RSS

Renungan

Suatu hari, seorang tokoh masyarakat sedang berkeliling memantau lingkungannya. Kemudian, ia mampir ke rumah seorang petani. Ia terkesan oleh kepandaian dan sikap yang amat ramah dari seorang anak kecil, putri satu-satunya dalam rumah itu, yang berusia empat tahun.

Kemudian, tokoh masyarakat itu menemukan satu hal yang membuatnya kagum. Ibunya berada di dapur, sedang mencuci bagian-bagian lemari es yang paling sulit ketika anak itu datang kepadanya dengan membawa sebuah majalah. “Mami, apa yang sedang dilakukan orang dalam foto ini?” tanyanya.

Sang ibu segera mengeringkan tangannya, duduk sambil memangku anaknya, dan menghabiskan waktu selama 10 menit untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan putrinya dengan lembut. Setelah anak itu puas dengan penjelasan ibunya, ia segera turun dan berlari ke halaman rumah untuk bermain.

Segera saja, tokoh masyarakat tersebut mengomentari tindakan dan sikap sang ibu yang istimewa itu, dalam menghadapi putrinya. “Wah, setahu saya, kebanyakan kaum ibu tidak mau diganggu kalau sedang sibuk bekerja seperti itu. Kadang mereka menyuruh si anak bertanya kepada ayahnya, atau pembantunya..”

“Saya masih dapat membersihkan lemari es itu selama sisa hidup saya, Pak,” kata ibu itu kepada sang tokoh masyarakat, “tetapi, peristiwa di mana putri saya menanyakan pertanyaan itu kepada saya mungkin tidak akan pernah terulang lagi, apalagi jika menyuruhnya bertanya kepada orang lain.”

Pesan Moral dari Cerita Ini:
“So, Tunjukkan cinta, prioritaskan waktu dan perhatian kita untuk orang-orang terkasih dalam kehidupan kita, sesibuk apa pun kita dalam kehidupan sehari-hari.”
=======================================================================================================================

Kisah Kasih Tulus Si Bocah Polos

Banyak hal yang bisa dijadikan pelajaran, namun pelajaran hidup dari mereka yang melakukannya tanpa niat memberi teladan akan sangat mengena. Pelajaran itu datang dari anak-anak yang masih polos, di antaranya sebagai berikut.

Zhang Da harus menanggung beban hidup yang berat ketika usianya masih sangat belia. Tahun 2001, ketika usianya menjelang 10 tahun, Zhang Da harus menerima kenyataan ibunya lari dari rumah. Sang ibu kabur karena tak tahan dengan kemiskinan yang mendera keluarganya. Yang lebih tragis, si ibu pergi karena merasa tak sanggup lagi mengurus suaminya yang lumpuh, tak berdaya, dan tanpa harta. Dan ia tak mau menafkahi keluarganya.

Maka Zhang Da yang tinggal berdua dengan ayahnya yang lumpuh, harus mengambil-alih semua pekerjaan keluarga. Ia harus mengurus ayahnya, mencari nafkah, mencari makanan, memasaknya, memandikan sang ayah, mencuci pakaian, mengobatinya, dan sebagainya.

Yang patut dihargai, ia tak mau putus sekolah. Setelah mengurus ayahnya, ia pergi ke sekolah berjalan kaki melewati hutan kecil dengan mengikuti jalan menuju tempatnya mencari ilmu. Selama dalam perjalanan, ia memakan apa saja yang bisa mengenyangkan perutnya, mulai dari memakan rumput, dedaunan, dan jamur-jamur untuk berhemat. Tak semua bisa jadi bahan makanannya, ia menyeleksinya berdasarkan pengalaman. Ketika satu tumbuhan merasa tak cocok dengan lidahnya, ia tinggalkan dan beralih ke tanaman berikut. Sangat beruntung karena ia tak memakan dedaunan atau jamur yang beracun.

Usai sekolah, agar dirinya bisa membeli makanan dan obat untuk sang ayah, Zhang Da bekerja sebagai tukang batu. Ia membawa keranjang di punggung dan pergi menjadi pemecah batu. Upahnya ia gunakan untuk membeli aneka kebutuhan seperti obat-obatan untuk ayahnya, bahan makanan untuk berdua, dan sejumlah buku untuk ia pejalari.

Zhang Da ternyata cerdas. Ia tahu ayahnya tak hanya membutuhkan obat yang harus diminum, tetapi diperlukan obat yang harus disuntikkan. Karena tak mampu membawa sang ayah ke dokter atau ke klinik terdekat, Zhang Da justru mempelajari bagaimana cara menyuntik. Ia beli bukunya untuk ia pelajari caranya. Setelah bisa ia membeli jarum suntik dan obatnya lalu menyuntikkannya secara rutin pada sang ayah.

Kegiatan merawat ayahnya terus dijalaninya hingga sampai lima tahun. Rupanya kegigihan Zhang Da yang tinggal di Nanjing, Provinsi Zhejiang, menarik pemerintahan setempat. Pada Januari 2006 pemerintah China menyelenggarakan penghargaan nasional pada tokoh-tokoh inspiratif nasional. Dari 10 nama pemenang, satu di antaranya terselip nama Zhang Da. Ternyata ia menjadi pemenang termuda.

Acara pengukuhan dilakukan melalui siaran langsung televisi secara nasional. Zhang Da si pemenang diminta tampil ke depan panggung. Seorang pemandu acara menanyakan kenapa ia mau berkorban seperti itu padahal dirinya masih anak-anak. “Hidup harus terus berjalan. Tidak boleh menyerah, tidak boleh melakukan kejahatan. Harus menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab,” katanya.

Setelah itu suara gemuruh penonton memberinya applaus. Pembawa acara menanyainya lagi. “Zhang Da, sebut saja apa yang kamu mau, sekolah di mana, dan apa yang kamu inginkan. Berapa uang yang kamu butuhkan sampai kamu selesai kuliah dan mau kuliah di mana. Pokoknya apa yang kamu idam-idamkan sebutkan saja. Di sini ada banyak pejabat, pengusaha, dan orang terkenal yang hadir. Saat ini juga ada ratusan juta orang yang sedang melihat kamu melalui layar televisi, mereka bisa membantumu!” papar pembawa acara.

Zhang Da terdiam. Keheningan pun menunggu ucapannya. Pembawa acara harus mengingatkannya lagi. “Sebut saja!” katanya menegaskan.

Zhang Da yang saat itu sudah berusaha 15 tahun pun mulai membuka mulutnya dengan bergetar. Semua hadirin di ruangan itu, dan juga jutaan orang yang menyaksikannya langsung melalui televisi, terdiam menunggu apa keinginan Zhang Da. “Saya mau mama kembali. Mama kembalilah ke rumah, aku bisa membantu papa, aku bisa cari makan sendiri. Mama kembalilah!” kata Zhang Da yang disambut tetesan air mata haru para penonton.

Zhang Da tak meminta hadiah uang atau materi atas ketulusannya berbakti kepada orangtuanya. Padahal saat itu semua yang hadir bisa membantu mewujudkannya. Di mata Zhang Da, mungkin materi bisa dicari sesuai dengan kebutuhannya, tetapi seorang ibu dan kasih sayangnya, itu tak ternilai. Pelajaran moral yang tampak sederhana, tetapi amat bermakna. Setuju kan?

=======================================================================================================================
TUKERAN ISTRI !

Senyumnya mengembang menyambutku sepulang dari kantor. Seperti biasa, wanita itu mengajakku duduk di sofa. Kemudian wanita itu membuka sepatuku, kaus kakiku dan tidak lupa menyuguhkan secangkir teh manis hangat dan sepiring kue kesukaanku.

Dia adalah Heny. Istriku yang sudah 13 tahun menemaniku dan telah memberiku 3 orang anak yang lucu.Ketika awal menikah, Heny seorang wanita karir yang cantik dan menarik. Sungguh, Heny benar-benar membuatku jatuh cinta.

Namun sejak kelahiran Daffa anak pertama kami, dia memutuskan untuk berhenti dari perusahaan tempatnya bekerja. Heny ingin lebih fokus dalam merawat dan mendidik anak-anak kami.

Aku tak mempermasalahkan alasannya. Aku ikut senang dan mendukungnya. Penghasilanku sudah lebih dari cukup untuk kebutuhan rumah tangga kami.

Namun seiring berjalannya waktu, Heny telah berubah di mataku. Heny tak semenarik dulu lagi. Sibuknya Heny dalam mengurus rumah tangga dan merawat anak-anak kami, membuat Heny lalai dalam merawat dirinya. Heny jarang menggunakan make up, parfum, dan sering kali memakai daster butut yang selalu setia menemaninya di rumah. Menurut Heny, sangat nyaman dan adem bila memakai daster di cuaca yang sangat panas.

“Mau makan malam atau mandi dulu mas?” Heny membuyarkan lamunanku.

Di tangannya sudah siap handuk dan baju gantiku. Mataku sempat melirik sebuah foto pernikahan di dinding dengan tulisan dibawahnya: Heny & Ardi. Kami tampak begitu bahagia dan serasi.

“Mandi saja dek, tadi di kantor aku sudah makan”,

Aku terpaksa berbohong, meski sebenarnya aku belum makan, pemandangan lusuh yang ada di mataku telah merusak selera makanku.

Sementara di kantor, rekan-rekan wanitaku tampilannya modis dan wangi namun di rumah wanita yang menyambutku berbeda bagai langit dan bumi. Istriku yang memakai daster lusuh dan berdandan sangat natural.

Selesai mandi, segera aku masuk ke kamar Daffa. Dia tengah tertidur pulas. Di usianya yang masih 10 tahun, sudah terlihat wajahnya mengadopsi wajahku. Kukecup keningnya, selanjutnya aku beranjak menuju kamar Zahra dan Nadia. Mereka masih tidur dalam satu kamar. Kecantikan wajah keduanya mewarisi wajah Heny, istriku. Setelah kucium keduanya yang sedang terlelap, segera aku beranjak menuju kamar tidurku.

Di dalam kamar, istriku sedang menyalakan lampu tidur. Aku segera berbaring ke tempat tidur yang telah rapi. Meski di rumah tidak ada pembantu rumah tangga, namun istriku mampu mengerjakan hampir semua pekerjaan rumah dengan baik. Dia memang tergolong wanita yang rajin, seolah-olah tidak ada capeknya.

“Bagaimana dengan pekerjaannya di kantor, mas ?”

“Baik dek” aku biasa memanggilnya dengan sebutan adek.

“Bener nggak ada masalah mas? Kok kuperhatikan akhir-akhir ini mas banyak diam”

“Iya, ngggak apa-apa kok,”

“Syukurlah kalau begitu mas” Heny ikut naik ke ranjang sambil menyelimuti tubuhku dengan selimut yang lembut dan wangi. Aku memang tidak terlalu kuat dengan dingin AC.

Aku tidak bisa nyenyak dalam tidurku, jujur aku merasakan suatu kebosanan dengan kehidupanku. Disampingku istriku tidur dengan memakai daster kembang-kembang warna kuning yang juga dipakainya saat hamil Daffa anak pertamaku, yaaa…. berarti sudah 10 tahun lebih usia daster lusuh itu. Sungguh menjadi inspirasi untuk datangnya mimpi burukku.

***********

Saat makan siang di kantor aku mengutarakan tentang kehidupan rumah tanggaku yang membosankan kepada Rudi dan Rio temen akrabku. Sambil tersenyum, silih berganti mereka mendengarkan keluhanku.

“Itu karena kamu terlalu monoton Ardi, terlalu lurus berumah tangga. Sekali-kali cobalah melakukan sesuatu yang ekstrim untuk membakar kembali gelora jiwamu” Rudi nyerocos sambil menikmati sepiring nasi goreng.

“Betul tuh kata Rudi, cobalah melakukan sesuatu yang ekstrim agar kehidupan rumah tanggamu tidak monoton, dengan cara selingkuh misalnya, tuh.. diem-diem Siska, anak baru di departemen kita kuperhatikan sering curi-curi pandang ke kamu Ar, udah… jadiin aja Siska selingkuhanmu, aku yakin dengan berselingkuh kamu akan menemukan kembali apa yang selama ini hilang dari hidupmu” Rio turut memberikan usulannya.

Benar juga kata mereka, Siska anak baru di departemenku memang kuperhatikan sering curi-curi pandang, senyum serta sorot matanya menyiratkan sesuatu maksud tertentu kepadaku.

Meski di usiaku yang menginjak 38 tahun, namun ketampananku belum pudar, ditambah lagi posisiku di kantor yang cukup mapan, aku yakin tidak terlalu sulit buatku mendapatkan seorang wanita.

“Aku tidak mau terjebak dengan komitmen kepada seorang wanita friend, ada usulan lain nggak?”

“Kalau tidak mau susah-susah pelihara kambing, langsung beli satenya aja, ngerti kan maksudku Ar” kata Rudi dengan senyum nakalnya.

“Kita bisa kok mengantarmu ke tempat gadis-gadis cantik yang akan memuaskanmu, cinta satu malam, puas, tanpa komitmen, bayar, pulang deh berkumpul lagi bareng keluarga” Rio turut menimpali.

“Ok deh, thanks ya friend masukannya, aku pikir-pikir dulu.”

“Iya tapi jangan terlalu lama mikirnya, keburu digaet pak bos tuh si Siska, tahu sendiri bos kita nggak bisa lihat cewek bohay dikit” kata Rudi.

********

Untuk berselingkuh dengan wanita lain aku masih belum berani, demikian juga untuk berzinah, tidak pernah ada dalam kamusku. Dalam kekalutanku aku menghubungi Bimo, kakakku untuk bertemu saat makan siang.

Akhirnya pertemuanku dengan kakakku Bimo, akan terlaksana juga. Syukurlah di tengah kesibukannya, ia masih sempat meluangkan waktu untuk mendengar curahan hatiku.

“Hallo… sudah lama nunggu Di? Bimo tersenyum menghampiriku.

Bimo mengenakan atasan setelan hem biru lengan panjang dan dipadukan dengan celana panjang hitam. Melihatnya, seolah aku sedang bercermin. Kita memang saudara kembar, namanya Bimo, dia lebih tua 10 menit dariku, sehingga antara kami berdua tidak ada yang memanggil kakak atau adik melainkan langsung dengan nama kami masing-masing.

“Begitulah Bim, masalah berat yang sedang aku hadapi”

Kening Bimo langsung berkerut pertanda sedang berfikir setalah mendengarkan panjang lebar curhatku, tidak lupa usulan teman-temanku Rudi dan Rio aku sampaikan kepadanya.

Bimo telah menikah juga dan baru dikaruniai 1 orang anak. Pernikan kita dahulu dilaksanakan dalam waktu yang bersamaan. Masih teringat ekspresi para tamu undangan yang tersenyum-senyum menyaksikan dua pasang pengantin dengan mempelai pria kembar identik. Ketika bersalaman tidak henti-hentinya para tamu berpesan kepada Heny istriku, dan kepada Rosa istri Bimo,

“Awas jangan sampai tertukar ya suaminya di malam pertama!!”

Kami pun hanya bisa tersenyum membayangkan malam pertama tertukar, hihihi

**********

“Semua keluarga pasti ada permasalahan Di, akupun juga tidak luput dari permasalahan keluarga” Bimo berucap sambil menghisap sebatang rokok.

Di mataku Bimo laki-laki yang sangat beruntung, punya istri Rosa yang cantik, seksi dan wangi. Tidak seperti Heny yang lusuh dan bau minyak. Rosa seorang sekretaris pada sebuah perusahaan minyak asing. Kemanapun tampilannya selalu modis dan wangi. Bahkan ketika kami sekaluarga menginap di rumah Bimo, Rosa selalu tampil cantik di rumah.

“Kamu beruntung Di punya istri Heny, seorang ibu yang pinter mendidik anak, telaten melayanimu dan bisa setiap saat bertemu denganmu, sedangkan aku karena kesibukan Rosa, jarang punya waktu untuk menikmati saat kebersamaan.”

“Tapi aku membutuhkan suatu terobosan besar dalam kehidupanku yang monotan ini Bim, kalau tidak, aku ragu apakah bahtera rumah tanggaku ini bisa diselamatkan. Kalau untuk selingkuh atau “jajan” seperti usul teman-temanku aku jelas tidak bisa melaksanakan Bim, duh.. gimana dong ada solusi nggak?”

“Hmm… gimana kalau aku tawarkan sesuatu yang ekstrim tapiiii… nggak jadi deh, Di..” ucap Bimo ragu-ragu.

“Ayo dong Bim, lanjutin kata-katanya, aku pasti setuju deh” pintaku dengan penasaran

“Sebenarnya aku ragu dengan usulanku ini, sangat ekstrim, namun lebih baik dibandingkan dengan selingkuh atau jajan Di. Kamu ingat tidak saat kita keluarga besar bertemu, Heny dan Rosa sering salah mengira aku adalah kamu dan sebaliknya kamu dikira aku.”

“Bener juga ya Bim, selain papa mama, istri-istri dan anak-anak kita masih sering keliru, karena wajah, suara, postur dan perangai kita memang bener-bener susah dibedakan, terusss… maksud kamu apa Bim?” tanyaku tak sabar.

“Begini Di, setelah mendengar penjelasanmu tadi tentang tidak bahagianya kamu dengan istrimu, dan demi meyelamatkan rumah tangga kalian maka aku berfikir bagaimana kalau sementara waktu kita saling bertukar posisi, kamu di posisiku dan aku menggantikan posisimu.”

“ Barter atau tukeran istri maksudmu Bim”? tanyaku kaget dengan mata melotot.

“Bukan sekedar istri namun juga barter seluruh kesehariannya, keluarga dan pekerjaan Di, cukup satu minggu saja dan ada satu syarat yang tidak boleh kita langgar”?

“Syarat apa tuh, Bim”?

“Kamu berjanji tidak menggauli istriku Rosa Di, dan sebaliknya aku juga tidak berhubungan intim dengan istrimu Heny, bagaimana?”

“Baiklah Bim kalau itu aku pasti setuju, tapi kalau boleh tahu apa alasanmu merelakan aku menikmati berada dalam posisimu meski cuma sementara”

“Seperti yang aku utarakan tadi Di, kulakukan ini untuk menyelamatkan kehidupan rumah tangga kalian, dari pada kamu terjerumus ke hal-hal yang tidak benar seperti teman-temanmu, disamping itu aku juga ingin menunjukkan kepadamu bahwa aku pun memiliki permasalahan dengan istriku, setiap rumah tangga pasti ada problem, yang terpenting bagaimana kita menyikapinya”

“Baik lah mulai kapan kita mulai permainan ini Bim”

“Sekarang saja mumpung kita bisa bertemu Di.”

Maka setelah kami saling bertukar informasi tentang situasi rumah, istri, anak-anak, pekerjaan dan lain-lain maka mulailah kami bertukar pakaian, HP dan kendaraan untuk melanjutkan keidupan sandiwara kami.

*********

Kupacu mobil Bimo menuju rumahnya yang sementara waktu akan jadi rumahku. Ada perasaan bimbang juga bagaimana bila Rosa, atau Farhan anaknya Bimo mengenaliku bukan Bimo.

Sesampainya di rumah, yang membukakan pintu bukanlah Rosa melainkan Mbok Rusti pembantu setia keluarga Bimo.

Dalam foto-foto yang dipajang di dinding nampak wajah cantik Rosa, hmm aku pasti bahagia seminggu ini menggantikan Bimo.

“Ibu belum pulang pak, bapak mau minum teh atau kopi? Makanan sudah mbok siapkan di meja makan” kata mbok Rusti.

Lega juga akhirnya ternyata mbok Rusti mengira aku Bimo

“Baik mbok, makasih,”

Belum sempat aku membuka sepatu, Farhan keponakanku, anak Bimo satu-satunya langsung menarik tanganku.

“Pa temenin Farhan maen bola ya.. trus maen kuda-kudaan”

“Sudah malam Farhan, papa capek besok saja ya?”

“Nggak mau, pokoknya papa harus temenin maen, kalau tidak Farhan nggak mau tidur malam”.

Dengan sangat terpaksa aku menemanin keponakanku itu bermain sepuasnya. Bayangan Heny tiba-tiba muncul di benakku. Betapa capeknya dia selama ini mengurus ketiga orang anakku, dia melakukannya tanpa mengeluh sedikitpun.

Selesai bermain, aku masih harus menunggu sampai Farhan sampai tertidur dan aku baru bisa mandi. Tidak ada lagi Heny yang menyiapkan handuk dan baju gantiku, aku sekarang melakukannya sendiri.

Selesai mandi aku menonton TV sambil menunggu kedatangan Rosa.

“Bapak nggak makan, pak?” sapa mbok Rusti.

“Nanti saja mbok nunggu ibu datang”

“Sebaiknya bapak makan duluan, ibu kan biasa pulang hampir tengah malam, bapak bisa kena sakit magg kalau menunggu ibu pulang” saran mbok Rusti kepadaku.

Benar juga sampai jam 22.00 WIB Rosa belum juga pulang, akhirnya kusantap juga makanan yang sudah disiapkan mbok Surti sejak tadi, rasanya hambar dan dingin sangat berbeda dengan masakan Heny istriku. Istriku pinter masak dan bikin kue, di hari libur pasti disempatkannya membuat sendiri kue-kue yang lezat.

Akhirnya aku tertidur juga, karena seharian capek kerja ditambah lagi menemani Farhan main kuda-kudaan. Aku terbangun dari tidurku karena merasa kedinginan, hmm pastes ternyata aku lupa tidak memakai selimut, biasanya istriku Heny yang memakaikan selimut jika aku lupa memakainya.

Kulihat disampingku tertidur seorang wanita bergaun tidur putih… Ahh hampir saja aku berteriak ketakutan,kupikir penampakan disampingku sejenis makhluk halus. Bergaun putih, muka pucat putih kaya topeng. Benar-benar membuatku terkejut.

Ternyata setelah kuperhatikan lebih dekat dia adalah Rosa. Tidurnya terlentang seperti mayat, muka pakai masker krim yang tebalnya 1cm ditambah irisan mentimun di matanya.

Hmm… akhirnya kulanjutkan tidur juga, dalam hati aku berpikir apa enaknya Bimo punya istri cantik dan seksi namun tidurnya tidak lebih dari mayat begini, masih mending Heny istriku yang dengan lembut dan penuh kasih sayang memperlakukan aku di atas ranjang.

********

Bangun tidur tidak kulihat Rosa disampingku. Mungkin dia sedang mandi, kudengar bunyi gemericik shower di kamar mandi yang ada di kamar. Segera saja aku menuju kamar mandi bawah untuk mandi. Setelah mandi aku masuk kamar dan kulihat Rosa sedang berdandan untuk ke kantor.

“Pa… sarapan sama Farhan ya, mama ada meeting pagi-pagi, nggak sempet sarapan. Oh ya pa, mulai nanti malam mama ada dinas luar kota selama 1 minggu, baik-baik ya di rumah “

Aku pun mengangguk serta beranjak turun untuk sarapan. Saat sedang menyantap sarapan, Rosa keluar dari kamar menuruni anak tangga, tampilannya sangat cantik, seksi dan wangi.

”Berangkat dulu ya pa, Farhan jangan nakal ya, mbok jaga rumah baik-baik !!” sambil menciumku ia beranjak menuju mobil meninggalkan bekas lipstick di pipiku.

Ternyata kecantikan dan keseksiannya hanya untuk orang lain bahkan suaminya pun tidak ada waktu untuk menikmatinya. Malang sekali nasibmu Bimo kakakku…

***********

Sesampainya di kantor pertama kali yang kulakukan adalah menelpon Bimo saudara kembarku.

“Bim, tidak perlu menunggu sampai seminggu, barter ini selesai di sini saja ya. Aku tidak kuat” kataku pada Bimo.

“Hahaha… sudah kuduga kamu pasti akan menyerah Di, ok lah kita bertemu siang ini di kantin biasanya”,

Aku dengar gelak tawa Bimo di ujung telepon sana.

**********

Sesampainya di rumah, seperti biasa dengan senyum indahnya, Heny menyambut kedatanganku. Melepas sepatuku, kaus kakiku, dan menyiapkan air hangat untuk mandiku serta menemaniku makan malam. Masakan istriku yang masih hangat terasa begitu nikmat di lidahku.Meski baru sehari aku tidak merasakannya, serasa setahun aku tidak menikmati masakan lezat itu.

Ku lihat bola matanya lebih dalam, kulihat sorot mata kelelahan. Istriku ternyata begitu berat pekerjaanmu di rumah selama ini. Merawat ketiga anakku ditambah aku yang seolah-olah menjadi anak keempatmu yang masih serba dilayani sehingga tidak ada waktu untuk sekedar merawat tubuhmu.

Saat selesai sholat isya berjamaah dengan istriku, seperti biasa ia meraih tanganku untuk diciumnya dengan mesra. Ohh.. kurasakan tangan yang dulu begitu halus kini telah berubah sedemikian kasar, dan kurus, pastilah karena kerja kerasnya di rumah selama ini.

Kucium tangan suci ini, bagiku ini adalah tangan suci kedua setelah ibuku. Maafkan aku istriku, anak-anakku, aku selama ini hanya bisa menuntut ini dan itu bahkan begitu pengecut untuk sekedar mengutarakan uneg-unegku. Selalu membanding-bandingkanmu dengan wanita lain. Suami macam apa aku ini, yang hanya tahu mencari uang tanpa memikirkan keluarga.

Sebelum tidur, aku dan Heny berdikusi banyak hal. Aku menyampaikan keluhanku padanya dengan cara yang halus tanpa menyinggung perasaannya. Setengah merayu dan memuji kukatakan padanya bahwa aku ingin melihat dan menikmati tubuh indahnya, dengan memberikan sebuah hadiah yang kubeli sepulang dari kantor tadi,

” Dek, aku punya hadiah untuk mu” kataku sambil menyodorkan bungkusan kado berwana biru. Warna kesukaan Heny.

Dengan terkejut dan mata berbinar-binar Heny membuka kadonya

” Wah, surprise nih mas. Boleh aku buka sekarang? ” tanyanya tak sabar.

” Ya, semoga dek Heny suka dan mau memakainya malam ini ” kataku sambil mengedipkan mata.

Dengan terburu-buru Heny membuka. Roman muka yang begitu gembira ketika Heny melihat Ardi membelikan setengah lusin Lingerie seksi pengganti daster batiknya yang lusuh. Heny memeluk Ardi dengan malu-malu dan berkata,

“Terima kasih mas, aku pasti pakai malam ini “

Aku juga menyarankan kepada Heny untuk mengambil seorang pembantu rumah tangga dari sebuah yayasan. Tujuanku agar Heny tidak terlalu kelelahan dalam mengurus rumah tangga dan anak-anak kami. Sehingga Heny masih mempunyai waktu luang untuk merawat diri, kesalon, berolah raga dan membaca buku kegemarannya.

Heny sangat gembira sekali. Dan permasalahan dikelurga kami telah tersolusikan.

“I Love you, Heny! Kataku sambil memeluknya

“Terima kasih sudah menemani dan mengurus aku dan anak-anak selama ini”,

Ku kecup keningnya dan tidak terasa meleleh air mataku, telah kutemukan apa yang selama ini aku cari-cari.

***********

EPILOG :

Tidak ada segala sesuatu yang benar-benar sempurna. Rumput tetangga hanya kelihatan selalu lebih indah. Alangkah baiknya jika kita berhenti mengeluh, memperbaiki yang kita miliki dan pandai berucap syukur. Maka akan kita temukan lebih banyak kebahagiaan

Ada 3 hal utama yang menyebabkan karamnya sebuah rumah tangga.

Pertama :

Suka membanding-bandingkan. Misalnya kalau Ibu saya seperti ini…Kalau Ibu-mu (maksudnya mertua) seperti itu…Kalau suku saya seperti ini…Suku-mu begini, begitu. Hal yang remeh temeh-pun terus dibandingkan. Bahkan sampai ke segi sosial, ekonomi juga dibanding-bandingkan. Bahkan yang agak gawat, membandingkan suaminya sendiri dengan orang lain atau kebalikannya, suami membandingkan istrinya dengan orang lain. Naudzubillah…

Kedua :

Tidak kompak. Istilahnya satu ke utara, satunya lagi ke selatan. Nggak nyambung. Suaminya ingin melakukan sesuatu hal, ngomong ke orang lain : “Jangan sampai istri saya tahu yah….” Hehehe… Atau sebaliknya, sang istri banyak melakukan rahasia di belakang suaminya. Kalau hal ini terjadi, sebenarnya tinggal menunggu waktunya saja untuk terjadi perang ‘nuklir’ di rumah tangga tersebut. Jeedddeeerrrr….Booommmm…

Ketiga :

Selalu berburuk sangka terhadap pasangannya. Suami selalu salah di mata istri. Atau istri selalu salah di mata suami. Tidak ada benarnya sedikitpun. Salaahhhhh meluluuu… Kanan salah. Kiri salah. Depan salah. Belakang salah. Bayangkan betapa tidak nyamannya hidup, bila keseharian selalu diisi hal-hal seperti ini. Senyum? Sudah hilang. Tawa canda? Apalagi… Akhirnya sang istri bercanda dengan laki-laki yang bukan suaminya. Suaminya tersenyum manis sekali dengan perempuan yang bukan istrinya. Kalau sudah begitu? Wuihhh…!!! Istighfar…Istighfar… Kembalilah selalu berbaik sangka kepada pasangan masing-masing. Peluk dia kalau melakukan kesalahan. Berikan senyum yang selalu memberikan ‘ma’af’…Ma’af yang bahkan tanpa batas…

♥ ” Sepucuk Surat Dari Ayah dan Ibu ” ♥

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــمِ Anak-ku …. Ketika Aku Semankin Tua … Aku Berharap Kamu Memahami … Dan Memiliki Kesabaran Untuk-ku … Suatu Ketika aku Memecahkan Piring … Atau Menumpahkan Sup di Atas Meja … Karena Penglihatan-ku Berkurang … Aku Berharap Kamu Tidak Memarahi-ku … Karena Orang Tua itu Sensitif … Selalu Merasa Bersalah jika Kamu Berteriak … Ketika Pendengaran-ku Semakin Memburuk … Dan Aku Tidak Bisa Mendengar Apa Yang Kamu Katakan .. Aku Berharap Kamu Tidak memanggil-ku TULI … Mohon Di Ulangi Apa Yang Kamu Katakan atau Menuliskan-nya … MAAF …Anak-ku . . Aku Semakin Tua … Kaetika Lutut-ku Mulai LEMAH .. Aku Berharap ..Kamu memiliki Kesabaran …. Untuk Membantu Mengajak Aku untuk Berdiri …. Seperti Bagaimana Aku Selalu Membatu Kamu …. Sewaktu Kamu Masih Kecil untuk Belajar Berjalan …. Aku Mohon Jangan Pernah Bosan Denagn Aku … Ketika Aku Terus Mengulangi Apa yang Aku Katakan … ” Seperti Kaset Rusak ” Aku Berharap Kamu Terus Mendengarkan Aku .. Tolong Jangan Mengejek-ku Atau Bosan Tuk Mendengarkan Suara-ku … Apakah Kamu Ingat Waktu Kamu Masih Kecil … Dan Kamu Ingin Sebuah Balon ??? Kamu mengulangi Apa Yang Kamu mau Ber-Ulang-Ulang … Sampai Kamu mendapatkan Apa Yang kamu Inginkan …. Maaf-kan juga Bau-ku … Tercium Seperti Orang Yang Sudah Tua … AKu Mohon Jangan Memaksa-ku Untuk Mandi … ” Tubuh-ku Lemah ” Orang Tua Mudah Sakit .. Karena Mereka Rentan Dengan Dingin … Aku Berharap ..Aku Tidak Terlihat Kotor Bagi-mu … Apakah Kamu Ingat Ketika Kamu Masih Kecil ??? Aku Selalu Mengejar-Ngejar Kamu … Karena Kamu Tidak Ingin Mandi . . . Aku berharap Kamu Bisa Bersabar Dengan Aku … Ketika Aku Selalu Rewel … Ini Semua Bagian Menjadi Dari Menjadi Tua … Kamu Akan Pasti Mengerti Jika Kelak Kamu Akan Tua … Dan Jika Kamu Memiliki Waktu Luang … Aku berharap Kita Bisa Berbicara … Walau Hanya beberapa menit … Karena AKu Selalu Sendiri Sepanjang Waktu-ku …. Dan Tidak Memiliki Seorang-pun Untuk Mengajak Berbicara … Aku Tahu Kamu Selalu Sibuk Dengan Pekerjaan-mu … Bahkan Jika Kamu Tidak Tertarik Dengan Cerita-ku … Aku Mohon Berikan Waktu Untuk Bisa Bersama-mu … Apakah Kamu Ingat Waktu Kamu masih kecil … Aku Selalu mendengarkan Apapun yang Kamu Bicarakan … Tentang Segala Mainan-mu … MAAF !!! Ketika Saat-nya Tiba … Dan Saat Aku Hanya Terbaring Karena Sakit dan Sakit … Kalau Saja Aku Mengompol atau Membuat Berantakan .. Aku berharap kamu memiliki kesabaran Untuk Merawat-ku … Selama Beberapa Saat Terakhir Dalam Hidup-ku … Aku Mungkin Tidak Akan Bertahan Hidup Lebih Lama … Ketika Waktu Kematian-ku Datang …. AKu berharap kamu selalu memegang Tangan-ku …. Dan memberikan kekuatan Untuk menghadapi Kematian … Dan Jangan Khawatir wahai Anak-ku … Ketika Aku Bertemu Dengan Sang Pencipta … Aku Akan Berbisik Kepada-Nya .. Agar Senantiasa Memberikan Berkah Pada-mu … Karena Kami Mencintai-mu ” Ayah dan Ibu ” .. Terima Kasih Atas Segala Perhatian-mu … Kami Selalu mencintai-mu Dengan KASIH SAYANG Yang Berlimpah …. ” Robbighfir lii wa li waalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroo ” “Ya Tuhanku! Ampunilah aku, ibu bapakku dan kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” … (¯`v´¯)♥ Aamiin ya Robbal ‘alamiin ♥

ARTI SEBUAH KESABARAN

KESABARAN……. Seorang anak mengeluh pada ayahnya, “aku capek….sangat capek. Aku belajarmati-matian sedang temanku dengan enaknya menyontek. “AKU MAU MENYONTEK SAJA” Aku capek karena aku harus terus membantu ibu, sedangkan temanku punya pembantu…. Aku capek karena aku harus menabung, sedang temanku bisa terus jajan tanpa harus menabung….. Aku capek karena harus menjaga lidahku, sedang temanku enak saja berbicara sampai aku sakit hati…..”Aku capek ayah !!!!!!” (sang anak mulai menangis) Sang hanya tersenyum dan mengelus kepala anaknya..”anakku ayo ikut ayah….” (Mereka menelusuri jalan yang jelek, banyak duri, serangga, lumpur dan ilalang. “Ayah ….mau kemana kita ????” aku tidak suka jalan ini….lihat sepatuku jadi kotor…kaki luka karena tertusuk duri….badanku dikelilingi oleh serannga, berjalanpun susah karena banyak ilalang….”AKU BENCI JALAN INI AYAH..!!!!” (Anaknya terus mengeluh) Akhirnya mereka samapi disebuah telaga yang sangat indah, airnya sangat segar, ada banyak kupu-kupu, bunga-bunga yang cantik dan pepohonan rindang. “Wah….tempat apa ini ayah ????” aku suka tempat ini..!!!!” “Kemarilah anakku ….ayo duduk di samping ayah….” “Anakku …tahukah kau mengapa di sini begitu sepi padahal indah ?” “Itu karena orang tidak mau menyusuri jalan yang jelek …padahal mereka tahu ada telaga disini, mereka hanya kurang sabar dalam menyusuri jalan ini>>>” “Anakku butuh kesabaran dalam belajar, butuh kesabaran dalam bersikap baik, butuh kesabaran dalam kejujuran, butuh kesabaran dalam setiap kebaikan agar kita mendapat kemenangan…….

Ayah, kembalikan tangan Ita………

Sepasang suami isteri – seperti pasangan lain di kota-kota besar – mninggalkan anak-anak diasuh pembantu rumah tangga selagi keluar bekerja. Mereka mempunyai anak tunggal perempuan berusia tiga setengah tahun. Setiap hari anak ini bermain sendiri karena pembantunya juga sibuk mengerjakan pekerjaan rumah ato bahkan ditinggal utk sekedar ngobrol dengan pembantu sebelah…. Suatu hari si anak melihat sebatang paku karat. Dia pun mencoret semen tempat mobil ayahnya diparkirkan tetapi kerana lantainya terbuat dari marmer,coretan tidak kelihatan. Dicobanya pada mobil baru ayahnya. Ya… karena mobil itu bewarna gelap,coretannya tampak jelas.Apa lagi kanak-kanak ini pun membuat coretan sesuai dengan kreativitasnya. Hari itu bapak dan ibunya pergi ke tempat kerja menaiki sepeda motor kerana macet. Setelah penuh coretan yg sebelah kanan dia beralih ke sebelah kiri mobil dibuatnya gambar ibu dan ayahnya, gambarnya sendiri, lukisan ayam, kucing dan lain sebagainya mengikuti imaginasinya. Kejadian itu berlangsung tanpa disadari dan diketahui si pembantu rumah. Ketika pulang, terkejut pasangan itu melihat mobilnya yang baru setahun dibeli dengan bayaran angsuran penuh dgn coretan-2. Si bapak yang belum lagi masuk ke rumah inipun terus menjerit, “Kerjaan siapa ini?” Pembantu rumah yang tersentak dengan jeritan itu berlari keluar. Dia juga beristighfar. Mukanya merah padam ketakutan lebih2 melihat wajah bengis tuannya. Sekali lagi diajukan pertanyaan keras kepadanya,dia terus mengatakan ‘Tak tahu… !” “kamu dirumah sepanjang hari, apa saja yg kau lakukan?” hardik si isteri lagi. Si anak yang mendengar suara ayahnya, tiba-tiba berlari keluar dari kamarnya.Dengan penuh manja dia berkata “Ita yg membuat itu abahhh.. cantikkan!” katanya sambil memeluk abahnya ingin bermanja seperti biasa. Si ayah yang hilang kesabaran mengambil sebatang ranting kecil dari pohon bunga raya di depannya, terus dipukulkannya berkali2 ke telapak tangan anaknya. Si anak yang tak mengerti apa-apa terlolong-lolong kesakitan sekaligus ketakutan.Puas memukul telapak tangan, si ayah memukul pula belakang tangan anaknya. Si ibu cuma mendiamkan saja,seolah merestui dan merasa puas dengan hukuman yang dikenakan. Pembantu rumah terbengong, tdk tahu hrs berbuat apa… Si bapak cukup rakus memukul-mukul tangan kanan dan kemudian tangan kiri anaknya. Setelah si bapak masuk ke rumah dituruti si ibu, pembantu rumah menggendong anak kecil itu, membawanya ke kamar. Dilihatnya telapak tangan dan belakang tangan si anak kecil luka2 dan berdarah. Pembantu rumah memandikan anak kecil itu. Sambil menyiram air sambil dia ikut menangis. Anak kecil itu juga terjerit-jerit menahan kepedihan saat luka2nya itu terkena air. Si pembantu rumah kemudian menidurkan anak kecil itu. Si bapak sengaja membiarkan anak itu tidur bersama pembantu rumah. Keesokkan harinya, kedua-dua belah tangan si anak bengkak. Pembantu rumah mengadu. “Oleskan obat saja!” jawab tuannya, bapak si anak. Pulang dari kerja, dia tidak memperhatikan anak kecil itu yang menghabiskan waktu di kamar pembantu. Si bapak konon mau mengajar anaknya. Tiga hari berlalu, si ayah tidak pernah menjenguk anaknya sementara si ibu juga begitu tetapi setiap hari bertanya kepada pembantu rumah. “Ita demam… ” jawab pembantunya ringkas. “Kasih minum panadol ,” jawab si ibu. Sebelum si ibu masuk kamar tidur dia menjenguk kamar pembantunya. Saat dilihat anaknya Ita dalam pelukan pembantu rumah, dia menutup lg pintu kamar pembantunya. Masuk hari keempat, pembantu rumah memberitahukan tuannya bahwa suhu badan Ita terlalu panas. “Sore nanti kita bawa ke klinik. Pukul 5.00 siap” kata majikannya itu. Sampai saatnya si anak yang sudah lemah dibawa ke klinik. Doktor mengarahkan ia dirujuk ke rumah sakit karena keadaannya serius. Setelah seminggu di rawat inap doktor memanggil bapak dan ibu anak itu. “Tidak ada pilihan..” katanya yang mengusulkan agar kedua tangan anak itu dipotong karena luka yang terjadi sudah terlalu parah.”Ia sudah bernanah, demi menyelamatkan nyawanya kedua tangannya perlu dipotong dari siku ke bawah” kata doktor. Si bapak dan ibu bagaikan terkena halilintar mendengar kata-kata itu. Terasa dunia berhenti berputar, tapi apa yg dapat dikatakan. Si ibu meraung merangkul si anak. Dengan berat hati dan lelehan air mata isterinya, si bapak bergetar seluruh badannya saat menandatangani surat persetujuan pembedahan. Keluar dari ruang pembedahan, selepas obat bius yang suntikkan habis, si anak menangis kesakitan. Dia juga heran2 melihat kedua tangannya berbalut kasa putih. Ditatapnya muka ayah dan ibunya. Kemudian ke wajah pembantu rumah. Dia mengerutkan dahi melihat mereka semua menangis. Dalam siksaan menahan sakit, si anak bersuara dalam linangan air mata. “Ayah.. Mama… Ita tidak akan melakukannya lagi. Ita tak mau ayah pukul. Ita tak mau jahat. Ita sayang ayah.. sayang mama.” katanya berulang kali sampai membuat si ibu gagal menahan tangisnya “Ita juga sayang Kak Narti..” katanya memandang wajah pembantu rumah, sekaligus membuatkan gadis dari Surabaya itu meraung histeris. “Ayah.. kembalikan tangan Ita. Untuk apa ambil..Ita janji tdk akan mengulanginya lagi! Bagaimana caranya Ita mau makan nanti? Bagaimana Ita mau bermain nanti? Ita janji tdk akan mencoret2 mobil lagi,” katanya berulang-ulang. Serasa copot jantung si ibu mendengar kata-kata anaknya. Meraung2 dia sekuat hati namun takdir yang sudah terjadi, tiada manusia dapat menahannya. “Maafkan ayah dan mama ya nak….ayah tidak bisa menjaga amanah yg telah Allah titipan kepada kami…seandainya waktu bisa diputar ulang kembali, ayah sama mama gak akan berbuat seperti itu lagi, ayah rela kamu berbuat apa saja nak…” Kisah ini bisa untuk dijadikan pengalaman dan pengajaran…… ingatlah….semarah apapun, jgnlah bertindak keterlaluan kepada anak2 yg masih kecil dan tak tau apa2. Mengajar dgn cara memukul bukanlah cara terbaik. Nasi sudah menjadi bubur, penyesalan datangnya terakhir…ini pelajaran buat kita smua, bersikaplah bijak dengan apa yg telah diperbuat oleh orang lain apalagi oleh keluarga kita…sebelum penyesalan itu datang….

Kado Ulang Tahun

Adzan Subuh berkumandang begitu syahdunya. lelah masih menghinggapi lelaki itu setelah hampir sepuluh jam ditempuhnya untuk sampai di rumah, menemui istri dan anaknya. Perlahan dia melepas selimut yang membungkus tubuhnya, biasanya pada saat adzan begini Anggi istrinya berbisik di telinganya, ” Ayah.. shalat dulu… nanti tidur lagi..”. Kali ini tak ada suara itu ke manakah istrinya? Hm mungkin dia sedang mengaji seperti kebiasaannya sehabis shalat subuh namun tak terdegar senandungnya. Pelan-pelan dipaksa dibukanya matanya dan Anggi masih ada di sampingnya terbaring begitu lelapnya. Dia tersenyum diraihnya lengan istrinya, ” Ibu… bangun Bu sudah subuh, Kita shalat berjamaah ya, Ayah sudah terlambat untuk berjamaah di mesjid, Bisiknya pelan. Namu Anggi tak sedikit pun terusik. Tidurnya nampka begitu lelap hingga Syam terpaksa merengkuhnya. Namun hatinya kian resah saat dilihatnya wajah istrinya begitu pucat. Reflek dia meraih lengan istrinya dan lunglai saat mendapati nadi di lengan itu telah kehilangan detaknya.Jantungnya berdegup kencang keringat dingin meleleh dari keningnya, Salma dan rama masih terlelap di kamar sebelah. Perlahan dia bangkit mengambil air wudlu dan melaksanakan shalat suuh dengan badan yang separuh gemetar. Syam berharap semuanya hanya mimpi buruk dan seusai shalat dia kan mendapati Anggi tersenyum menghidangkannya secangkir jahe hangat seperti yang selalu dilakukannya. Namun kenyataan itu memang ada di depan matanya Anggi masih terbaring di tempat tidurnya, terlelap dan beku . Ya Allah bathinnya, perlahan didekatinya jasad itu masih sedikit hangat, dia mengusap wajah itu dengan air mata. Rasanya tak sanggup membangunkan kedua buah hatinya untuk memberitahukan Ibunya telah pergi selamanya menghadap Allah….
Namun Syam tak punya pilihan lain dengan sisa ketegarannya perlahan dia berjalan dengan gontai ke kamar tidur anak-anak mereka. Perlahan disentuhnya pundak Salma yang begitu lelap..” kakak, bangun Nak, shalat dulu sayang…” Katanya dengan suara yang bergetar. ” Ayah… kenapa bukan Ibu yang bangunkan Kakak Yah? Ibu sedang shalatkah?
Syam tak sanggup lagi menahan perasaannya direngkuhnya tubuh mengil Salma yang nampak terkejut dengan semuanya, Ayah kenapa Ayah menangis? tanyanya cemas, Syam mencoba menahan perasaannya, Kakak sayang.. sekarang Kakak shalat subuh dulu ya Nak, nanti Kakak Bantu Ayah menemani Ibu…. Ibu kanapa harus ditemani Yah? Ibu sakit? Ibu pingsan lagi? Tak menunggu jawaban ayahnya, Salma berlari menuju kamar Ibunya dan berteriak panik, Ibu.. Ibu… Ibu.. suaranya nyaring hingga membangunkan Rama yang tertidur lelap dan Rama mulai menangis, Syam segera mendekapnya.
Saat mataku terpejam untuk selamanya dan ku dimandikan, dikafani, dan diusung dalam keranda jenazah untuk dihantarkan ke hadira Illahi Rabbi, insya Allah ku kan tetap mengingat semua budi baikmu dan tiada hendak membawa walau setitik dendam di hatku, namun sudikah engkau melepasku dengan do’a tulus untuk terakhir kalinya? Hanya itu yang kuminta darimu, tak lebih…

Jangan Pernah Ragukan Cinta-Nya

Kekasih…
Ku tahu risau memeluk hatimu
Seperti pekat merenggut rembulanmu
Namun tak gulita malammu
Selama kau pijarkan lilin kecil di hatimu
Ia adalah pelitamu
Yang tak kan membiarkanmu sendirian dalam gelap

Cinta…
Ku mengerti gundah resahkan rasamu
Seperti gelombang pasang hantam pantaimu
Namun ia tak porandakan impianmu
Selama kau lindungi ia dengan satu keyakinan
Ia adalah pilarmu
Yang membuatmu bertahan dan tegar

Sayangku…
Ku tahu kau kecewa
Namun sadarilah…
Semua ketentuan-Nya atas nama Cinta
Jangan pernah ragukan cinta-Nya
Maka senyum syukurmu kan selalu mengembang
Sepanjang perjalanan jihadmu menggapai ridha-Nya

Sembilumu, Menyayat Hatiku…

Gemuruh di hati
Galau kian risau
Resah oleh gundah
Perih oleh duka
Ku hanya wanita jauh dari ilmu
Tak seperti dirimu yang luhung
Ku hanya wanita yang kadang salah
Tak seperti dirimu yang shaleh
Namun cinta Allah begitu indah bagimu
Walau sembilunya menyayat kalbu
Kuyakin tak sedikitpun kau berpaling
Dan meragukan kasih-Nya
Kau pandai memaknaio setiap pedih dengan jernih
Pandai memberi maaf tanpa harap
Namun begitu jauh kau terhempas
Aku menangis tak mengerti
Ajari aku untuk lebih arif…
Karena sembilumu menyayat hatiku…
Ya Allah Ya Rabb….
Aku menyeyanginya karena-Mu semata..

CATATAN SEORANG TEMAN UNTUK IBUNYA

Izinkan aku menciummu, Ibu… Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, …aku ‘dipaksa’ membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut. Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku. Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu. Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi. Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga. Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya. Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis. Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya. Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi do’a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang. Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini. Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang shaleh dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada Ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.

Sahabatku, Apa Kabarmu?

Sahabatku aku menulis catatan ini karena aku rindu padamu. Aku tahu bnayak sudah yang berubah dalam kehidupan kita. Kini aku punya tanggungjawab besar sebagai seorang istri dan Ibu.. Kini waktuku hampir habis tersita untuk mereka. kau juga begitu kau larut dalam kesibukanmu bekerja sepeninggal kedua orang tuamu, kau juga sibuk dengan sahabat-sahabat barumu sesama lajang yang mungkin kau pikir jauh lebih “care” kepadamu dibanding aku. Karena dalam kenyataannnya mereka memang selalu ada dalam suka dukamu, mereka yang selalu jadi peganganmu saat kau letih dan butuh sandaran. Mereka pun kerap jadi sandaran bahumu saat kau menangis. Sahabatku waktu, jarak da keadaan memisahkan kita begitu jauhnya. namun diam-diam aku selalu memperhatikanmu dan berharap yang terbaik bagimu. walau mungkin aku tak lagi menjadi orang yang penting bagi hidupmu kau selalu penting dalam hidupku…aku hanya ingin mengatakan aku rindu padamu semoga Allah selalu menjagamu

Indah, Tapi Tak Seharusnya Untukku

Wanita manapun di dunia ini
Akan bahagia bila dicinta
Sepenuh jiwa, tulus tanpa pengharapan
Dirindukan siang dan malam
Seperti bayangan
Hingga tak kuasa kau jauh darinya
Hingga pelangipun tak indah tanpanya
Hingga wajahnya menjelma di tiap debur ombak
Di pantai impian dan kerinduan
Cintaku..
Kasihku..
Hatiku…
Jangen pernah tinggalkanku
Wanita manapun akan melambung hingga ke awan
Seandainya tak terbayang kepedihan wanita lain yang kehilangan cintanya
Walau hanya dalam hati
Biarkan dia memiliki cintamu
Utuh….
Ku tak ingin semua indah dalam luka
Ku tak impikan apapun juga
Selain ridha Allah atas hidup kita
Indah cintamu, tak seharusnya untukku
indah cinta-Nya yang kunanti seumur hidupku
Berlalulah dengan do’aku

Tak Banyak Waktuku

Terengah…
Diantara pergantian hari
Siang malam bagai berlari
Detak waktu berpacu memburu
Ya Tuhan… aku tertinggal jauh
Banyak kusiakan waktu
Untuk yang tak berguna
Banyak kulewati hari
tanpa kumaknai
Duh..
tak banyak lagi waktuku
menjelang-Mu
Entah esok atau lusa
Saat itu akan tiba
masih banyak yang belum usai
Tugas kehidupan yang harus kuemban
Sebagai anak, istri, atau Ibu
belum separuh umurku….
Tak banyak waktuku…
Semoga lebih bijaksana kulewati esok
Mulai detik ini

Lebih Pantas

Beberapa waktu silam sebelum berangkat bekerja aku mendapat satu amanah agar aku lebih sering menggunakan gamis. Baju yang sama sekali tak memperlihatkan lekuk kewanitaan dari suami tercinta. alhamdulillah aku memahaminya sebagai wujud rasa cinta dan tanggungjawabnya sebagai Imam rumah kami. Alhamdulillah kulaksanakan amanah itu dengan senang hati karena memang hampir sebagian besar bajuku memang seperti itu. Namun satu hal yang mengejutkan adalah pendapat para Ibu lain di sekolahan Kakak, mereka mengatakan aku lebih pan tas memakai celana panjang dengan tunik atau gamis yang pas sedikit memperlihatkan bentuk tubuh. Aku tersenyum berterimakasih terhadap masukkan mereka mungkin mengiunginkan penampilanku lebih baik, namun aku memunyai ketetapan hati, aku memilih untuk tampil lebih pantas di hadapan Allah dan suamiku di banding pantas di hadapan manusia, insya Allah semoga tetap istiqamah
Lembutnya Kasih-Mu
Rinai hujan menyapa pagi
Rintiknya gemericik berbisik
Pijar embun berbaur
Menyatu dengan air langit
Ini cinta….
Dari pemilik Cinta
penggenggam semesta jiwa raga
Dari segala yang di langit dan di bumi
Cinta lembut yang merasuk sukma, meliputi hati
Tiada tara, tiada dua….
Rabb.. tiada kata indah sanggup lukiskan lembutnya….

Nak,.. Jangan Kau sia-siakan Tetes Keringat Ayahmu

Anakku sayang,…
Lihatlah butiran nasi di piringmu
Itu adalah tetesan keringat ayahmu Nak
Lauk nikmat yang kau makan dengan lahap
Juga bulir lelah ayahmu, Nak
Yang melintasi hari, siang dan malam
Berjuang sekuat daya
Mencari nafkah halal untukmu
Anakku sayang,..
Bukan mudah dia mencarinya
Bermandi peluh
Berkubang lelah
Hingga payah
Namun dia tak juga menyerah
Demi satu harapan indah
Nafkah yeng penuh barakah
Anakku sayang, syukuri nikmat-Nya
Berterimakasih pada Ayah atas segalanya
Minta pada Allah Ayah selalu dijaga
Dalam lelahnya mendapat sehat
Terlindung dari segala marabahaya
Do’amu adalah kekuatan baginya
untuk berdiri tegar dalam juangnya
Dan kembali untuk pelukanmu
Di senja yang indah

Tak Perlu Memohon

Kumerasa seperti duri
Menikam tanpa disadari
Hingga luka menorekan nyeri
Perlahan namun pasti
Saat janji ternodai
Saat hati pasti terbagi
Aku melangkah pergi
Untuk satu hati
Yang tak ingin kusakiti
Namun kau memohon
Bersimpuh penuh harap
Untuk segenggam cinta yang kau simpan
Hingga akhir nafasmu di dunia ini
Dengan satu janji
Tetap kau genggam satu cinta yang telah ada
Menanti janji dari sebuah pengabdian
Untuk satu sua yang kian menjadi mimpi
Pada-Nya kau memohon
Bersama di kekal alam kemudian
Tak perlu memohon
aku kan di sini
Di batas yang masih bisa kuberdiri
tetap dalam restu Illahi
Tanpa perlu menyakiti
Atau mengkhianati

Saat Cinta Tak Berbalas

Kali ini getar hati ini kubungkam
Seperti api dalam sekam
Ku diamkan agar redam
Dalam sunyi malam mencekam
Bukan kisah kelam
Bukan cerita buram
Hanya debar kusam
Yang tak henti menghantam
Perlahan menjadi rejam
berdentam….
Ah.. bukan masanya
Gelora menjadi buih samudra
Asmara menjadi surga pencinta
Raju dan sanjung membuat melambung
membubung hingga ke ujung
Lalu urung terlarung
Saat cinta tak berbalas
Kubergegas lekas
Berharap tak tinggalkan bekas
Walau hanya gurat tinta pada kertas
Atau getar yang bias
Yang menderu dan lepas
Sebelum kandas
Cinta ini akan mengawang
Berakhir menjadi bayang
Walau sesekali kuterkenang
pada tatap mengawang
Yang terlalu indah untuk dipandang
Saat malam meremang
Berhias jutaan kunang

Cahaya Harapan itu Tak Kan pernah Padam

Kulihat cahaya di matanya
Walau redup tetap pijar di tengah gulita
Saat menatap wajah mungil putranya
Amanah yang pernah bersemai di rahimnya
Dan lahir dengan penuh pengharapan
Tiada marah pada-Nya
Walau sarat dengan ujian kesabaran
Walau air mata tak surut menggenangi pipi
Namun harapan itu tak pernah musnah
Untuk sebentuk senyum dan pijar cahaya
Pada mata kecil pelita hatinya
Subhanallah indahnya cinta Ibu
Subhanallah indahnya cinta-Mu ya Allah

Let’s Go Home..

Kusadari kau hanya insan
Manusia yang tak luput dari dosa
kadang tergiur dan terbujuk goda
Tak sanggup merajuk pada rayu yang menggebu
Atau berpegang teguh hanya pada satu janji
Hingga dusta menjadi cerita biasa
Dan bibirmu terbiasa dengannya
Walau hatimu berteriak lantang memperingatkan
Ini salah
Ini keliru
Ini tak benar
Hanya Allah pada akhirnya
Membuka selubung pada matamu
Menyibak tabir kelam itu
Hingga kau melihat wujud bidadari itu tanpa topengnya
Bukan seperti yang kau kira
Bukan dewi cinta yang penuh pesona
Hanya iblis betina berkain sutra
Kini kau tahu kau dimana
Dalam hampa tanpa batas
Saat kau terhempas
Oleh dusta yang menggelora
Dalam samudera asmara yang maya
Yang ternyata hanya dusta semata
Kau tersesat dan ingin pulang
Ragu kau ayun langkah
Saat kau lihat lukaku berdarah
Dan air mataku tak juga berhenti menetes
Namun masih sanggup kuulurkan tangan
Menggenggam langkah lunglaimu dan tersenyum..
Let’s go home…..

Perjalanan Pulang

Sore itu, mentari mulai tak seterik sebelumnya, sinarnya mulai sedikit ramah tak lagi membakar. Rasa malas masih saja menghinggapiku untuk keluar rumah menuju ATM BCA terdekat untuk mentransfer sejumlah uang pada kakakku yang di Garut. Hm.. andai saja bisa ditunda sampai besok… tapi aku khawatir Kakak memerlukan uang itu segera hingga bergegas ku”memaksakan diri” membabat dan mengalahkan gumpalan rasa malas yang seolah menjerat tangan , kaki dan hatiku untuk tetap tinggal dirumah sore itu. Tak berapa lama angkutan kota pun tiba, hm.. niatnya tadi mau berjalan kaki namun karena ingin lebih cepat jarak yang relatif singkat pun kutempuh dengan ekspres dan Rp 2000,- kuberikan kepada supir angkot sebagai kompensasi dan konsekuensi atas kemalasanku……
Tiba di ATM, segera kulaksanakan tugasku dan sgera mengabari Kakakku di Garut. Aah.. lega rasanya, sebagian tugasku usai sudah. Namun naluriah, teringat anak-anaku rasanya tak tega bila aku pulang dengan tangan hampa. Terbayang wajah dua buah hatiku, Vania dan Adhwa yang menyambutku di depan pintu dan menatap tanganku berharap ada sesuatu untuk mereka. Hingga langkah ini mantap menuju Plaza Jambu Dua yang lokasinya tak jauh dari ATM. Lantai 4 adalah tujuanku, karena kuingat bubur instan kesukaan mereka telah habis stocnya, dan beberapa camilan anak pun dengan cepat menghuni keranjang belanjaanku. Aku tersenyum membayangkan bahagianya mereka mendapat oleh-oleh ini….Dan Alhamdulillah tak sampai Rp, 50.000, yang penting niat dan ketulusannya, insya Allah mereka senang.
Saatnya pulang, mengingat isi dompet sudah kian menipis, kebiasaan jelek suaka agak pesimis kalau isi dompet menipis, hingga memang harus segera pulang. Awallnya karena ingin cepat ingin aku menggunakan jasa Abang tukang ojek, biasanya dari sini aku memberikan uang jasa padanya sebanyak Rp 5.000,- tapi sore itu tak terlalu panas untuk kutempuhi dengan berjalan kaki, karena aku tahu jalan pintas melalui rumah dari jalan Pajajaran. Melalui gang kecil dan perkampungan. Pertama aku melalui gerbang sebuah lembaga pendidikan Islam dimana kulihat para santri muda remaja sedang berolah raga di pelataran sekolah yang tak begitu luas, dan terdengar sebagian siswa juga sedang belajar di ruangan . Cepat kulalui kawasan itu karena takut mengganggu mereka.
Jalan berikutnya adalah jalanan menanjar dan gang kecil di mana kutemui banyak muslimah muda duduk-duduk di bangku kecil di depan sebuah warung yang menjual sayuran, kelontongan dan jajanan. Mereka berpakaian sangat Islami dengan Gamis serta jilbab yang terurai menutupi dada mereka, Hm sesuai syariat. Diam-diam aku mengagumi mereka, ditengah deraan mode jilbab cantik yang hanya menutup rambut, atau bahkan baju-baju yang mengumbar aurat, mereka di belia usianya sudah berketetapan hati untuk mengenakan pakaian sesuai syariah.. Subhanallah. Assalamu’alaikum… sapaku, waaa’laikumsalam jawab meraka berenam. Duh.. adem di mata juga ditelinga….
Perjalanan kulanjutkan kini aku hampir tiba di puncak tanjakan di mana kulihat ada dua gundukan tanah kecil yang seblumnya tak pernah kulihat, makam anak-anak nampaknya, masih berhias bungan dan ditanami pohon hanjuang berwarna ungku di bagian kepala dan kakinya. Begitu kecil makam itu tentu di dalamnya adalah ahli jannah, penghuni surga Allah yang berpulang di usia muda yang bahkan belum sempat mencapai akil baligh hingga malaikat belum mencatat dosa di catatan amalnya, Subhanallah.. bebetapa bahagia dan beruntungnya mereka berpulang sebelum sempat menggores lembaran hitam di hidupnya hingga tak usah resah dengan pengadilannya kelak, namun betapa beratnya perasaan orang tua yang kehilangan mereka. Walau anak hanyalah amanah Allah, namun tentu di hati orang tuanya ada rasa cinta yang berubah menjdi kepedihan, kehampaan dan kekosongan saat ditinggal pergi buah hati tercinta untuk selama-lamanya. Aku teringat Vania dan Adhwa di rumah Ya Rabb bila mereka yang berada di balik gundukan tanah itu entah bagaimana hatiku saat ini, dan tiba-tiba butiran bening itu meleleh tak tertahan. Hm dasar cengeng….
Perjalanan belum usai kini kumenyusuri pinggiran kali kecil di mana kudengar keceriaan anak-anak berumur sekitar 8,7 atau 10 tahun yang tengah bernyanyi, ternyata mereka bermain dengan sebatang pohon jambu kering di pinggir kali itu yang salah satu dahannya mereka imajinasikan sebagai mike hingga salah seorang diantara mereka bernyanyi dengan memegang dahan itu menyanyikan salah satu hits dari Wali band..tapi aku sendiri tak tahu judulnya he..he… Tersenyum aku melihat semuanya, betapa sederhana kebahagiaan mereka tak perlu mainan mahal yang berada di Mall, cukup bersenandung di pinggiran kali dengn sebatang pohon jambu sudah mampu membuat mereka riang, bahagia dan bersemangat.. Alhamdulillah Allah Maha Adil….
Kuteruskan langkah kakiku hingga melewati rumah penjual bajigur asal Garut yang mengontrak gubuk kecil di pinggiuran kali. Aku melihat istri sang penjual sedang menjemur alat-alat yang biasa dipakai suaminya berdagang. wanita itu kurus tapi tak nampak kesal dengan hidupnya walau sehari-hari dia hanya menerima penghasilan suaminya dari berkeliling menjajakan bajigur berkeliling komplek dan menyetor sebagian penghasilannya pada juragan dan memberikan sisanya pada istrinya. Namun kemiskinan tak membuatnya berpaling dari suaminya walau harus tinggal di gubuk kecil pinggir kali dan menerima penghasilan pas-pasan, Subhanallah…sungguh mulia engkau wahai saudariku, aku pun berlalu dengan mengemas rasa kagum dihatiku, jaga rasa hormatku padanya…
Hampir sampai, melewati jembatan kulihat seorang nenek hanya berkain handuk baru usai mandi dari sebuah pemandian umum yang sumber airnya berasal dari sebuah sumur tima, ya Allah… betapanenek itu tetap bahagia dengan hidupnya, tak manja tak harus dipapah, papah, tak banyak meminta dia mengurus dirinya sendiri dan tak menjadi beban bagi orang lain disekitarnya. Kita yang hidup jauh lebih baik dengan kamar mandi bersih dan air PAM yang mengalir kapan saja kadang masih senang berkeluh kesah… Masya Allah…
Kulanjutkan perjalananku hingga tiba di SD Kawung luwuk di mana pada sore hari banyak dipenuhi para ABG yang duduk di tembok pembatas berkalung HP di lehernya dan asyik bercanda dan mengobrol sdengan kawan-kawannya. Jadi tempat ini menjadi semacap arena sosialisasi bagi mereka yang murah meriah.., tak lama sampailah aku di lingkungan perumahan, hampir sama di pelataran rumah para Ibu berkumpul dengan anak-anak yang baru dimandikan asyik bercengkrama menikmati suasana sore yang cerah, anak-anak saling bermain diantara mereka dan para Ibu mengawasinya juga sambil bercengkrama…
Ah Mesjid Al-Muslimun, mesjid besar dan megah yang alhamdulillah selalu makmur oleh jamaah yang melakukan shalat berjamaah, hanya tinggal jalan lurus, beberapa rumah lagi sampailah di rumah. Assalamu’alaikum….kulihat kakak dan Ade berlari menyongsongku. peukan dan ciuman kuterima, Mama…. kata mereka serempak, mama biar Ade yang bawa nggak berat koo.. Adhwa mengambil plastik belanjaanku, dan selanjutnya mereka syik memasukan camilan-camilan itu ke kotak makanan meraka. Kulihat dan kuamati mereka dengan seksama, masih teringat dua pusara kecil yang kulihat tadi, kurangkul keduanya erat

Bahagiakah Engkau ?

Mengenalmu, hatiku sering bertanya dengan jalan cinta yang begitu banyak liku, bahagiakan engkau?.. Namun kulihat binar dalam matamu tiap kali kau menyebut namanya, kulihat nyala harapan saat kau berbicara tentang cara dia mencintaimu dan kulihat keteguhan saat kau berbicara tentang tekadmu untuk bisa memilikinya. Satu sisi kau membuatku terkagum-kagum dengan semuanya, di sisi lain aku bergidik seram melihat kau mengabaikan satu hal. Kita senantiasa dalam penglihatan-Nya, Dia Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha mengetahui, kita tak akan pernah bisa menyelingkuhi dia dalam hal yang sekecil apapun. Bila kita cerdik kita bisa mengelabui seluruh dunia dengan segala tipudaya kita, tapi kita tak akan pernah bisa menghentikan tangan malaikat Rakib dan Atid yang mencatat amal baik dan buruk kita….
Lebih jauh aku mengenalmu aku belajar untuk memahami jalan pemikiranmu, namun sekali lagi kita tiba di persimpangan, saat kau berbicara tentang cinta lugas kau berujar tentang jujur pada diri sendiri, pada rasa yang bergelora di dadamu, pada ingkar yang memalingkah hatimu dari pasanganmu, namun sudahkah kau berani jujur padanya tentang segala yang kau rasakan? Tentang semua rasa yang menguap dan hilang darimu untuknya karena pesona lelaki lain yang jauh lebih menawan bagimu? yang mengisi siang dan malammu dengan mimpi dan harapan-harapan baru? Beranikah kau menatap matanya dan berkata,” Mas, aku sudah tak mencintaimu lagi, karena aku mencintai orang lain?. atau, ” Mas sudah setahun ini aku berselingkuh dengan pria lain saat kau lelah mencari nafkah untukku dan anak-anak kita…”
Sanggupkah engkau?
Atau kau dengan penuh keberanian menampakkan wajahmu yang tegar di hadapan istri lelaki pujaanmu dan mangatakan padanya, ” mbak, menyingkirlah dari hidup suamimu karena aku mencintainya, dan satahun terakhir ini dia telah menjadi milikku, hatinya sebagian dari raganya…, tegakah kau melihat lkelehan air mata kehancuran yang tak hanya menetes dari matanya tapi juga dari hati dan jiwanya yang terluka? itulah… yang tak kumengerti tentangmu, bahagiakan engkau dengan semuanya ini?

Saat Dosa terasa Manis

Aku mengenal dia hanya sebatas di dunia maya. Walau dalam kenyataannya ternyata dia kemudian menjadi terkait dan tersangkut paut denganku, pada akhirnya. Dia seorang wanita muda, seorang istri, seorang ibu dari dua orang anak yang subhanallah, sangat lucu-lucu. Dia juga dianugrahi Allah harta yang cukup hingga mempunyai tiga rumah, dua kendaraan dan entah apalagi, setidaknya hnaya itu yang aku ketahui sampai saat ini. Perkenalan kami sangat tak mengesankan bagiku, bahkan terkesan menyakitkan, hm dia adalah seseorang yang hampir menghancurkan hidup dan kebahagiaan kami karena kehadirannya kembali di tengah-tengah kami. namun sudahlah mengenai hal itu.. cukup Allah dan kami yang tahu.
Namun pada saat berikutnya Allah memperkenankan aku mengenalnya lebih jauh hingga dia leluasa mencurahkan seluruh isi hatinya, kerisauannya juga semua tentang hidupnya. Termasuk tentang jalinan cinta nya dengan seseorang yang bukan suaminya. pada \awalnya memang aku yang bercerita padanya tentang seseorang yang dengan nasihatnya membuat panas dihatiku reda dan mengajariku memaafkan , namun rupanya hal itu memotivasi dia untuk menceritakan rahasia terkelamnya. menurutnya Dia mengenal lelaki ini di tempat dia bekerja, dia adalah seorang eksekutif muda yang berprestasi di usianya yang belum genap 30 th. kata orang cinta tumbuh dalam kebersamaan dan dia pun mengalami hal itu. saat dia merasakan perasaan itu hadir di hatinya dia tak menganggapnya sebagai “godaan” yang harus ditepisnya tetapi dia memandangnya sebagai “anugrah” hingga dibiarkannya rasa itu tumbuh seiring waktu dalam pertemuan demi pertemuan rahasia tanpa sepengetahuan suami atau istri lelaki itu.
Tak ditampiknya sesekali rasa bersalah menghampiri hatinya, saat didapatinya wajah lelah suaminya sepulang bekerja atau wajah istri lelaki itu melalui facebook, namun gelora itu terlalu kuat untuk diredam, kerinduannya telah berubah menjadi sebuah impian, impian untuk menjadi wanita satu-satunya dalam hidup lelaki pujaannya. Namun semua tak sesederhana harapannya, saat ini tak mungkin baginya untuk mewujudkan impiannya dengan segera. karena terlalu banyak hati yang akan tersakiti, suaminya, istri lelaki itu dan mertuanya serta orang tua perempuan yang menjadi istri selingkuahannya. Jadi hari-hari dilaluinya dengan menikmati kebersamaan mereka dalam gelap,bersembunyi dari seluruh dunia, menikmati setiap detiknya dengan rasa cinta yang menggelora di hatinya.
Saat ku mencoba memberikan pendapatku mengenai hal itu dan ketidaksefahamanku dengan jalan yang ditempuhnya dia hanya mengatakan bahwa salah benar adalah proses kehidupan, dan Tuhan tak akan pernah menghakimi hambanya dan dia hanya berharap saat tiba waktunya dia kembali menghadap allah, dia sedang dalamkedaan”benar”. Menurutku diasangat pemberani dan spekulatif mengingat ajal dapat datang kapan saja tanpa peringatan, namun dia nampak begitu tenang jauh dari rasa bersalah. Mungkin begitulah saat dosa terasa begitu manis hingga bayangan neraka pun hanya angin lalu yang tak menyentuh relung hatinya. Atau wajah perempuan lain yang berlinang air mata dan wajah suaminya yang berkeringat dalam lelah hanya menjadi bingkai lusuh penghias relung hatinya tyang hanya berisi tentang impiannya untuk mewujudkan cintanya..

Untukmu yang Selalu Hadir dalam Dukaku

Subhanallah…
Allah selalu punya jalan yang indah
Untuk memandu hamba-Nya menemukan terang
melalui siapa saja yang diridhai-Nya
Begitulah juga denganmu
Saat langkahku letih di ujung asa yang kian hampa
Saat kuterhempas oleh cinta yang hilang
kau datang ingatkanku tentang Kasih yang tak pernah hilang
Tentang kesetiaan Cinta yang tiada tara
Dari Mata air kehidupan yang menciptakan kita
kau pandu ku menelusuri ayat demi ayat-Nya
Yang perlahan memberikan sejuk di relung kalbuku yang kelabu
Hingga tunas harapanku kembali mekar berbunga
Alhamdulillah
Allah mempertemukan aku denganmu
Yang mengajariku untuk memaafkan dan melupakan
Juga melepaskan dendam yang hitamkan hatiku
Kau juga ingatkanku tantang Akhlak Rsulullah
dan keagungan Asma’ul Husna
Hingga tegar kuberdiri
Diantara gelombang dan pasang
Di tengah amuk badai yang mendera
Kau ajariku kembali tersenyum
juga menghargai diri tanpa angkuh
Kau adalah anugrah indah dari Yang Maha indah…
Untukmu yang selalu hadir dalam dukaku
Terimakasih dari lubuk hatiku terdalam
Untuk segala ketulusanmu, menemaniku
Lalui terjal kehidupan di takdirku
Tanamkan keyakinan di hatiku
Allah selalu bersamaku
Untukmu, ku hanya berharap
Semoga Allah selalu menjagamu dengan cinta-Nya
agar banyak hati terjaga dalam kepedihannya
Dalam iman kepada-Nya…

Cinta Itu Hanya Milik-Mu

perih kurasakan bukan hanya di mataku yang terus menerus menangis karenanya, juga di hatiku yang terus menerus bertanya kenapa dia melakukannya. Harga diriku tercampak oleh dustanya, dusta yang begitu kelam menebar gulita di hatiku, merenggut sinar mentari dari kehidupanku. Ingin rasanya kutinggalkan semuanya, semua yang mengingatkanku pada rasa pedih ini. Semua yang membuatku terhempas di dasar rasa hampa yang tak bertepi.
Namun sebersit kesadaran terbit di hatiku,. satu pertanyaan yangterjawab berkat hidayah-Mu, siapa yang menghendaki semua ini terjadi yang menrangkai dan mengurai satu persatu peristiwa dalam hidupku, Engkau… Yang Maha berkehendak atas hidup semua hamba-Mu, mungkin itulah kasih sayang-Mu untuk mengingatkan dan menegurku bahwa engkaulah Alk- Mutakabbir… hanya engkaulah yang pantas sombong. Astaghfirullah.. ampuniku ya ALLAH.
bedersyukur ku pada-Mu atas segala sakit hati ini bila ini membawaku bersimpuh dalam sujud pada-Mu, kembali berharap hanya pada cinta-Mu. Kini cinta itu hanya milik-Mu ya Rabb hingga aku akan belajar mencintai apapun yang Kau beri pada hidupku, karena aku mencintai-Mu
Anakku… Betapa Allah menyayangi Kita
Anakku saat Mama berjalan menuju rumah tadi, di bawah mentari yang sangat terik Mama melihat seorang Ibu sedang berjalan dengan dua orang anaknya. Seorang anaknya berumur kira-kira 9 bulan dalam gendongannya dan seorang anak lagi berumur kira-kira 2 tahun berjalan disampingnya. Kamu tahu Nak, apa yang membuat Mama sedih?, Anak kecil itu berjalan tanpa alas kaki menyusuri jalanan beraspal panas di bawah terik matahari siang. Kakinya tak terlindungi oleh apapun dari kotor, dari panas, dari benda tajam maupu dari kuman penyakit… Namun tiada malas dia berjalan dan berjalan mengikuti langkah Ibu dan adiknya. Tak tega Mama mendahului Ibu itu dan menyapanya Ibu.. kasihan anaknya berjalan tanpa sandal,.. kata Mama ibu itu tak menanggapi apapun mengenai itu dia hanya berterimakasih atas uang sekedarnya yang Mama berikan. Nak.. betapa Mama menyadari kita jauuh lebih beruntung dari mereka, Allah masih memberikan kita tempat berteduh, makanan halal yang sehat dan lezat, sendal dan pakaian untuk melindungi tubuh kita…dan apapun yang kita butuhkan Allah berikan melalui perantaraan Papa. Anakku betapa Allah menyayangi kita, sudah sepatutnya kita mensyukuri segala karunianya dengan menjalankan perintah-Nya menjauhi larangan-Nya serta selalu mengingat-Nya dalam segala keadaan. Kita harus selalu menyadari semua yang kita nikmati tak lepas dari Kemurahan dan kasih sayang-Nya, Alhamdulillahirabbil’alamiin

Bral…

Mangtaun-taun dianti-anti
Gaganti kalangkang nu nembongan
Teu beurang teu peuting
Nyaliara dina hate, teu rengse-rengse
Geus mangsana anjeun miang
Bral…
Tong talangke, tong diengke-engke
Geus wancina beurang diganti ku peuting
Caang diganti ku poek mongkleng
Geura nyingkah tina sagara kaheman
Geuning anjeun teh saukur kalangkang
Nu moal nembongan lamun taya panonpoe…
Bral…
Tong nembongan…
Kuring rek neruskeun lampah kahirupan
Sajatina hurip nu pinuh kanyataan
Dibaturan ku gumebyarna bentang
Nu ngabaturan lengkah kuring neang kabagjan….
Bismillah..

Saatnya Mengucapkan Selamat Tinggal..

Tak pernah mengerti darimana semua berawal
Hingga ku tiba di bawah pelangi yang menawan
Dihujani pesona keindahan diantara cakrawala jingga keemasan
Kau mengajariku hidup mencintai takdir
Menghargai setiap tetes air mata dengan rasa syukur
Memetik hikmah dari setiap cerita pahit kehidupan
Menemukan kembali senyumku yang hilang
Memapahku untuk tetap berdiri
Dan mengingatkanku tentang kehadiran Allah di setiap do’aku
Hingga ku tak merasa sendiri
Hingga ku merasa kuat dihantam badai dan gelombang
Kau selalu datang dengan kelembutan kasih dan ketulusan cinta
Hingga rasa tiba di ambang batas
Saat kusadari begitu banyak kau hadir
Bagitu berarti dirimu dalam hatiku…
Namun tak ada keabadian di alam fana ini
Kurasakan kau semakin menjauh
Semoga inipun jawaban dari do’aku
Untuk segala yang terbaik untukku dan untukmu
Kunanti kau di surga-Nya, ucapmu suatu hari…
Hanya Allah yang Maha menentukan segalanya
Kini bila kau ingin pergi, pergilah…
Saatnya mengucap selamat tinggal
Namun rasa terimakasih tak kan pernah cukup untukmu
Untuk segala warna kehidupan kau beri pada hidupku
Untuk segala benih keimanan kau tebar di hatiku
Salam untukmu
Salam keselamatkan selalu bagimu saudaraku….

Tahukah Engkau ??

Diantara peliknya problemantika kehidupan banyak hal yang luput darimu atau kau telah melupakannya, tahukah engkau
1. Senyummu jauh lebih indah membingkai wajahmu daripada gurat amarahmu
2. Tutur kata lembutmu jauh lebih menyenangkan dari teriakanmu saat kau sedang dilanda emosi
3. Bibirmu lebih pantas menyebut asma Allah saat kau terkejut atau diuji kesabaranmu dengan kedongkolan daripada umpatan panjang dengan penuh kebencian
4. Memaafkan kesalahan orang lain lebih mencerminkan kedewasaanmu daripada menyebut kesalahan orang tersebut
Hatinya Bukan Terbuat dari Batu
Tutur katanya kerap menusuk jantung
Menghujam dalam membuat luka hati
Terkadang meninggalkan rasa benci
Atau sekedar rasa kian tak simpati
Perlahan jalinan rasa kian menjauh
Satu persatu meninggalkan dia sendiri
Tak ada yang mendekatinya dengan kasih
Menegurnya untuk membuatnya tersadar
Semuanya enggan dekat dengannya
Tak mau terkena bisa dari bibirnya
Mereka tak mengerti.
Jauh di lubuk sanubarinya dia kesepian
Dia butuh teman bicara
Seseorang yang mengerti semua tentang dia
Yang memaklumi dia dengan segala kurangnya
Yang menuntunnya kembali menuju jalan benar
Mereka terlupa
Hatinya bukan terbuat dari batu
Dia merindu kasih nan syahdu
Untuk menyentuh kesadarannya
Untuk mengingatkan dia tentang segala khilafnya
Walau tak banyak
Dia juga telah memberi dengan tulus hati
Segala yang dia miliki dalam segala keterbatasannya..
Itulah dia….

Rasanya Aku Mengerti..

Rasanya aku mengerti…
Arti setiap tetesan air matanya
Juga gumpalan resah yang membingkai hatinya
Dan hempasan badai yang porandakan cintanya
Rasa sedih yang setia mengawani harinya sejak hari itu
Juga betapa beratnya mencoba menghilangkan bayangan kelam itu dari mimpinya
Atau sekedar mencari tahu apa yang kurang dari dirinya
Sejuta tanya tiada terjawab, mengapa, mengapa dan mengapa
Setiap kemungkinan jawaban hanya melukai perih itu kian nyeri
Dan diantara rasa terkhianati mencoba memaafkan
Rasanya aku mengerti betapa beratnya
Saudariku sayang…
Allah lebih menyayangi kita
Dan akan memberikan jaminan kebahagiaan kita
Dengan atau tanpa dia….
Hormatku dan kasihku padamu
Wanita shalehah…

Bisikku pada Bayang Masa Lalu

Angin gemerisik di relung hampa hatiku
Bertiup di antara lorong waktu yang panjang
Masih tersisa sebongkah rasa yang membara
Diantara deru waktu dan masa hampir satu dasawarsa
Kau masih bertahta dalam kenangan
Mungkin hanya sesekali manis dalam impian sunyi
Tiada lebih….
Ku tiada ingin mengusik
Hati lain yang mendekap kasihmu
Mengubur semua ingatanmu tentang syal coklat di senja itu
Atau belantara yang terbakar sepanjang jalan
Dan debur ombak dalam hatiku yang bergejolak
Kini hanya riak…
Namun tak ingin lagi kau berada di sana
Bisikku padamu
Menghilanglah dari hatiku selamanya
Dari mimpiku
Dari benakku
Dari pikiranku
Di benua yang jauh dan tak kan teraih lagi
Kuberjanji…
Tak kan kupandangi lagi wajahmu
Walau hanya dalam mimpiku…

Anak Hanyalah Amanah Allah…

Anak, walau dia lahir dari rahim kita
Bukanlah milik kita, walau hanya sehelai rambutnya…
Kehadirannya adalah ujian bagi kita
Agar menjaga, mendidik serta membimbingnya di jalan Allah
Untuk waktu yang kita sendiri tak tahu..
Bisa dia yang mengiringi jasad kita ke liang kubur
Atau kita yang berurai air mata mengiringi jasadnya kekhadirat Illahi
Anak hanyalah amanah-Nya
Namun sebagai manusia sering tersemat rasa tak ingin kehilangan atas nama cinta dan kasih
Sering tiada dapat menerima ketetapan-Nya saat Allah berkenan menjemputnya
Sering dihinggapi rasa memilikinya
Itulah kita…
Tak berdaya mengemban amanah, walau Allah menitipkannya untuk satu alasan
Tak sedikit diantara kita menyia-nyiakan
Membiarkan dia dahaga kasih sayang dan perhatian
Hanya karena tak ingin kehilangan waktu untuk bersenang-senang
Hanya karena menganggap mereka sebagai gangguan…
Namun tiada sedikit juga yang berjuang dengan berbagai cara
Untuk menimang seorang buah hati
Sementara yang lain dengan keji membunuh buah hati yang tumbuh di rahimnya
Ya Rabb itulah kami…
Anak hanyalah amanah Allah
Ada atau tiada kehadirannya dalam hidup kita adalah yang terbaik dalam pengetahuan-Nya
Syukuri dan cintai dengan segenap hati saat dia dititipkan dalam pelukan kita
Dan tetaplah dal;am baiksangka pada-Nya saat dia tiada dalam pelukan kita
Allah Maha Kasih sayang dengan segala Ketetapan-Nya
Insya Allah….

Kidung Sunyi di Hening Malamku

Saat hening kian tak menyisakan bising
saat insan terlelap dibuai mimpi
Kutatap engkau penuh rindu
Kutahu esok atau lusa akhir itu kan tiba
Menusuk rinduku begitu sakit dan perih
Membayangkanmu pergi menjauh
Walau sejak semula aku mengerti
Kau tak akan pernah kumiliki
Namun cinta ini bersemi tanpa kumengerti
Hingga dari ke hari kau kian menghuni hati
Setiap sudutnya berselimutkan do’a untukmu
Berharap kau menemaniku hingga akhir nafas ini
Dan bukanku yang menghantarmu menghadap-Nya
Dalam hening air mata ini kembali bercerita
Saat membelai wajahmu tang terlelap damai
Ya Allah…..
Benahilah hati ini agar senantiasa ridha
Pada apapun kehendak-Mu

Seorang Bocah Lelaki dengan kejora di Matanya

Duduk di depanku
Matanya indah penuh binar
Seumur dengan fauzan kecilku
Tersirat lelah dan hampa
Diantara binar kejoranya
Sesore ini dia baru pulang dari rumah penitipan mewah
Seharga ratusan ribu rupiah setiap bulannya
Menghabiskan waktu dari pagi hingga petang
Hanya dalam pengasuhan seorang pengasuh bayaran
Mungkin tulus mengasihinya
Mungkin juga sebatas tanggungjawabnya atas gajinya
Dia menatapku begitu lekat dan tersenyum
Ada perih mengiris hati
Menerawang hampa dalam dadanya
Saat dia pulang, rumahnya masih terkunci gembok
Ayah bundanya belum pulang
Mengejar limpahan harta
Melupakan harta paling mulia
Buah hati dengan kejora di matanya
Yang semakin lama sinarnya makin redup merindukan kasih…
Bahagiakan ia?

Masih Panjang Langkahmu, Anakku…

Masih terngiang dalamingatan saat kudengar tangis pertamamu
Pertanda kelahiranmu di dunia ini,….
Seorang bayi lelaki yang tampan dan gagah
Dengan kulit merah muda dan rambut coklat
Dan berbobot hampir 3,7 kilogram…
Terengah di ujung lelah, menetes air mata kebahagiaanku
Menghantarkanmu dengan selamat ke dunia ini
Setelah sembilan bulan lamanya kau kujaga di rahimku
Fauzan Dwi Nurruddin…
Kunamai engkau dengan penuh cinta
Doa selalu mengiringi setiap langkahmu tahun demi tahun
hingga kini kau fasih berterimakasih
Pintar membaca do’a sebelum tidur
Dan mengisi hari-hariku dengan ucapan manismu
Mama.. Ade sayang Mama..
Anakku sayang bulan Oktober nanti tepat 3 tahun usiamu
Do’a serta cinta selalu menjadi kado terindah buatmu
Semoga Kau berlimpah kasih sayang-Nya
Ternaungi dari segala marabahaya
Dan senantiasa berada dalam petunjuk-Nya
Anakku sayang…
Masih panjang langkahmu
Kelak kau akan menjadi imam dan mujahid-Nya
Menjadi kebanggaan agama, bangsa serta negaramu
Gigih berjuang menegakan syariat
Istiqamah mengikuti jejak akhlaqul karimah Rasulullah tercinta
Penuh cinta dan kasih pada sesama
Anakku masih panjang langkahmu
Selama itu Mama kan menjajari langkahmu
Berjaga dengan cinta dan do’a
hingga kau tegap berdiri di atas kakimu sendiri
Mapan dalam keyakinanmu akan kebenaran-Nya
Anakku sayang, Selamat ulang tahun…
Mama selalu disisimu, hingga nafas terakhirku…insya Allah

Ingatkan Hatiku

Rabb ingatkan hatiku
Agar dia tak sombung dan angkuh
Berkubang dalam dosa yang manis
Larut dalam keliru yang indah
Hanyut dalam salah yang membuai
Hanya karena ku terlupa
Kau Maha Melihat
Kau Maha Mendengar
Kau Maha Mengetahui
Dan aku akan kembali pada-Mu
Untuk mempertanggungjawabkan segalanya
Esok atau nanti..
Rabb ingatkan hatiku
Aku akan mati
dan tak akan bisa lari dari pengadilan-Mu

Dia Tak pernah Tahu

Sekian malam kuhabiskan dengan air mata
Dalam peluk rindu pada kasihnya
Dalam getar do’a yang panjang pada-Nya
Dalam cinta yang selalu lembut untuknya
Dia tak pernah tahu
Malam dan siang kulalui dalam hampa
Saat dia menghilang dan terbang
Mengapak pelangi indahnya
Meninggaklan sekuntum mawar layu terkulai
Dia tak pernah tahu, dalam tiadanya mawar itu akan mati
Dan dia tak kan dapat menikmati indah atau harumnya
Hingga akhir hidupnya
Dia tak pernah tahu
Semuanya tak lagi sama sesudahnya

Nasihat Untuk Hatiku

Wahai hati bersihkan debu di wajahmu
Agar beningmu tak menjadi keruh
Saat Allah menjagamu dari segala dosa
Terima takdir-Nya dengan suka cita
Walau sakit saat harapmu tiada terjawab
Walau perih saat impianmu tak menjadi nyata
Semua semata untuk kebaikanmu
Bukan hanya dalam fana dunia ini
Juga untuk bahagiamu di akhirat kelak
Hentikan buruksangkmu pada-Nya
Walau kau belum memahami semua keinginan-Nya
Tetap bertahan dalam iman
Allah selalu menjagamu dengan penuh kasih sayang
Wahai hati
Menjauhlah dari segala yang bukan hakmu
Dan jadilah hati yang cantik..
Yang pandai menjaga dirinya
Dari menyakiti hati yang lain….

Satu di antara Seribu

Kau hadir memberi makna pada jiwa
Menggoreskan asa pada hari-hariku
Mengukir senyum diantara sedu sedan
Mengusap lembut lukaku hingga menghilang
Namun tiada pernah
Hatiku ternodai dusta
Pada apapun yang dia risaukan
Ku hanyabahagia
memiliki jiwa yang mengerti hatiku
Tanpa harus kubercerita tentangnya
Satu diantara seribu,
itulah dirimu
Yang kini tinggalkan lorong gelap hampa
Saat kau menjauh atas nama cinta
Aku mengenangmu dengan keindahan
Selamat tinggal sahabatku…..

Pintu Yang Selalu Terbuka…

Saat jengah dengan pekanya dosa
Saat lelah menjamah setiap jengkal maksiat
Saat jerit hati kian tak terelakkan untuk kembali
Saat kotor jiwa dan hati terlumuri noda
Pulanglah….
Satu pintu selalu terbuka
Menanti pulangnya setiap jiwa
Yang ingin kembali meraih damai
Yang ingin memeluk kembali bening hati
Yang lama hilang dalam pusaran waktu
yang tersia sekian lamanya
Pulanglah jelang pintu itu
Masukilah tanpa ragu
Ada kasih sayang dan ampunan menantimu
Dan janji untuk kembali suci
Setelah derai-demi derai air mata menandai sesalmu
Setelah janjimu terpatri untuk tak kembali
Setelah mantap kau kunci kisah kelam dosa demi dosa
di sanalah Dia menanti…
Dengan kasih Sayang dan ampunan-Nya
Selagi nafasmu masih ada pintu itu kan selalu terbuka
Selagi jiwamu masih di raga
Pintu itu pun selalu menantimu
Jelanglah ia sebelum tertutup selamanya
Saat mata dan bibirmu terkatum di peluk bumi
Dan tertutup jalanmu untuk kembali….

Terbanglah Merpatiku

Angkasa luas membentang
Rindukah engkau jelajahi birunya?
Inginkah engkau menembus putihnya awan
Mengepakkan sayap kecilmu melintas batas cakrawala?
Tinggalkanlah sarang kecilmu di rimbunnya daun dan pergillah
Semoga bebas kau mengecap indahnya dunia
Memaknai bahagiamu sendiri
Terbanglah merpatiku ke manapun kau mau…

Selubung Hitam pada Putih Cintamu

Bukan cinta yang salah
Bila hatimu terpaut padanya
Seseorang yang telah terikat janji Illahi
Namun tak harus kau biarkan dirimu hanyut
Dalam pusaran nafsu yang penuh kemelut
Hingga kau harus menghianati dia dan dia
Hingga kau harus mendustakan dia dan dia
Bukan cinta yang salah
Bila kau dan dia dipertemukan saat telah berdua
Namun bukan berarti bebas kau terbawa arus
Menghalalkan yang bukan hakmu
Memberikan yang bukan haknya
Dalam bahagiamu tersirat dosa
Saat Allah tak ridha dengan semuanya
Bukan cinta yang salah
Bila kau dan dia saling mendamba
Dalam harap yang tak pernah terjawab
Karena ada hati yang terluka
Saat cintamu dan cintanya menjadi nyata
Di atas derai tangis penuh luka berairmata….
Suatu saat nanti Allah kan membuka selubung hitam pada putih hatimu
Bila kau membiarkan cahaya-Nya tetap pijar di hatimu…

Do’a Dua Perempuan

Pada malam yang sama
Saat insan dibuai mimpinya
Dan rembulan berjaga di langit kelam
Dua orang perempuan berdo’a
Satu perempuan memejamkan mata
Dengan urai air mata penuh kepedihan
Cintanya hampir terlepas dari genggaman
Kekasihnya telah berpaling hati
Ikatan janji sucinya hampi terlerai
Dia bertahan diantara gelombang dan pasang
Berharap pada Allah, kekasihnya akan pulang untuknya
Kembali mengayuh bahteranya yang layarnya mulai koyak..
Walau remuk redam hatinya oleh cinta yang ternoda
Perempuan yang lain memejamkan mata
Gamang mengganggu hati dan pikirannya
Cinta indah itu tak bisa direngkuhnya seutuhnya
Karena dia masih selalu berada di luar pagar
Ingin memberikan seluruh jiwaraganya
Namun murka Tuhan menghadang kemesraan mereka
Kekasihnya masih terikat janji dengan hati yang lain
Hati yang tak pernah ingin melepas cinta itu untuknya
Dia memohon pada Allah
Agar dia bisa bersatu dengan kekasihnya
Kekasih yang menjadi tautan hati perempuan lain yangkini tersiksa hatinya
Dua perempuan
Berdo’a di malam buta
Dengan berurai air mata
Untuk lelaki yang sama
Do’a siapa yang kelak di dengar-Nya Wallahu’alam
Semoga semua mendapatkan kebahagiaan
Di dunia ini atau di akhirat kelak…

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: