RSS

Membangun Edupreneurship di Sekolah

28 Jul

Mari kita renungkan, kita lihat negara-negara maju seperti Amerika, Singapura, Inggris, Jepang dan lainnya. Kita hitung secara persentase banyaknya pengusaha di setiap negara tersebut. Singapura kurang lebih 7 persen banyaknya pengusaha dari total penduduknya, Indonesia kurang dari 1 persen banyaknya pengusaha, sedangkan jumlah idealnya adalah sekurang-kurangnya 2 persen dari total penduduk.
Sebagai bangsa yang besar kita harus menjadi negara yang berdaulat baik itu dari segi pendidikan, budaya, pangan dan lain sebagainya untuk mewujudkan negara yang berdaulat maka kita harus berdikari (berdiri di atas kaki sendiri) kepercayaan kepada kemampuan diri sendiri harus kita tingkatkan dan kita lestarikan.
Untuk mewujudkan hal itu mari kita lihat, sebenarnya perjalanan dunia ini sampai dimana? Jika kita cermati ternyata perjalanan dunia ini sudah memasuki zaman yang serba canggih namun karena manusia semakin banyak sehingga dunia ini harus bekerja lebih besar.
Mental dan karakter entrepreneurship harus ditanamkan sejak dini, mulai duduk di sekolah tingkat dasar karena anak-anak memiliki jiwa muda, dengan karakteristik yang uniq yang mampu menyerap hidden kurikulum di sekitarnya. Dengan demikian maka mental “The Winner” menjadi pengusaha akan terpatri dalam otak.
Penanaman entrepreunership di sekolah dasar, melalui kegiatan weekend enterpreuner, yang mana dalam setiap semester diadakan bazar kelas, setiap kelas diberi modal yang sama, dengan modal yang sama itu diminta untuk mengalokasikan modal agar modal tersebut bertambah. Caranya dengan membuka stand bazar, boleh menjual aneka barang atau aneka jasa, misalnya pernak-pernik berupa alat tulis, jasa sol sepatu, jasa merangkai bunga dll. Setiap kelas menjual aneka barang dan jasa yang berbeda.
Barang atau jasa yang diperdagangkan merupakan icon setiap kelas per semesternya. Misalnya semester pertama, ada kelas jasa perakitan bunga, kelas sol sepatu, ada juga kelas martabak, kelas bakso, dan beberapa kreasi jualan lainnya.
Sekolah juga dapat mengembangkan pabrik daging mini, taman herbal mini di lingkungan sekolah, hal ini tujuannya untuk mewadahi siswa yang ingin ber-enterpreunership dibidang pertanian dan peternakan. Pertanian dan peternakan di sekolah untuk jangka ke depannya dapat dijadikan bahan baku untuk meningkatkan gizi siswa, atau membuat kantin mini yang juga di kelola siswa. Dengan demikian siswa dapat belajar kehidupan nyata melalui entrepreuner di sekolah.
Kebiasaan entrepreuner sejak dini ini, akan memacu pola pikir anak menjadi lebih berkembang, maju, melejit dan siap lahir dan batin menjadi generasi-generasi agent of change, yang mampu membangkitkan negara Indonesia menjadi negara yang sukses dan mulia di kancah Internasional.
Nah sekarang tugas kita sebagai pendidik, atau calon pendidik apakah tetap duduk manis di tempat, ataukah ikut bergerak menyadarkan? Jawabannya ada di hati nurani Anda

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 28, 2011 in Uncategorized

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: