu kebiasaan, dan kita tak perlu berfikir lagi. Jari akan bergerak secara otomatis tanpa diarahkan secara sadar oleh otak.
Semula metode ini berasal dari Herbart yang terkenal dengan teori asosiasinya, yang pada pokoknya berpendapat, dengan mengulang-ngulang pelajaran akan memperkuat tanggapan dan ingatan siswa. Ciri khas dari metode ini adalah kegiatan berupa pengulangan berkali kali dari suatu hal yang sama. Pengulangan ini sengaja dilakukan berkali-kali agar asosiasi antara stimulus (S) dan respon (R) menjadi sangat kuat. Secara sederhana hal ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Latihan ke-1 S…………R (asosiasi masih ragu ragu)
Latihan ke-2 S. . . . . . . .R (asosiasi masih ada)
Latihan ke-3 S _______ R (asosiasi mulai kuat)
Latihan ke-4 S =======R (asosiasi sangat kuat)
Dengan pengulangan berkali-kali asosiasi yang timbul akan mengalami perubahan yang bertahap. Hal ini berarti koordinasi suatu gerak motorik dapat tercapai jika melakukan berkali-kali secara kontinu. Adapun kelebihan dan kekurangan dari metode drill adalah sebagai berikut ;
Kelebihan-kelebihan
(1) Metode drill sangat tepat digunakan untuk kecakapan motorik dengan
tujuan melatih otomatisasi.
(2) Metode ini mengajak siswa untuk dapat berlatih secara intensif untuk
membiasakan gerakan secara otomatis.
(3) Dengan metode drill guru dapat mengadakan kontrol penuh terhadap
respon siswa dalam memainkan alat musik rekorder sopran.
Kekurangan-kekurangan
(1) Latihan dibawah pengawasan yang ketat dan dalam suasana yang
sering mudah sekali menimbulkan kebosanan dan kelelahan siswa.
(2) Latihan latihan yang selalu diberikan dibawah bimbingan guru dapat
mematikan inisiatif siswa.
(3) Drill yang tidak dapat dipahami tujuan dan kemanfaatanya dapat
menimbulkan sifat verbalisme.
(4) Karena tujuan latihan adalah untuk mengokohkan asosiasi tertentu
maka murid akan merasa asing terhadap stimulus-stimulus baru.

D. Bermain Alat Musik Rekorder
Dalam mempelajari alat musik rekorder sopran secara teoretis akan dijelaskan tentang jens-jenis rekorder, bagian-bagan rekorder sopran, dan teknik memainkannya.
a. Jenis jenis rekorder sopran
Seperti alat tiup musik lainnya, rekorder mempunyai keluarga tersendiri dimulai dari ukuran yang terkecil hingga yang terbesar. Pada umumnya dkenal 5 (lima) jenis yaitu: sopranino, sopran, alto, tenor dan bass. Rekorder sopran tergolong jenis alat musik tiup (wood wind), dan sekarang sudah banyak dproduksi dari bahan ebonite. Alat musik rekorder sopran dikelompokkan dalam alat musik melodis karena berfungsi sebagai melodi yang merupakan rentetan nada yang mengalir secara ritmis. Sehubungan dengan hal itu sunaryo mengatakan melodi yang dciptakan dapat ditambah daya pengungkapannya dengan memberi warna nada (timbre). Warna nada (timbre) yang keluar dari instrument itu tidak menetapkan suasana yang sebenarnya, melainkan lebih memberi tekanan pada ekspresi melodinya. Dikatakan selanjutnya, ciri khas yang dimiliki rekorder (seruling) yaitu memberi suasana/perasaan dialam bebas misalnya suasana pohon yang rindang, sawah yang terbentang, dan padang alang-alang yang tertiup angin.
b. Bagian-bagian rekorder sopran
Bagian-bagian rekorder sopran dapat dilihat pada gambar dibawah ini

c. Teknik bermain alat musik rekorder sopran
Sikap dalam memainkan alat musik rekorder sopran bisa dilakukan dengan duduk atau berdiri. Keduanya memerlukan sikap badan yang tegak dan bahu bersikap wajar. Hal ini diungkapkan oleh Margaret B. dan Elizabet P dalam bukunya “ How to play The Rekorder “, bahwa pada waktu memegang rekorder kedua tangan tergantung bebas agak juga dari badan. Ketegangan tangan harus dihindarkan. perlu diusahakan kedudukan tangan dengan garis tegak tubuh membuat sudut 40 derajat sampai dengan 60 derajat.
Teknik yang paling pokok dalam memainkan alat musik rekorder sopran yaitu teknik pernapasan, teknik penjarian, dan teknik tiupan ( produksi nada). Teknik pernapasan yang digunakan dalam meniup alat musik rekorder sopran ialah dengan teknik pernapasan perut / diafragma, seperti pada teknik menyanyi. Untuk teknik penjarian selanjutnya Agus Setiana menyatakan, penjarian yang baik adalah menutup lubang- lubang rekorder sopran dengan jari bagian atas dari ruas yang paling ujung. Dan untuk teknik tiupan agar produksi nada yang tepat, siswa melakukan teknik pembentukan nada-nada tinggi dan nada rendah. Untuk membunyikan nada- nada tinggi, yang harus diperhatikan adalah bentuk mulut, Bentuk mulut seperti mengucapkan suku kata ti………, dan tenggorokan sedikit di tekan agar salurannya menyempit, Dengan demikian udara yang telah didorong oleh diafragma akan keluar dengan tekanan keras, tekanan demikian yang diperlukan untuk membunyikan nada-nada tinggi. Sedangkan untuk membunyikan nada-nada rendah mulut kita seakan akan mengucapkan suku kata tu……., besarnya hembusan udara harus lebih diperkirakan jika dbandingkan dengan meniup nada-nada tinggi. Tiupan yang baik akan menghasilkan bunyi nada yang baik pula.

G. RENCANA TINDAKAN
Populasi penelitian tindakan kelas ini adalah siswa kelas VIII A yang berjumlah 40 orang yang terbagi dalam 2 kelompok yaitu kelompok 1 yang berjumlah 20 orang dan kelompok 2 dengan jumlah 20 orang, Setelah itu diundi untuk menentukan kelas dan metode pengajaran yang akan digunakan. Dari pengundian ditentukan, kelompok 1 diberi pengajaran dengan metode drill dan kelompok 2 diberikan pengajaran dengan metode demonstrasi.
INSTRUMEN PENELITIAN
Tes yang diberikan berupa tes perbuatan, sedangkan materi yang digunakan untuk mengukur prestasi belajar siswa dalam bermain rekorder sopran adalah sebagai berikut:
Instrumen yang digunakan berupa tes kemampuan memainkan alat musik rekorder sopran, yang terdiri tiga bentuk tes. Bentuk tes pertama memainkan 1 buah tangga nada, bentuk kedua memainkan lagu I ( lagu soleram ) dan bentuk ketiga memaikan lagu II ( lagu Semua Tentang Kita ). Nilai tertinggi yang dapat dicapai adalah 100 dengan rincian, bentuk pertama terdiri dar 2 kriteria, nilai maksimal yang dapat dicapai adalah 20. Bagian kedua dan ketiga masing-masing terdiri tiga kriteria penilaian, nilai maksmal yang dapat dicapai oleh tiap-tiap bagian adalah 40. Jadi secara keseluruhan kriteria penilaian ada delapan. Untuk lebih jelasnya, format pengujian instrument penelitian adalah sebagai berikut :

Aspek
yang
duji Tangga nada Lagu I Lagu II Jml
Tempo
(1) Ketepatan nada (2) Sikap
(3) Teknik
(4) Eksprs.
(5) Sikap
(6) Teknik
(7) Eksprs.
(8)
Skor (10) (10) (8) (16) (16) (8) (16) (16) (100)
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
dst.

Keterangan
(1) = penilaian tempo pada tangga nada
(2) = penlaian ketepatan nada pada tangga nada
(3) = penilaian sikap pada lagu I
(4) = penilaian teknik memainkan rekorder sopran pada lagu I
(5) = penilaian ekspresi pada lagu I
(6) = penilaian sikap pada lagu II
(7) = penilaian teknik memainkan rekorder sopran pada lagu II
(8) = penilaian ekspresi pada lagu II

Skor Penilaian
1. Tangga nada : – Tempo (1)…….(skor maksimal 10)
– Ketepatan nada (2)…….(skor maksimal 10)
2. Lagu I : – Sikap (3)…….(skor maksimal 8)
– Teknik (4)…….(skor maksimal 16)
– Ekspresi (5)…….(skor maksimal 16)
3. Lagu II : – Sikap (6)…….(skor maksimal 8)
– Teknik (7)…….(skor maksimal 16)
– Ekspresi (8)…….(skor maksimal 16)
_______________________________________
Jumlah skor maksmal = 100

Penelitian Tindakan Kels ini dilakukan oleh dua orang penguji, kemudian hasilnya dirata-ratakan. untuk validitas, digunakan validitas isi (content validity) yaitu sebuah tes untuk mengukur tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi atau isi yang diberikan.

TEKNIK ANALISIS DATA
Hipotesis Nol yang diuji
HO = Metode demonstrasi sama efektifnya dengan metode drill dalam mengajarkan alat musik rekorder sopran.
Hipotesis Statistik
HO = 1 = 2
HP = 1 > 2
Keterangan
1 = Nilai rata-rata kelompok eksperimen
2 = Nilai rata-rata kelompok kontrol.
Data yang diperoleh akan dianalisis dengan rumus uji-t satu arah, pada taraf signifikansi 0.05. Rumusan pengujian adalah :

t = x_1 – x_2
〖x1〗^2 + 〖x2〗^2 1 + 1
n_1 + n_2 – 2 n_1 n_2

Keterangan :

x_1 = mean dari kelompok yang menggunakan metode drill
〖 x〗_1 = mean dari kelompok yang menggunakan metode demonstrasi
〖 x1〗^2 = jumlah skor simpangan yang dikuadratkan dari kelompok yang
menggunakan metode drill.
〖 x2〗^2 = jumlah skor simpangan yang dikuadratkan dari kelompok yang
menggunakan metode demonstrasi
〖 n〗_1 = jumlah sampel dari kelompok yang menggunakan metode drill
〖 n〗_2 = jumlah sampel dari kelompok yang menggunakan metode demonstrasi

JADWAL PELAKSANAAN KEGIATAN
Siklus 1 dilaksanakan pada tanggal 8 Maret 2011 dan 12 Maret 2011.
Siklus 2 dilaksanakan pada tanggal 15 Maret 2011 dan 19 Maret 2011.

ANGGARAN BIAYA KEGIATAN
Rincian Biaya yang diusulkan
Pemasukan
Dana dari Program SSN Rp. 500.000,00
Pengeluaran
a) Transport penguji 2 Rp. 100.000,00
b) Biaya print Lembar Kerja,
proposal, dan pelaporan Rp. 150.000,00
c) Dokumentasi Rp. 50.000,00
d) Biaya observasi Rp. 200.000,00
Jumlah Rp. 500.000,00
DAFTAR PUSTAKA

Ary, Donald, et, al. Pengantar Penelitian dalam Pendidikan. Terjemahan Arief Furchan. Surabaya : Penerbit Usaha Nasonal, 1982.
Departemen P dan K. Kurikulum Menengah Pertama (SMP) 1984. Jakarta : PN Balai Pustaka, 1988.
Djayadisastra, Yusuf. Metode-Metode Mengajar. Bandung Angkasa, 1982
IKIP Jakarta, Pedoman Penulisan Ilmiah. Jakarta : IKP Jakarta, 1986.
Jamalus, ed. Musik 4. Jakarta : Proyek Pengadaan Buku Sekolah Pendidikan Guru, 1981.
Setiana, Agus. Tuntunan Bermain Serulng Sopran. Jakarta : Penerbit Yayasan Musik Indonesia, 1982.
Soeharto, M. Belajar Main Rekorder. Jakarta Penerbit PT Gramedia, 1987.
Suryobroto, B. Mengenal Metode Pengajaran di Sekolah. Yogyakarta : Amarta, 1986.

 

3 responses to “PTK SENI MUSIK

  1. FREDRIK ROBINTA GINTING

    Maret 21, 2012 at 6:40 am

    keterangan anda cukup bagus dan terarah tujuannya dan sudah bisa di pakai dikalangan siswa baik SMP mau pun SMA

     
  2. Devis Mardiana

    Mei 12, 2012 at 11:32 am

    terimakasih, akan saya jadikan bahan untuk membuat karya tulis.

     
  3. Maria Wangge

    Agustus 24, 2012 at 3:53 am

    terimakasih untuk tulisannya..

     

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: